Sorot
Drum Nekat dan Jaring Kemerdekaan
MEMBERI gincu pada isu-isu yang sudah seksi memang selalu menarik.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
MEMBERI gincu pada isu-isu yang sudah seksi memang selalu menarik.
Seperti kekeringan yang mengakibatkan gagal panen yang berimbas pada kewaspadaan merangkaknya harga beras, atau demo pedagang daging sapi yang membuat pedagang bakso, abon, kelimpungan kesulitan mendapatkan bahan baku.
Atau isu pemilihan calon kepala daerah yang berkutat pada peraturan yang semakin membuat kening warga semakin berkerut.
Berkerut karena bingung atau sama sekali tak paham dengan peraturan teranyar yang baru saja terbit lalu direvisi.
Setiap hari sepertinya pembahasannya tak pernah selesai dan selalu ada hal baru yang menuntut penyelesaian secara komprehensif.
Di tengah berbagai permasalahan, awal pekan bulan kemerdekaan mulai terasa.
Sedikit menjadi kebiasaan atau luput dari perhatian mereka yang sibuk dengan isu seksi, banyak di antara semangat untuk merayakan kemerdekaan di bulan Agustus ini diisi dengan berbagai kegiatan.
Satu di antaranya dan yang paling terlihat adalah munculnya drum-drum bekas di tengah jalan atau kursi-kursi dengan beberapa pemuda pemudi membawa jaring bergagang kayu, bukan berisi ikan tapi uang recehan.
Tidak melihat apakah jalan itu jalan nasional yang dilintasi kendaraan besar dan cepat, atau di gang kecil yang hanya dilewati orang saja, mereka langsung menggelar drum atau kursi.
Tujuannya untuk memperlambat laju kendaraan agar bisa menyumbang kegiatan perayaan kemerdekaan yang akan mereka laksanakan.
Biasanya perayaan akan berlangsung akhir bulan dengan diawali sejumlah perlombaan di hari H perayaan kemerdekaan.
Biasanya tidak berlangsung satu hari, perlombaan akan berlangsung beberapa hari dan diakhiri dengan malam puncak yang disebut malam resepsi.
Meminta sumbangan tidak cukup menggelar drum, beberapa orang lain memasang pengeras suara dan memberi komando atau berterima kasih kepada orang-orang yang telah menyumbang.
Kebiasaan turun ke jalan untuk mencari dana untuk merayakan kemerdekaan ini juga telah melahirkan adanya manusia silver.
Manusia yang dicat perak ini dalam waktu ke belakang tidak hanya beroperasi saat perayaan kemerdekaan saja, akan tetapi aksi mereka dulu berkelanjutan dengan tetap beroperasi di perempatan jalan.
Satu hal yang pasti dilupakan para pemuda pemudi ini mungkin masalah keselamatan. Berada di tengah jalan atau pinggir jalan dengan arus lalulintas cukup ramai, mereka seakan mengabaikan hal tersebut.
Banyak di antara mereka yang baru pertama kali terjun meminta sumbangan untuk kemerdekaan, beberapa di antaranya mengaku sudah beberapa kali terjun. Usia mereka rata-rata masih bersekolah SMP, SMA, dan kuliah.
Tidak ada dana untuk memeriahkan kemerdekaan. Hal itu yang memaksa pemuda pemudi ini meminta sumbangan di jalan. Fenomena ini hampir merata terjadi di seluruh pelosok Jabar.
Setiap tahun selalu muncul. Menjelang atau di awal pekan Agustus, untuk memeriahkan kemerdekaan para penerus bangsa ini meminta sumbangan.
Termasuk dengan cara nekat berdiri di tengah jalan, berlari saat uang kertas terbang, atau membungkuk ketika uang receh terjatuh seperti terlupa ia sedang berada di tengah jalan.
Mengabaikan keselamatan tentu bukan keinginan awal dari para penerus bangsa ini.
Mereka hanya ingin ikut ambil bagian dalam memeriahkan kemerdekaan di daerah masing-masing tanpa membebani siapapun, kendati mungkin dengan cara yang sedikit nekat. (*)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (5/8/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
#TribunHealthPELISSS !!! MULAI SEKARANG JANGAN LAGI ASAL-ASALAN DALAM MENGOBATI JERAWAT YA !---->http://bit.ly/1SV82moBagi sebagian orang, terutama perempuan, jerawat-jerawat nakal mampu
Posted by Tribun Jabar Online on Monday, August 3, 2015
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ferri-amiril-mukminin-wartawan-tribun-baru_20150616_132528.jpg)