Breaking News

Teras

Ajip Rosidi

LELAKI berkemeja batik berusia 77 tahun itu berdiri di panggung menyampaikan pidato kurang lebih 45 menit.

Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar 

LELAKI berkemeja batik berusia 77 tahun itu berdiri di panggung menyampaikan pidato kurang lebih 45 menit. Di depannya, hadirin duduk menyimak.

Deretan paling depan antara lain aktivis dan pemikir legendaris Rahman Toleng, mantan menteri koperasi Adi Sasono, pengusaha minyak Arifin Panigoro, penyair Taufik Ismail, aktor dan bintang iklan Deddy Mizwar.

Selebihnya para pengarang, penyair, penulis, pelukis, mahasiswa, penggiat budaya, kolega, dan kerabat pribumi.

Hari itu, Sabtu, 15 Agustus 2015. Dibalut cuaca cerah Ajip Rosidi meresmikan perpustakaannya dan terbuka untuk umum. Bukan oleh Wakil Gubernur, yang hadir saat itu, melainkan oleh seorang anak jalanan. Lalu diakhiri oleh sambutan Ajip Rosidi. Seperti biasa, Kang Ajip selalu bicara dengan passion.

Turun dari panggung Kang Ajip mengajak para tamu mengelilingi gedung perpustakaan yang memiliki tiga lantai itu.

Dibantu juru bicara, ia perkenalkan karikatur wajah-wajah orang Sunda yang dianggap memiliki karier dan prestasi di bidangnya masing-masing. Pelukis yang membuat karikatur pun semuanya orang Sunda. Budi Riyanto, Ayi Saca, Leo, Suryadi, dan Taufan. Lalu naik ke lantai dua, ia perlihatkan koleksi bukunya yang didominasi buku-buku tentang Sunda, baik dalam bahasa Indonesia, Sunda, Inggris, maupun Belanda.

Kang Ajip mengajak lagi para tamunya naik ke lantai tiga. Terpampang lukisan karya para pelukis yang semuanya, lagi-lagi, orang Sunda. Ada lukisan karya Tisna Sanjaya, Zico, Nana Banna, Rosid, Abay, Herry Dim, dan Asep Suradi.

Di lantai inilah Kang Ajip tersendat langkahnya. Kelelahan. Wajahnya pias. Para tamu geumpeur dan segera membawa Kang Ajip ke sebuah kamar.

Tamu di lantai satu, yang mendengar kabar itu, antre ke atas, satu per satu mengunjungi dengan perasaan khawatir. Kang Ajip yang ngalungsar menyambut para tamunya dengan bercerita dan tersenyum. Ada gurat letih, tapi ia seakan ingin menyingkirknnya.

Seminggu kemudian, Sabtu, 22 Agustus 2015, di tempat yang sama, Jalan Garut Nomor 2, Bandung, Kang Ajip berdiri di panggung yang sama dengan panggung seminggu sebelumnya.

Kali ini duduk paling depan adalah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Seperti biasa, pidato pejabat selalu kehilangan magnet.

Sedikit kejutan mungkin Gubernur Jabar yang menyampaikan pidato dalam bahasa Sunda dan mengaku menulis sendiri pidatonya. Bisa dirasakan spontanitasnya.

Pak Menteri, yang usianya masih sangat muda dan sebelumnya diramalkan jadi ikon reformasi di pemerintahan— kebetulan ia menjabat menteri yang menangani reformasi birokrasi — ternyata dalam gaya dan kebiasaan berpidato melanggengkan kebiasaan lama.

Berbeda dengan Gubernur yang bangga membuat teks pidato sendiri, Pak Menteri bangga dengan teks pidato yang dibuatkan stafnya sehingga ia merasa wajib membacakannya. Bukankah ini kebiasaan lama?

Berbeda pula dengan Gubernur yang mengaku nekat berpidato dalam bahasa Sunda, Pak Menteri berpidato dalam bahasa Indonesia yang kaku. Lebih membingungkan, pidatonya itu mengaitkan dengan konteks merayakan 17 Agustus.

Tentu Pak Menteri menyadari sedang berdiri dalam konteks acara penyerahan Hadiah Sastra Rancage.Tapi karena gelap mengenai apa itu Hadiah Sastra Rancage, baik aspek filosofis, sosiologis maupun historisnya, isi pidato pun tidak nyambung dengan konteks acara. Tapi mungkin karena perlu panggung, ia percaya diri berdiri di depan khalayak yang didominasi seniman dan penulis, yang umumnya kritis dan malas mendengar pidato yang sifatnya official. Saya pun tak sanggup menyimak hingga tuntas.

Langkah Hadiah Rancage menginjak ke-27. Saya mengikutinya sejak yang kedua, 1990, di Perpustakaan Gedung Merdeka. Kecuali yang di Bali dan Surabaya, saya selalu hadir.

Tidak banyak penyelenggaraan hadiah sastra yang staminanya cukup panjang hingga seperempat abad, dengan pemenang berjumlah banyak serta melibatkan banyak juri.

Diselenggarakan berkeliling dari kampus ke kampus, dari kota ke kota, atas usaha dan inisiatif pribadi, dengan dukungan mereka yang bisa memahami visi Kang Ajip. Kalaupun ada sokongan, atas ikhtiar panitia yang cukup melelahkan.

Kalau bukan karena kanyaah, tentu akan berpikir betapa besar uang dan energi yang terkuras demi sesuatu yang dianggap orang ada di awang-awang, tidak konkret, tidak realistis, jauh dari urusan perut, apalagi bisa menghasilkan kursi jabatan empuk.Tak mustahil orang bertanya, sebetulnya Kang Ajip ini nyaah kepada siapa dan kepada apa? Orang mungkin akan menganggap Kang Ajip hanya menyia-nyiakan waktu, usia, dan uang. Atau juga setua itu masih mengejar pencitraan.

Itulah yang tak teraba oleh banyak orang sehingga tidak banyak orang yang menganggap penting apa yang dilakukan oleh Kang Ajip, sekalipun sekadar hadir.

Bisa saja menganggap perpustakaan yang mentereng dan hadiah sastra yang mengobral uang itu sebagai kebutuhan Ajip dalam mengukuhkan citranya.

Tapi buat apa? Bukankah kebutuhan pencitraan selalu terkait dengan tujuan politis, terutama jabatan?

Kalau mau diendus sebagai politik sastra, bukankah nama Ajip Rosidi sudah mengorbit dalam jagat sastra nasional, bahkan internasional?

Jelas tidak relevan jika kebutuhan pencitraan disematkan pada Kang Ajip.

Ide dasarnya pun sering keliru dipahami.

Kegigihannya dalam memperjuangkan kebudayaan Sunda, jika menyimak esai-esainya dan reaksi dingin sikap pemerintah, baik pusat maupun daerah, barangkali dipandang sebagai pengusung tribalisme.

Berkat keberhasilan Pemerintah Orde Baru mengeramatkan NKRI tanpa menyelami jiwa kebudayaan, akhirnya gagasan Ajip Rosidi tentang pentingnya bahasa daerah dicurigai sebagai pengganggu, kalau bukan dianggap ancaman.

Celakanya, mitos itu terwariskan hingga kini. Meskipun dalam konstitusi jelas ada rengkol-nya, kebijakan bahasa daerah dalam pendidikan layaknya anak jadah. Ditendang dari kurikulum 2013. Tak tebersit sedikit pun gagasan-gagasan kebudayaan Kang Ajip itu bermaksud menempatkan kebudayaan dan bahasa Sunda sebagai superioritas di antara kebudayaan dan bahasa yang hidup di Indonesia. Hadiah Sastra Rancage adalah buktinya. Setelah Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung, kali ini sastra Batak ia peluk. Para penulis dan juri dari Jawa, Bali, Lampung, dan Batak tetap merasa sebagai Indonesia.

Inti dasar gagasan Ajip, kekayaan batin bangsa Indonesia yang terungkap lewat bahasa ibunya layak terwariskan ke anak-cucu.Tanpa tulisan, kekayaan batin akan gelap dan lenyap.Seanggun dan segagah Candi Bodobudur pun, jika tanpa tulisan, kita tak pernah bisa tahu persis asal-usul nama Borobudur.Tanpa tulisan Plato dan Aristoteles, manusia modern tak akan pernah tahu pikiran Sokrates dan barangkali kebudayaan barat senasib dengan kebudayaan timur.

Persputakaan Ajip Rosidi dan Hadiah Sastra Rancage, hadiah kebudayaan bagi masyarakat luas, terutama khususnya orang Sunda.

Tapi pertanyaan yang layak dikemukakan, siapa orang Sunda yang mempunyai passion sekokoh dan setangguh Ajip Rosidi dalam mengartikulasikan kebudayaan Sunda dan bahasa daerah di Indonesia? Uang bisa dicari. Bedas-nya visi, semangat, dan energi sungguh sulit dan tak bisa simsalabim.

Berdiri di Jalan Garut menatap gedung perpustakaan, lalu melihat antusiasme dan kegembiraan pengarang sastra daerah menerima Hadiah Sastra Rancage, saya malah seperti berdiri di tepi jurang. Lewang. (*)

Naskah Teras ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (24/8/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.  

DUH.. HANYA GARA-GARA MENGAWAL PENGANTIN DI KOTA BANDUNG, TIGA MOBIL POLISI NEKAT MELAWAN ARUS.---->...

Posted by Tribun Jabar Online on Sunday, August 23, 2015
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved