Sorot
Negeri Palsu
SEJUMLAH kepalsuan terkuak dari berbagai bidang dan aktivitas masyarakat.
Penulis: Darajat Arianto | Editor: Dedy Herdiana
SEJUMLAH kepalsuan terkuak dari berbagai bidang dan aktivitas masyarakat. Kasus beras palsu yang diduga berasal campuran plastik ditemukan di Bekasi oleh pedagang bubur. Beras palsu ini dibenarkan oleh Sucofindo setelah menguji di laboratorium ditemukan adanya unsur bahan pembuat pipa paralon. Meski kemudian dibantah oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti karena melalui uji di laboratorium forensik tidak ditemukan unsur plastik dari beras yang dilaporkan pedagang di Bekasi.
Kendati sudah dibantah polisi, masalah beras palsu ini konon sudah menjadi isu global. Hal ini seperti tulisan Nabila Annuria (Kasus Beras Sintetis Hancurkan Reputasi Teknologi Pangan, Tribun Jabar, Kamis, 21 Mei 2015). Menurut Nabila, produk beras sintetis di Tiongkok sudah diproduksi secara massal. Produk itu dibuat dari kentang, ubi jalar dan unsur plastik atau resin. Setelah kentang atau ubi dibentuk menjadi butiran-butiran seperti padi lalu dicampur resin untuk industri kimia yang berfungsi mempertahankan bentuk dan kekerasan setelah dimasak.
Sebaliknya, masalah beras palsu hanyalah salah satu dari sekian banyak kepalsuan yang ada di negeri ini. Barang yang sering dipalsukan adalah uang palsu, KTP palsu, paspor hingga ijazah palsu. Kasus ijazah palsu pun kembali menyeruak yang dilakukan sindikat dengan tarif Rp 3 juta hingga Rp 45 juta tergantung jenjang pendidikan, bidang studi dan juga tingkat kesulitan pembuatan ijazah. Kepalsuan lain yang marak terjadi adalah kasus pembajakan lagu, film dan software komputer.
Pemalsuan terjadi umumnya karena banyak permintaan. Ketika mendapatkan yang asli terasa sulit dan mahal sementara permintaan besar, maka jalan pintasnya adalah pemalsuan. Akibatnya pemalsuan makin marak. Kendati begitu, tentunya pemalsuan harus diberantas. Terutama pemalsuan yang dapat merugikan kepentingan umum atau mengambil hak cipta orang lain.
Selain itu, kerugian negara juga besar karena tak ada pemasukan dari pajak. Dari pembajakan lagu saja, pada 2012 pemerintah menyebut potensi kerugian negara mencapai Rp 4,5 triliun per tahun. Angka ini belum dari pembajakan film dan software yang tentunya lebih besar lagi.
Kepalsuan lain yang akhir-akhir ini marak adalah soal penipuan. Di Jakarta, sejumlah orang tertipu kursus keterampilan bahasa asing dan juga wedding organizer yang tiba-tiba menghilang. Di Purwakarta juga puluhan orang tertipu (lagi) arisan Lebaran yang uangnya raib.
Kepalsuan yang paling aneh dan "lucu" adalah seorang wanita di Mamasa Sulawesi yang melaporkan "suaminya" yang ternyata seorang wanita. Suami palsu itu ketahuan istrinya ketika mengalami menstruasi. Setelah dilaporkan "sang suami" pun menghilang.
Ya, sejumlah kepalsuan seperti ini sudah sepantasnya diberantas secara serius. Lain halnya dengan rumput palsu atau rumput sentetis, tak masalah jika dibiarkan beredar karena tidak mengganggu.
Untuk itulah, selain harus serius memberantas hingga ke akarnya, pemerintah dan aparat juga mesti tulus dan ikhlas mengerjakannya sesuai dengan tugas dan fungsinya. Jika tidak tulus, dikhawatirkan petugas akan terseret arus kepalsuan alias punya kepentingan tertentu. Jika sudah ada kepentingan tertentu, makin sulit kepalsuan diberantas dan secara tidak langsung justru seolah mendukung pemalsuan. Ini artinya mendorong orang untuk tidak jujur. Padahal kejujuran merupakan modal dasar dari kehidupan yang cerdas dan beradab. (Darajat Arianto)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (29/5/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
//MEMBERI KRITIKAN TERHADAP RIDWAN KAMIL, PENGAMAT POLITIK MURADI HABIS DI BULLY NETIZEN, RIDWAN KAMIL ANTI KRITIK...
Posted by Tribun Jabar Online on Thursday, May 28, 2015