Sorot
Siapa Pemilik Persib (Paling Sah)?
Pertanyaan itu mulai menyembul seiring seremonial peringatan hari ulang tahun ke-82 Persib yang digelar Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Bandung
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dedy Herdiana
SEBELUMNYA saya tak pernah mempertanyakan siapa pemilik Persib yang sebenar-benarnya dan paling sah. Namun pertanyaan itu mulai menyembul pada Rabu (25/3), seiring seremonial peringatan hari ulang tahun ke-82 Persib yang digelar Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Bandung (atau disebut Pengcab PSSI Kota Bandung).
Acara di Stadion Sidolig (Lapangan Mes Persib) tersebut, diinisiasi 36 klub anggota Pengcab. Yang menarik dari seremonial itu adalah keluh kesah yang diumbar para pengurus 36 klub dan juga pengurus Pengcab PSSI Kota Bandung, yang galau karena semakin ditinggalkan oleh Persib (yang sekarang).
Mereka galau karena makin ke sini hubungan emosional dan historis Persib (sekarang) dengan 36 klub Pengcab bagai minyak dan air yang sulit menyatu. Sebagai wadah pembibitan dan pembinaan talenta pesepak bola Bandung, 36 klub mengklaim proses pembinaan selama ini seperti bertepuk sebelah tangan. Padahal dulu, klub-klub ini mengklaim sebagai pemasok pemain andal Persib (perserikatan).
Sekarang, kata mereka, Persib di bawah naungan PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB), seperti melihat sebelah mata proses pembinaan. Buktinya, Persib lebih memilih untuk memakai "pemain jadi" non-produk pembinaan. Bahkan mereka pun berseloroh saat ini saham kepemilikan PT PBB pun tidak jelas, padahal saat dibentuk pada 2008/09 pembagian sahamnya yaitu 30 persen dimiliki klub Pengcab dan sisanya bisa go public.
Setelah ditelusuri, ternyata, riak antara Persib (dulu) dan Persib (PT PBB), sudah berlangsung sejak era Liga Super Indonesia digulirkan pada 2009. Saat itu, setiap klub peserta LSI tidak boleh memakai dana APBD, padahal selama ini kiprah Persib di Liga Indonesia tak lepas dari sokongan uang rakyat.
Diprakarsai Wali Kota Bandung saat itu, Dada Rosada, terbentuklah PT PBB, yang akan menaungi Persib selama berkompetisi. PT PBB yang dikelola orang-orang profesional menjadi institusi yang akan mencarikan sponsor guna pembiayaan operasional Persib selama berkompetisi.
Tiga tahun berdiri, riak mulai tampak. Merasa "diasingkan" PT PBB, beberapa "orang lama" Persib, termasuk pengurus 36 klub Pengcab, mulai menggugat. Tahun 2012, mereka membentuk PT Persib 1933, untuk menuntut hak kepemilikan saham Persib yang dulu disepakati. Jurang pemisah semakin kentara ketika komisaris PT PBB siap melepas saham 30 persen kepada pengurus 36 klub asalkan defisit Rp 48 miliar (kerugian PT PBB dalam mengelola Persib selama tiga musim, saat itu), bisa dibayarkan oleh pengurus klub.
Sempat mereda, dua tahun kemudian riak kepemilikan Persib kembali mencuat. Kali ini pembentukan klub Bandung Legend tahun 2014 yang menaungi pemain yang dibina 36 klub Pengcab untuk berkompetisi di Piala Suratin. Padahal saat itu sudah terbentuk Persib U-17 sebagai tim yunior yang dibentuk PT PBB. Persib U-17 akhirnya juara Piala Suratin 2014 dan Bandung Legend juara ketiga.
Sebelum Persib bernasib seperti Persebaya Surabaya, di mana terjadi dualisme kepengurusan (klub anggota Pengcab dengan PT Mitra Muda Inti Berlian yang menaungi Persebaya) yang berujung di pengadilan, tentu selalu ada jalan keluar terbaik untuk Persib.
Awali dengan dibangunnya jembatan untuk mengakomodir pembinaan yang dilakukan klub-klub lokal mulai level SSB dan yunior, menuju level Persib senior. Lihatlah pembinaan Barcelona, di mana tim senior tak melulu dihuni "pemain jadi" yang dibeli, tapi ada pemain asli binaan sendiri yang berani dimunculkan di level senior. Bahkan pemain binaan sendiri yang menjadi ruh permainan Barcelona.
Janganlah PT PBB melulu mengurusi urusan bisnis dan prestasi di level senior, tapi lihat pula ke bawah di mana ada SSB dan klub-klub yang bisa menjadi benih untuk prestasi Persib senior di kemudian hari. SSB dan klub-klub pun jangan berleha-leha karena pembinaan pemain usia dini dan yunior saat ini sudah tertinggal jauh dari daerah lain.
Ingat Persib bukan milik PT PBB, bukan pula milik 36 klub Pengcab. Persib milik Bobotoh, milik warga tatar pasundan. Dari era perjuangan hingga sekarang, hanya Bobotoh yang ikatan sejarah dan emosionalnya kepada Persib tak pernah lekang oleh zaman. (Oktora Veriawan)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Sabtu (28/3/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.