Sorot

Brownies Ganja, Prostitusi Online

SISWA itu tertidur pulas akibat mengonsumsi brownies ganja yang dibuat dan dijual IR (38).

Penulis: Darajat Arianto | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

RASA kue brownies yang manis dan legit sudah sangat dikenal. Namun jika rasa brownies diiringi ngantuk berat bahkan tertidur, tentu menjadi sesuatu yang aneh. Hal ini pula yang terjadi pada seorang siswa SMP yang ditemukan tidur lelap selama dua hari.

Setelah diselidiki polisi, siswa itu tertidur pulas akibat mengonsumsi brownies ganja yang dibuat dan dijual IR (38).

Menurut pengakuan IR, ia menjadikan ganja sebagai salah satu bahan untuk pembuatan brownies dan juga cokelat. Sudah enam bulan IR menjalankan bisnis kue yang dijualnya Rp 200 ribu.

Pelanggannya beragam mulai dari pelajar, mahasiswa dan pegawai. Semua dijual melalui online. Awalnya ia membuat kue itu sebagai "obat" bagi dirinya sendiri yang menderita HIV dan hepatitis C.

Sebelumnya, dari lapas Cipinang polisi menemukan ekstasi jenis baru dalam sebuah razia narkoba. Ekstasi ini dalam bentuk kertas yang disebut CC4 sehingga sekilas tak terlihat seperti narkoba.

Kenyataan ini membuat kita harus ekstra waspada. Peredaran narkoba makin beragam dengan berbagai bentuk dan modus baru untuk mengelabui petugas. Demikian pula jalur peredaran tak hanya konvensional melalui pengiriman biasa. Jalur online pun ditembusnya untuk masuk ke berbagai pasar.

Jalur online ini pula yang digunakan untuk prostitusi. Setelah tertangkapnya Priyo Santoso (24), tersangka pembunuh Deudeuh (26), prostitusi via online makin terkuak. Kondisi yang membuat miris karena jalur online bisa diakses oleh semua kalangan dan semua usia.

Seperti diakui seorang PSK, penawaran melalui internet ini sudah berlangsung lama terutama sejak media sosial merebak. Menurutnya, sejumlah PSK merasa aman dengan jalur online karena nyaris tak ada razia, tidak ada potongan tarif dan juga bisa dilakukan sesuai pilihan mereka.

Kenyataan inilah yang membuat kita makin miris. Internet sebagai penyedia media sosial yang sejatinya untuk memudahkan, ternyata juga diselewengkan. Seperti halnya siswa SMP pembeli brownies ganja tadi. Akses yang mudah dan informasi yang melimpah, membuatnya berani membeli brownies ganja karena merasa aman dan tidak terlihat sebagai narkoba.

Karena itu, mau tidak mau untuk menyelematkan generasi muda kita harus memiliki sejumlah filter. Saringan bukan hanya berupa proteksi atau pemblokiran situs negatif saja, tapi juga membekali anak-anak dan memberi contoh dengan sikap dan perilaku positif.

Filter paling utama ada pada keluarga. Orang tua harus memiliki proteksi yang kuat untuk anak-anak. Bukan hanya melihat apa yang tampak, tapi juga yang mungkin dilakukan anaknya ketika sendiri. Apalagi akses internet kini sangat mudah dan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja

Semua bisa diawali dari pola hubungan keluarga yang harus penuh perhatian dan kepedulian. Ciptakan kondisi yang membuat anak nyaman dan terbuka dalam lingkungan keluarga. Aktifitas lain yang harus terus ada adalah suasana keagamaan.

Semua anggota keluarga mesti meluangkan waktunya dan aktif dalam menggali ilmu dan pengamalan agama. Ini penting agar anak-anak punya filter sendiri secara otomatis ketika beraktivitas diluar pantauan orangtuanya.

Jika sudah punya filter sendiri berupa pribadi yang berkarakter dan sikap positif, situs apapun yang berkonten negatif, diyakini tak akan mempan mengganggu perilaku generasi muda. Semoga. (Darajat Arianto)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (17/4/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline

//

PEMBUNUH TATA CHUBBY LAKUKAN "BEGITUAN" TAPI TIDAK TUNTAS.BACA---->http://bit.ly/1b4KeOsDia merasa tersinggung dan...

Posted by Tribun Jabar Online on Wednesday, April 15, 2015
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved