Sorot

Pesan Sepeda Bencong

Kehadiran Irfan mampu menghibur sekaligus menyentil siapa-siapa saja dari mereka yang mau berpikir sedikit keras dan cerdas

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun 

DI tengah kegaduhan politik yang mencuatkan nama Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli, Pengamat politik Profesor Tjipta Lesmana, dan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), muncul sosok seorang bocah Irfan Hakim. Siapa dia? Apa hubungannya?

Memang tak ada hubungannya antara si bocah dan ketiga pesohor negeri yang disebutkan itu. Namun, kehadiran Irfan mampu menghibur sekaligus menyentil siapa-siapa saja dari mereka yang mau berpikir sedikit keras dan cerdas atas perilaku spontan seorang bocah berusia 11 tahun tersebut.

Tak ada yang memungkiri, Irfan berani (tanpa dan tak perlu disertai kata gagah di depan kata berani) menolak pemberian orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Peristiwa itu terjadi dalam sebuah acara di Pontianak, Sabtu (22/8/2015), saat Presiden melontarkan pertanyaan yang berhadiah sepeda dan Irfan berhasil menjawabnya. Namun, bocah kelas IV SD itu spontan menolak hadiah sepeda itu lantaran berwarna merah jambu.

"Ndak mau, itu sepeda bencong," ujar Irfan dengan lantang yang disambut riuh tawa hadirin, termasuk Jokowi yang sempat kaget tapi ikut tertawa mendengar jawaban spontan begitu. Ketegasan Irfan menolak hadiah sepeda yang dari bentuk dan model memang peruntukannya untuk wanita itu dinilai Jokowi sebagai bentuk ketegasan dari seorang anak.

Sepeda bencong memang terdengar lucu, menggelikan, dan sepintas membuat tertawa orang yang mendengarnya. Tapi pada satu sisi, tercium aroma tak sedap yang mengirim pesan merendahkan kepada individu tertentu karena keanggotaan suatu kelompok.

Hal seperti ini disebut microaggression (Mag), istilah baru yang diperkenalkan psikiater Harvard University, Chester M Pierce pada 1970. Disadari atau tidak disadari, ucapan sepeda bencong mungkin menyakiti mereka dari suatu kalangan tertentu. Namun karena dikemukakan seorang anak kelas IV SD, lantas apa mau dimarahi atau dijewer si bocah ini?

Sangat terasa, jika apa yang sudah tertanam di benak murid SD dengan wajah tak berdosa, polos, dan jujur ini, penanaman hasutan kepada orang banyak yang biasanya dilakukan oleh tokoh atau aktivis partai politik pada satu kelompok minoritas.

Istilah Mag dikenal sejak 1970 di Amerika, terutama mereka yang secara tidak sadar membuat golongan minoritas merasa di-bully atau dimarjinalkan dalam masyarakat. Mag di Amerika timbul akibat gesekan rasial. Dan dikutip dari Wikipedia, Mag lebih banyak terjadi pada golongan Afro-American dan Hispanic. Mag memang terjadi secara halus, namun menyakitkan bagi kaum minoritas yang dituju.

Selingan ungkapan sepeda bencong sempat menghibur beberapa jenak isi pikiran dan perasaan dari para pemangku jabatan, pemimpin negeri ini untuk sekadar melupakan ketegangan atas kegaduhan yang tengah terjadi.

Mag di Indonesia sepertinya belum menjadi keprihatinan pihak berwenang. Apalagi dalam hal ini dalam kurikulum formal di sekolah.

Cerminan atas apa yang dikemukakan Irfan harusnya bisa menjadi perhatian khusus. Mengingat, terjadi dalam sebuah acara resmi dan langsung bersentuhan dengan pemimpin negara.

Peristiwa ini baru hal kecil yang mungkin bagi sebagian orang sepele. Perlu digarisbawahi, dalam keseharian, ada beragam Mag yang kian tertanamkan dan terekam secara tidak sadar oleh banyak generasi bangsa.

Jangan anggap sepele Mag pada anak. Ungkapan bencong yang diucapkan Irfan, betapa orang tua atau lingkungan sekitarnya bisa membentuk Mag sejak dini. Bisa jadi, orang tua atau lingkungan sekitar menyebut kata bencong sebagai warna pink itu adalah lucu. (*)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (25/8/2015). Ikuti berita-berita menarik serta perbaharui informasi Anda melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

//

#AksiBejad #Pengangguran #DudaASTAGA !!! PENGAKUAN SEORANG PENGANGGURAN INI SUNGGUH BIADAB.---->http://bit.ly/1gNfiouPelaku memaksa korban untuk melakukan...

Posted by Tribun Jabar Online on Monday, August 24, 2015
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved