SOROT

Blatter

Sebelum terpilih jadi Presiden FIFA untuk kelima kalinya, Blatter ditentang banyak pihak ketika kembali mencalonkan diri

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Kisdiantoro

Oleh Deni Ahmad Fajar
Wartawan Tribun

NAMA lengkapnya Josepp Blatter. Dunia mengenalnya sebagai Sepp Blatter. Lelaki yang lahir di Visp, Canton Valais, Swiss 10 Maret 1936 ini kembali terpilih sebagai Presiden FIFA untuk kali kelima. Sebuah prestasi yang tidak banyak orang mampu melakukannya. Namun selain dipuji, pencapaian kakek berusia 79 tahun ini juga dicemooh karena Blatter dinilai gila kuasa.

Sebelum terpilih jadi Presiden FIFA untuk kelima kalinya, Blatter ditentang banyak pihak ketika kembali mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden FIFA dalam kongres FIFA yang digelar di Zurich, Swiss. Namun seperti menganut pepatah: anjing menggonggong kafilah berlalu, Blatter bergeming. Hasilnya, seperti diketahui, Blatter kembali menjadi orang nomor satu di induk organisasi sepak bola dunia itu.

Kemenangan Blatter membuktikan pada dunia bahwa di adalah "orang kuat" di FIFA. Fakta bahwa Blatter orang kuat adalah mundurnya Pangeran Ali bin Al-Hussein, satu-satunya pesaing Blatter dalam perburuan kursi Presiden FIFA. Selain Pangeran Ali, sebenarnya ada Luis Figo yang disebut-sebut akan maju ke ajang pemilihan Presiden FIFA. Namun mantan bintang Real Madrid dan timnas Portugal ini, mengundurkan diri jauh sebelum kongres yang digelar di "kampung halaman" Blatter itu dihelat.

Walaupun pesaing-pesaingnya mundur sebelum bertarung, jalan Blatter ke kursi Presiden FIFA tetap tidak mulus. Isu korupsi yang mengguncang FIFA dijadikan peluru oleh orang-orang yang tidak rela Blatter kembali menjadi orang nomor satu di FIFA.

Presiden Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) Michael Platini, menyarankan Blatter untuk lengser keprabon. Asosiasi sepak bola Inggris (FA) bahkan dengan tegas menyatakan akan memboikot Blatter.

Dari luar sepak bola, seperti ditulis Kompas (30/5), Perdana Menteri Inggris David Cameron juga angkat bicara dan menunjukkan ketidaksukaannya bila Blatter kembali memimpin FIFA.

"Blatter bukan lagi orang yang tepat untuk memimpin FIFA. Berbagai kasus suap dan korupsi di bawah kepemimpinannya merupakan sisi buruk dari keindahan sepak bola," kata Cameron saat melakukan kunjungannya ke Berlin, Jerman, Jumat (29/5).

Walaupun banyak yang menentang, Blatter yang langkahnya sudah tidak jagjag itu, sukses menunjukkan bahwa dia masih didukung banyak orang. Kita tidak tahu apa kejutan susulan yang akan ditunjukkan Blatter setelah kembali menguasai FIFA. Satu yang pasti, Blatter berjanji akan membawa FIFA ke arah yang lebih baik. Sebuah pernyataan streotif dari orang yang terpilih menjadi pemimpin.

Yang pasti kejutan itu sudah dirasakan oleh sepak bola Indonesia. Pada hari yang sama dengan hari terpilihnya Blatter sebagai Presiden FIFA untuk kelima kali, sepak bola Indonesia resmi mendapat sanksi dari organisasi induk sepak bola dunia tersebut. Sanksi berat dari FIFA itu, salah satunya Indonesia tidak diizinkan ikut babak penyisihan Piala Asia dan Piala Dunia 2018. Maka sepak bola Indonesia makin terkucil dan sulit untuk bisa membuktikan bahwa (sepak bola) Indonesia sama derajatnya dengan negara-negara lain di muka bumi.

Kenapa sampai sepak bola Indonesia mendapat nista seperti itu? Ah rasanya semua orang sudah tahu jawabannya.***

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved