Sorot
Hilal
HILAL juga merupakan bagian dari fase - fase bulan.
Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
HILAL adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam.
Demikian wikipedia memaparkan perihal hilal yang biasanya diamati pada hari ke-29 dari bulan Islam untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum.
Hilal juga merupakan bagian dari fase - fase bulan. Penentuan hilal bulan syawal adalah salah satu aktivitas penting yang dilakukan lembaga hisab untuk menentukan hari terakhir bulan Ramadan.
Hal ini akan menentukan kapan ummat muslim terakhir berpuasa dan merayakan Idulfitri.
Metode penentuan hilal yang biasa dilakukan ada dua macam yakni metode Rukyat dan Hisab.
Rukyat merupakan metoda pandangan mata, sedangkan hisab merupakan metoda perhitungan matematik astronomi yang biasanya dilakukan oleh Muhammadiyah.
Di Indonesia, perbedaan hari raya Idulfitri sudah beberapa kali terjadi, tetapi tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Penetapan Lebaran atau Idulfitri 2015 berpotensi berbeda antara organisasi kemasyarakatan Islam yang satu dan lainnya maupun dengan pemerintah.
Hal itu disebabkan perbedaan dalam menetapkan 1 Syawal 1436 H yang merupakan hari raya Idulfitri setelah berakhirnya bulan Ramadan.
Sementara, Muhammadiyah telah memutuskan bahwa 1 Syawal 1436 H jatuh pada Jumat (17/7/2015). Dengan demikian, menurut Muhammadiyah, bulan Ramadan tahun ini hanya 29 hari.
Lain halnya dengan Nahdatul Ulama (NU). Seperti biasanya, mendasarkan penetapan 1 Syawal pada rukyatul hilal.
Meski di dalam penanggalan NU berdasar hitungan 1 Syawal 1436 H jatuh pada 17 Juli, tidak serta merta tanggal itu ditetapkan sebagai hari raya Idulfitri.
Artinya, tidak tertutup kemungkinan NU menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari jika tim rukyat yang disebar di sejumlah daerah tidak berhasil melihat hilal.
Meski tak lagi menentukan, tim pengamat hilal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama staf Kementerian Agama tetap mengamati hilal di 16 lokasi di Indonesia.
"Itu untuk mendapat data bentuk, posisi, dan waktu hilal teramati serta faktor lain yang memengaruhi keteramatan hilal," kata peneliti hilal di Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rukman Nugraha dikutip dari kompas.com, Kamis (18/6/ 2015).
Menyikapi ada potensi perbedaan Idulfitri dan perbedaan Iduladha, Kepala Lapan yang juga anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Thomas Djamaluddin mengajak umat Islam bercita-cita besar punya kalender Islam yang mapan, yang tak hanya untuk keperluan ibadah, tetapi juga untuk keperluan administrasi sipil.
Menurut pengalaman kalender Masehi, syarat mewujudkan kalender tunggal Islam ialah ada otoritas tunggal yang menjaga, kriteria yang disepakati bersama, dan batas wilayah jelas.
Kembali ke masalah hilal sebagai penentu kapan umat muslim merayakan Hari Raya Idulfitri yang akrab disebut Lebaran, sesungguhnya harus menjadi hari kemenangan seutuhnya.
Kemenangan yang tidak lagi dengan komunikasi publik penuh kekerasan dan ancaman.
Namun dengan jalan ijtihad, memberi daya hidup religiusitas lewat jalan tafsir multi dimensi penuh toleransi yang memberi ruang pertanyaan, perbedaan, dan adopsi. (*)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (15/7/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @twitter dan fan page facebook: tribunjabaronline.
//TERNYATA SELAIN LAILATUL QADAR DAN AMALAN LAINNYA.. ADA MUKJIZAT DIBALIK PUASA RAMADAN ITU.. BACA...
Posted by Tribun Jabar Online on Monday, July 13, 2015
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dicky-fadiar-djuhud-versi-lebar_20150619_144531.jpg)