Sorot

Gelap di Si Jalak Harupat

KOMPETISI sepak bola tertinggi di Indonesia berganti nama.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

KOMPETISI sepak bola tertinggi di Indonesia berganti nama. Kompetisi yang sebelumnya dikenal dengan nama Liga Super Indonesia itu kini berganti nama menjadi kompetisi Qatar Nasional Bank (QNB League).

Pada pertandingan perdana, Sabtu (4/4/205), digelar beberapa pertandingan. Tim juara bertahan Persib Bandung sukses menekuk Semen Padang 1-0 di Stadion Si Jalak Harupat. Kemenangan di pertandingan perdana tersebut disambut bobotoh, pelatih, pemain, dan manajemen Persib. Pasalnya untuk merebut tiga poin dari Semen Padang, Persib dipaksa tim tamu bekerja keras sepanjang pertandingan. Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman mengakui kemenangan atas Semen Padang bukan kemenangan yang mudah.

Sebagai pelatih, Kang Djanur tentu tidak mencatat banyak hal pada pertandingan tersebut. Misalnya soal permainan Atep dkk yang dinilainya berhasil membuat tim tamu gagal mengembangkan permainannya. "Anak-anak bermain disiplin dan tidak membiarkan lawan mendekati gawang," puji Djanur.

Pemain anyar Persib yang direkrut dari PBR, Illija Spasojevic, menurut catatan Djanur, tidak bermain buruk namun belum maksimal. Pelatih kepala Persib ini juga berharap Spasojevic bisa menunjukkan kemampuannya sebagai andalan tim Maung Bandung dalam urusan menjebol gawang lawan.

Catatan Kang Djanur tidak hanya terkait soal teknis permainan. Kang Djanur, seperti juga pelatih Semen Padang Nil Maizar, juga mencatat kasus padamnya lampu Stadion Si Jalak Harupat beberapa saat sebelum wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan lekasan. Djanur dan Nil mengatakan padamnya lampu stadion bukan hanya membuat pertandingan tertunda tapi telah merusak permainan dan menurunkan semangat bertempur pemain.

"Padahal permainan tim kami sedang naik untuk mengejar ketertingalan. Padamnya lampu stadion merugikan kami," kata Nil.

Kasus padamnya lampu di Stadion Si Jalak Harupat, memang pantas dicatat bukan hanya oleh Djanur dan Nil. Padamnya lampu stadion juga harus jadi perhatian serius PSSI dan PT Liga Indonesia yang diberi kepercayaan untuk menggulirkan kompetisi, pasalnya kasus di Stadion Si Jalak Harupat ini bukan perkara sepele. Kasus padamnya lampu di Stadion Si Jalak Harupat, harus ditangani serius dan tuntas, supaya kasus serupa tidak terulang di pertandingan-pertandingan mendatang.

Bayangkan bila kasus tersebut berulang, bukan tidak mungkin kompetisi sepak bola (kasta tertinggi di Indonesia) ini akan ditinggalkan sponsornya. Kasus listrik mati di Stadion Si Jalak Harupat, bila tidak disikapi secara serius, pada gilirannya akan mengikis kualitas kompetisi (yang harus diakui) masih belum ajek ini.

Padahal konon, kompetisi yang berkualitas adalah muara yang melahirkan pemain-pemain berkualitas yang diharapkan bisa membangun tim
nasional yang kuat.

Jadi jangan sepelekan soal lampu padam di Stadion Si Jalak Harupat ini. Kasus ini bukan hanya kritikan bagi panitia lokal yang bertanggung jawab melaksanakan pertandingan tim Persib, ini juga kritikan bagi PSSI dan PT Liga Indonesia untuk berkaca dan membenahi kinerja.

Pasalnyaa, kasus yang terjadi di Stadion Si Jalak Harupat saat Persib menjamu Semen Padang, menjadi bukti sahih bahwa kisruh dan perseteruan di PSSI telah merusak sepak bola Indonesia. (Deni Ahmad Fajar)

Naskah sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar (6/4/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

>>NGERI!! HATI-HATI BUAT PARA ORANGTUA YANG PUNYA ANAK KECIL.. BOCAH TERSERET ESKALATOR LIHAT DI SINI...

Posted by Tribun Jabar Online on Sunday, April 5, 2015
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved