SOROT

Ngabuburit

Kata ngabuburit berasal dari kata dasar 'burit' yang berarti sore hari, atau waktu menjelang tenggelamnya matahari.

Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR/DOKUMENTASI
Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh Dedy Herdiana
Wartawan Tribun Jabar

WARGA Jawa Barat tentunya harus benar-benar senang dan bersemangat dalam menyambut dan menjalani datangnya bulan Ramadan atau bulan puasa. Karena setiap memasuki bulan yang suci itu semua umat Islam di Indonesia selain ramai membahas ibadah puasa, salat tarawih serta berbuka puasa, juga momen ngabuburit kerap menjadi bahasan.

Nah, untuk istilah penyebutan momen yang satu ini, yakni ngabuburit, jelas itu merupakan kata yang berasal dari Bahasa Sunda yang berkembang di Jawa Barat.

Kata ngabuburit berasal dari kata dasar 'burit' yang berarti sore hari, atau waktu menjelang tenggelamnya matahari. Kemudian mendapat awalan 'nga' dan mengalami reduplikasi dwipurwa (pengulangan kata imbuhan pertama), jadilah terbentuk kata 'ngabuburit'. Secara etimologis kata ngabuburit mempunyai arti menunggu senja. Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS) pun memaknai ngabuburit; ngalantung ngadagoan burit, yang artinya kurang lebih bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Namun secara istilah kata ngabuburit mempunyai makna yang lebih luas karena kata ngabuburit senantiasa menjadi istilah yang khas di bulan Ramadan. Pengertian itu sejalan dengan makna ngabuburit yang tercantum dalam Ensiklopedia Sunda: menunggu saat berbuka puasa sambil mengerjakan sesuatu atau bermain-main, berjalan-jalan sekadar melupakan perut lapar sampai magrib.

Momen ngabuburit itu biasanya diisi dengan berjalan-jalan keluar rumah sambil berbelanja makanan atau minuman untuk berbuka. Adapula yang berjalan-jalan ke taman, terlebih di Kota Bandung kini sudah banyak taman yang layak untuk dinikmati. Ada juga yang memanfaatkan momen ngabuburit dengan beriktikaf di masjid. Kemudian juga ada yang berbelanja kebutuhan Lebaran.

Untuk itulah warga Jabar patut berbangga, karena istilah ngabuburit sudah begitu dikenal secara nasional. Beragam acara dan pemberitaan di beragai media pun kerap menggunakan istilah ngabuburit.

Fenomena ngabuburit yang sudah menjadi tren di masyarakat pada bulan puasa tak lepas dari perkembangan kegiatannya yang semakin beragam. Dengan keragaman tersebut, khususnya bagi umat muslim Jabar yang berbangga sebagai "pemilik" istilah tersebut dan umumnya bagi semua umat muslim, sebaiknya jangan sampai terjebak pada kegiatan-kegiatan yang bersifat negatif.
Banyak kegiatan ngabuburit anak muda sekarang yang dicap negatif, seperti aksi 'trek-trekan' atau balapan liar, memainkan petasan, bahkan ada ngabuburit dengan kegiatan yang bersifat hura-hura.

Mengingat agama Islam menjelaskan bahwa dalam mengisi waktu berpuasa hendaknya menjauhi dari segala perbuatan tercela. Islam sangat menganjurkan waktu berpuasa diisi perbuatan baik terlebih iktikaf di masjid. Karenanya banyak keterangan dalam Islam yang menyebutkan tak sedikit orang berpuasa karena perilakunya yang kurang baik menjadikan pahalanya sebatas menahan lapar dan haus.

Bagi umat Islam di Indonesia, ngabuburit tak akan menjadi sebuah masalah, jika benar-benar diisi kegiatan positif dan menambah nilai-nilai keutamaan ibadah puasa, sehingga amalan dan pahala puasa bertambah. Semoga kita semua termasuk orang yang mengisi ngabuburit dengan kegiatan positif. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved