Sorot
Saritem
TAK ada yang mengejutkan saat geliat prostitusi ternyata memang masih terjadi di kawasan Saritem,
Penulis: Arief Permadi | Editor: Dedy Herdiana
TAK ada yang mengejutkan saat geliat prostitusi ternyata memang masih terjadi di kawasan Saritem, Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, yang terkenal itu. Sejak ditutup tahun 2007, prostusi di sini memang tak pernah benar-benar berakhir. Sembunyi-sembunyi, transaksi masih terus terjadi. Muka-muka baru, kabarnya, juga masih bermunculan.
Penggerebekan yang Rabu (23/5) malam lalu terasa menyentak karena hasilnya yang ternyata sungguh di luar dugaan. Dalam penggerebekan semalam suntuk itu ratusan pekerja seks komersil (PSK), mucikari, dan pria hidung belang, berhasil ditangkap dan diangkut ke Markas Polrestabes Bandung. Ratusan? Ini tentu bukan lagi sekadar geliat.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Angesta Romano Yoyol yang malam itu langsung memimpin operasi, menyebut, ada 400-an rumah di Jalan Saritem yang dijadikan tempat prostitusi. Di beberapa rumah, ujarnya, bisnis prostitusi bahkan sudah dilakukan terang-terangan. Ini seperti ketika kawasan itu masih dijadikan lokalisasi beberapa tahun lalu. Ramai dan terbuka.
Hal lain yang juga tak kalah mengejutkan adalah apa yang kemudian diungkapkan Yoyol, beberapa hari setelah penggerebekan. Menurut Yoyol, bisnis prostitusi di tempat ini tak hanya melibatkan para pemain lokal, tapi jaringan internasional. Sebagian wanita yang menjadi PSK adalah korban perdagangan manusia yang direkrut jaringan Hongkong dan Batam! Seperti lokasi lain yang berada di pusat kota, kawasan Saritem bukan lokasi yang sulit dijangkau. Dan, seperti lokasi lain di pusat kota, Saritem juga "terbuka". Ini pula yang membuat agak heran, kenapa pascapenutupan, bisnis esek-esek di Saritem ini bisa kembali hidup tanpa ketahuan. Bertahun-tahun. Bayangkan, dari tahun 2007.
Satu-satunya yang masuk akal, "bisnis" ini memang sengaja ditutupi. Banyak pihak tentu terlibat, termasuk mereka seharusnya ikut mengawasi bahkan menertibkan. Seperti yang diakui Kapolrestabes: ada oknum-oknum aparat termasuk petugas pemerintahan yang ikut "bermain". Situasi tersebut tentu menyulitkan. Dan, semakin sulit karena diakui atau tidak, bisnis ilegal ini telah menghidupi banyak sekali orang di sana, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.
Namun, di luar itu semua, hal utama yang membuat bisnis prostitusi ini hidup adalah karena permintaannya yang tak pernah berkurang. Selama ada orang-orang yang sibuk mencari untuk memuaskan nafsunya, selama itu pula bisnis prostitusi ini tak pernah benar-benar berakhir. Lokalisasi mungkin bisa mengurangi dampak buruknya, tapi negara sudah menentukan berbeda dan itu harus dengan konsisten dilakukan.
Karena seperti bisnis-bisnis yang lain, bisnis prostitusi juga sangat tergantung pada permintaan, pendekatan berbeda mungkin sudah saatnya dilakukan secara intensif. Jangan lagi hanya mengejar para mucikarinya, para PSK-nya, karena bagaimana pun sebagian dari mereka hanya melakukan itu guna menyambung hidup. Kejar juga para pelanggannya, dan berikan hukuman yang mungkin akan membuat mereka jera.
Satu hal lagi, bukan tanpa alasan bisnis prostitusi bisa bertahan bahkan hampir setua peradaban. Bisnis seperti ini akan selalu datang dan pergi. Namun pemerintah tak boleh menyerah.
Konon prostitusi di kawasan Saritem sudah ada sejak sekitar tahun 1838. Penertiban bukan perkara yang mudah. (Arief Permadi)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (26/5/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
JANGAN MACAM-MACAM DENGAN KUCING BESAR INI !BACA--->http://bit.ly/1FMzyzRinsiden tersebut akan mengkhawatirkan para wisatawan muda yang berharap bisa berfoto memeluk harimau untuk gambar profil Facebook.
Posted by Tribun Jabar Online on Monday, May 25, 2015