Sorot

- Doel -

Seperti Ebiet dan Iwan Fals, Doel Sumbang memiliki penggemar fanatik yang jumlahnya membuat ngiler partai-partai politik.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun Jabar. 

NAMA lengkapnya Abdul Wahyu Affandi. Namun orang lebih mengenalnya sebagai Doel Sumbang. Walaupun di belakang namanya ada kata sumbang, lelaki yang lahir di Bandung 16 Mei 1963 ini bersuara merdu. Embel-embel Sumbang di belakang namanya dikaitkan dengan lagu-lagunya yang nyeleneh, vulgar, dan tengil. Untuk membuktikan dia tidak bersuara sumbang, dengarkan lagunya yang terkenal seperti Kalau Bulan Bisa Ngomong, Aku Cinta Kamu, dan Rindu Aku Rindu Kamu, atau sederet lagunya yang berbahasa Sunda, seperti Ema dan Pangandaran.

Sebagai seorang seniman, Doel Sumbang bahkan kerap disejajarkan dengan Ebiet G Ade dan Iwan Fals. Seperti Ebiet dan Iwan Fals, Doel Sumbang memiliki penggemar fanatik yang jumlahnya membuat ngiler partai-partai politik. Seperti Iwan Fals, nama Doel Sumbang selalu disebut-sebut (kalau tidak mau dikatakan diperebutkan) oleh banyak partai atau tokoh yang sedang mengincar jabatan gubernur, wali kota, dan bupati.

Nah, menjelang Pilkada Kabupaten Bandung, nama Doel Sumbang kembali banyak disebut orang, maksudnya disebut orang partai. Doel sendiri mengaku sudah dihubungi sekaligus ditawari beberapa partai untuk dijadikan calon Bupati atau Wakil bupati Kabupaten Bantung.

Namun Doel yang mengaku tidak asing dengan dunia politik ini, masih belum memberi jawaban atas tawaran dari partai-partai yang akan meminangnya itu. Doel tentu sedang berhitung dan Doel juga bukan antipolitik. Buktinya Doel yang bersuara tidak sumbang ini, seperti ditulis Tribun (7/7), mengaku sedang berkonsentrasi mendukung seseorang yang akan maju ke arena Pilkada Kabupaten Bandung yang bakal digelar 9 September mendatang.

Sebagaimana artis lainnya, alasan utama Doel diminati partai atau siapa saja yang ingin didampingi untuk mengincar jabatan Bupati Kabupaten Bandung, karena dia punya kemampuan mendulang suara yang banyak. Perihal pengalaman politik atau kemampuan memimpin sebuah pemerintahan, boleh jadi menjadi alasan nomor sekian. Walaupun belum tentu seorang artis, termasuk Doel Sumbang, tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin.

Pada posisi ini, Kang Doel Sumbang memang harus menimbang-nimbang sebelum dipinang partai atau maju sendiri di jalur independen untuk jadi Bupati Bandung. Karena sangat mungkin Doel disodorkan hanya untuk mendulang suara banyak yang dibutuhkan partai, misal untuk menghadapi calon petahana sekelas Dadang Naser yang dinilai banyak pengamat peluang masih besar untuk terpilih kembali jadi orang nomor satu di Kabupaten Bandung.

Sekali lagi Doel Sumbang harus berpikir matang sebelum menganggukkan kepala tanpa menerima pinangan partai untuk maju di arena Pilkada Kabupaten Bandung. Doel Sumbang harus berkaca pada artis-artis lain yang dijadikan magnet pengumpul suara dan setelah terpilih, sekadar jadi bumper ketika memimpin sebuah pemerintahan. Ingat Rano Karno yang masih jadi pejabat pelaksana tugas Gubernur Banten, bahkan ketika Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sudah mendekam di penjara.

Ah, sebenarnya tidak perlu seniman sekelas Kang Doel Sumbang dinasihati seperti itu. Kang Doel tentu sudah tahu konsekuensi bila dia benar-benar maju ke arena politik praktis. Untuk itu, jawaban Doel Sumbang atas tawaran pihak-pihak yang ingin menggandengnya ke arena Pilkada Kabupaten Bandung seperti sebuah ending cerita: ditunggu banyak orang.  (Deni Ahmad Fajar)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Kamis (9/7/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved