SOROT
Belajar dari Gunung
Mendaki gunung bukan cuma persoalan mendaki lalu mencapai puncak, setelah itu pulang. Tapi lebih jauh dari itu, tentang keselamatan jiwa.
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Kisdiantoro
Oleh Machmud Mubarok
Wartawan Tribun
MUSIM liburan sekolah atau kuliah dan jelang peringatan HUT RI 17 Agustus biasanya seiring dengan ramainya pendakian ke gunung. Mereka, para pendaki itu, mungkin ingin merayakan kemerdekaan di puncak-puncak dan lembah-lembah gunung, merasakan kemerdekaan menyatu dengan alam.
Tapi bisa dibilang, euforia mendaki gunung menjadi booming setelah muncul film 5 Cm. Film yang mengisahkan anak-anak muda yang naik Gunung Semeru karena ingin membuktikan kekuatan tekad mereka. Film itu juga menggambarkan keindahan alam Ranu Kumbolo dan puncak Semeru.
Sejak saat itu, rombongan anak-anak muda yang ingin mendaki Semeru mengalir bak air, tak kenal henti. Di musim apapun, selalu ada pendakian ke Puncak Mahameru itu. Tak peduli adanya larangan, bahwa pendaki hanya bisa sampai kawasan Kalimati, tak bisa ke puncak.
Namun larangan tinggal larangan. Puncak yang tak seberapa jauh lagi, seakan melambai-lambai menyedot keinginan para pendaki untuk melanggar aturan dan larangan demi menuju puncak.
Begitulah, rombongan demi rombongan pendaki meninggalkan jejak di seluruh tubuh Semeru, dan meninggalkan sampah yang menggunung di tepi Ranu Kumbolo.
Hal yang kemudian perlu menjadi perhatian adalah bagaimana sesungguhnya menjadi seorang pendaki gunung. Memang mendaki gunung itu tidak sulit. Asal punya kemampuan fisik dan mental, bisa saja sampai ke puncak. Tapi bukan itu persoalan utamanya. Banyak para pendaki pasca film 5 Cm yang mendaki tanpa ilmu dan pengetahuan. Itulah sejatinya bahaya yang mengintai.
Mendaki gunung bukan cuma persoalan mendaki lalu mencapai puncak, setelah itu pulang. Tapi lebih jauh dari itu, tentang keselamatan jiwa.
Mendaki gunung tidak bisa disamakan dengan berjalan-jalan. Butuh ilmu dan pengetahuan yang cukup, agar perjalanan selama pendakian dan pulang, benar-benar aman. Ilmu medan peta kompas dan ilmu bertahan hidup di alam bebas hanyalah ilmu-ilmu dasar yang wajib dimiliki mereka yang ingin mendaki gunung.
Mengapa dibutuhkan berbagai pengetahuan dan keterampilan untuk mendaki gunung? Karena kita tidak pernah tahu kehendak alam. Pagi hari, cuaca di gunung terlihat cerah, sangat mungkin dalam hitungan jam, cuaca berubah menjadi ekstrem. Siapa yang bisa menjamin kita tidak tersesat di tengah perjalanan? Karena itulah persiapan sungguh-sungguh jelas sangat diperlukan apabila hendak mendaki gunung.
Tentu kita berduka dengan peristiwa hilangnya pendaki, bahkan tewasnya pendaki, saat menjajal tanjakan menuju Puncak Semeru. Banyak faktor penyebab seseorang hilang atau mengalami kecelakaan di gunung. Faktor alam, human error, beberapa di antaranya. Tapi akan lebih baik, jika kita benar-benar mempertimbangkan secara matang, apakah kita harus naik gunung? Apakah kita harus terus lanjut ke puncak gunung? Sadarilah kekuatan diri sendiri. Jangan memaksakan diri.
Jangan lupa, gunung mengajarkan kita tentang kehidupan, tentang sebuah perjuangan, tentang sebuah tekad mental baja. Tapi gunung pun mengajarkan kepada kita bahwa kematian itu dekat. (*)