SOROT

Melawan Rentenir

Biasanya, rentenir bergerilya dari gang ke gang, pintu ke pintu, menyelusup ke kampung-kampung, menyasar orang-orang yang sedang kepepet

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Kisdiantoro

Oleh Machmud Mubarok
Wartawan Tribun Jabar

PROGRAM inovasi terbaru Wali Kota Bandung Ridwan Kamil adalah Kredit Melati (Kredit Melawan Rentenir). Ini program kucuran dana tanpa bunga untuk mengurangi kemiskinan dan yang paling penting, melawan lilitan utang dan bunga rentenir.

Mendengar kata rentenir tentu yang terbayang adalah orang yang meminjamkan sejumlah uang dengan bunga yang sangat besar. Secara jelas Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan rentenir sebagai orang yang mencari nafkah dengan membungakan uang; tukang riba; pelepas uang; lintah darat.

Ya, lintah darat. Bagaikan seekor lintah yang menyedot darah korbannya, begitu pula praktik rentenir. Ia menyedot dan menguras habis uang 'nasabahnya' dengan bunga yang berlipat-lipat. Konon, sekali terjatuh ke tangan lintah darat, seumur hidup sulit untuk terlepas. Itu menggambarkan saking kuatnya cengkeram bunga rentenir yang mencekik leher, sehingga si peminjam sulit untuk melunasi utang-utangnya.

Di masyarakat kita, meminjam uang sudah seperti budaya dan kebutuhan. Tak enak rasanya jika tidak meminjam, entah untuk modal atau keperluan lain. Dan yang paling kentara, bagi masyarakat kebanyakan, sepertinya sulit untuk mendapatkan sesuatu, tentu ini barang konsumtif seperti rumah dan mobil, tanpa meminjam. Memiliki surat keputusan (SK) pegawai yang menganggur di rumah, akan terasa gatal, karena tidak diberdayagunakan.

Biasanya, rentenir bergerilya dari gang ke gang, pintu ke pintu, menyelusup ke kampung-kampung, menyasar orang-orang yang sedang kepepet atau tengah diburu keperluan yang sangat penting dan mendesak. Mungkin ada di antara para "korban" rentenir itu, orang-orang yang berpendidikan dan paham soal bunga yang berlipat ganda itu. Namun kebanyakan yang menjadi peminjam uang lintah darat adalah orang-orang kecil, cenderung miskin, tidak punya pengetahuan dan akses ke perbankan.

Di saat harga kebutuhan hidup sehari-hari semakin melangit dan kondisi ekonomi semakin terjepit, sementara tontonan di depan mata menunjukkan perilaku hedonistis, syahwat untuk memiliki barang mewah atau hidup berlebihan kian tak terkendali. Program kredit pinjaman itulah yang menjadi satu solusi cepat untuk menuntaskan hasrat hedon itu.

Tapi bagi masyarakat ekonomi lemah yang kebutuhannya hanya cukup untuk satu dua hari, rentenir lah solusi yang tercepat. Jika menilik hal ini, Kredit Melawan Rentenir (Melati) ini betul-betul akan mendapat hambatan terberat, tentu yang utama dari pihak rentenirnya sendiri. Lalu dari para peminjam atau penikmat jasa rentenir. Dalam hal ini, Kredit Melati harus beradu cepat dan beradu nyali. Mengapa ada juga adu nyali? Karena di lapangan, petugas Kredit Melati ini akan berhadapan langsung dengan para lintah darat. Jika nyali lumer, rentenir bakal tetap berjaya dan kemiskinan tak kunjung sirna.

Kita berharap, program ini benar-benar bisa dirasakan masyarakat ekonomi lemah dan mengurangi jumlah orang miskin di Kota Bandung. Bagaimanapun, kemiskinan merupakan musuh utama dari sebuah peradaban. "Seandainya kemiskinan itu berbentuk manusia, sudah aku tebas lebih dulu dengan pedangku," begitu ujaran dari khalifah ketiga, Ali bin Abi Thalib. Tentu tidak elok terlihat, jika Bandung mengklaim sebagai Smart City, tapi orang miskin masih banyak. Di mana smart-nya? (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved