Sorot

Kejahatan di Sekitar Kita

PERISTIWA tragis dan menyayat hati datang dari Pulau Dewata.

Penulis: Darajat Arianto | Editor: Dedy Herdiana

PERISTIWA tragis dan menyayat hati datang dari Pulau Dewata. Di Denpasar, Bali, seorang bocah berusia 8 tahun menjadi korban kekerasan dan kejahatan orang dekat. Bocah manis bernama Angeline ini sebelumnya dikabarkan hilang sejak 16 Mei 2015. Setelah hampir 3 minggu dicari Angeline ditemukan. Mirisnya, ia ditemukan justru dalam kondisi tak bernyawa. Bocah kelas 2 SD ini dikubur di halaman belakang rumah oleh mantan pembantu keluarga. Makin membuat pilu, karena jasadnya ditemukan masih dalam kondisi memeluk boneka kesayangannya.

Kisah memilukan seperti dialami Valentine bukan kali pertama. Aksi sadis orang tua terhadap anaknya juga terkuak Mei lalu di Kalimantan. Satuan Reserse Tindak Kriminal Polsekta Sungai Kujang, Samarinda, menangkap Sadriansyah alias Upik (42) yang telah membunuh empat anaknya dan memperkosa satu anak perempuannya. Sadriansyah ditangkap setelah polisi mendapat laporan dari anak kandungnya yang mengaku telah diperkosa ayahnya sendiri.

Kasus serupa juga terjadi di Bandung. Seorang ibu membunuh bayinya dengan menenggelamkannya ke dalam tempat penampungan air. Ia berdalih tak ingin anaknya menderita seperti dirinya. Dengan membunuhnya ia yakin anaknya yang balita akan bahagia karena berada di surga.

Catatan hitam yang dilansir Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI) bahkan lebih memilukan. Anggota KPAI Hj Maria Ulfah Anshor mengungkapkan, setiap tahun terjadi 3.700-an atau sebanyak 13-15 kasus kekerasan terhadap anak dalam setiap hari. Baik dalam bentuk kekerasan seksual, kekerasan fisik lainnya, pembunuhan, perdagangan manusia, narkoba, anak-anak jalanan dan lainnya.

Peristiwa-peristiwa ini menjadi catatan hitam kekerasan dalam rumah tangga. Ironisnya, pelaku adalah orang dekat yang ada di sekitar kita. Kenyataan ini sudah saatnya membuka mata hati kita. Sebagai warga yang baik sudah sepatutnya untuk saling peduli terhadap sesama, baik terhadap keluarga sendiri, terhadap tetangga dan terhadap saudara kandung.

Kepedulian seringkali terabaikan akibat aktivitas yang menyita waktu. Kesibukan sehari-hari membuat kita tak lagi punya waktu untuk saling mengenal, saling menegur apalagi saling mengingatkan. Padahal ini penting, ketika sudah saling mengenal setidaknya akan muncul saling menghormati. Jika ini muncul akan ada keengganan jika ada yang berperilaku menyimpang.

Sebaliknya, kita juga harus peduli dengan perkembangan zaman. Pengaruh informasi sangat kuat terhadap perilaku seseorang jika ia tidak memiliki sikap yang kuat. Lihat saja data KPAI pada Februari 2015, jumlah anak korban pornografi dan kejahatan online telah menembus angka mengerikan yakni 1.022 anak. Jumlah itu terdiri atas 11 persen anak korban kekerasan seksual online, 15 persen objek CD porno, 20 persen prostitusi anak online, 21 persen pornografi online, 24 persen anak memiliki materi pornografi, dan 28 persen merupakan korban pornografi offline.

Kondisi ini sudah saatnya membuat kita harus makin bijaksana dalam berperilaku dan peduli terhadap sesama. Kebersamaan dengan keluarga menjadi penting untuk terus diciptakan dan diperkuat. Dengan kepedulian yang kuat setidaknya dapat memperkecil kesempatan orang berbuat jahat. (Darajat Arianto)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (12/6/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved