Sorot

Memerangi ISIS

BAGI sebagian orang, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah menjadi destinasi.

Penulis: Giri | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

BAGI sebagian orang, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah menjadi destinasi. Belakangan, beberapa warga yang menganggap paham ISIS sesuai dengan ideologi hidupnya memilih berangkat ke Suriah, basis ISIS di dunia. Indonesia pun rentan menjadi basis ISIS.

Beberapa waktu lalu, sebanyak 16 orang memilih berpisah dengan rombongan tur wisata ke Turki. Nasibnya belum diketahui. Tak lama setelah itu, ada 16 WNI ditangkap di perbatasan Turki dengan Suriah.

Setelah ditelusuri, identitas mereka berbeda dengan daftar rombongan tur wisata. Ada indikasi, mereka yang diamankan akan menyeberang ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Perekrutan anggota ISIS disinyalir sudah terorganisasi di Indonesia. Banyak masyarakat yang melaporkan anggota keluarganya hilang dan disinyalir bergabung dengan ISIS.

Apalagi, Salim Mubarok Attamimi, pria asal Malang, Jawa Timur, disebut punya peranan penting di ISIS.

Di Wikipedia ditulis, ISIS sebelumnya bagian dari Al-Qaidah. Di bawah kepemimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, ISIS sempat menyatakan diri bergabung dengan Front Al-Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah.

Namun karena metode ISIS dianggap bertentangan dengan Al-Qaidah lantaran telah berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah, ISIS dianggap tak lagi sejalan dengan Al-Qaidah.

Sebagai balasannya, Front Al-Nusra lalu melancarkan serangan perlawanan terhadap ISIS guna merebut kembali kontrol atas Abu Kamal, wilayah timur Suriah, yang berbatasan dengan Irak. Namun karena kebrutalan dan ambisi dari ISIS yang tidak segan melakukan penyiksaan bahkan pembunuhan terhadap para penentangnya, ISIS bisa menguasai sebagian besar wilayah Irak.

Bahkan di bawah kepemimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi, ISIS mendeklarasikan Negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah dan juga menyatakan Al-Baghdadi akan menjadi pemimpin bagi umat muslim di seluruh dunia.

Di Indonesia, paham ISIS secara tegas ditolak. Lebih dari 10 ormas Islam Indonesia menganggap ideologi yang dianut ISIS bukan Islam, dan radikal. Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Musthafa Ya'qub, mengatakan pembunuhan terhadap sesama muslim dan atas nonmuslim, seperti yang dilakukan ISIS, tidak bisa dibenarkan.

Namun keberadaan ISIS di Indonesia tetap tumbuh karena ada pihak-pihak yang menyokongnya. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Saud Usman Nasution menyebut, lebih dari 10 organisasi mendukung ISIS. Bentuk dukungan itu di antaranya dengan finansial, penyebaran paham, hingga rekrutmen personel.

Karena sudah dianggap mengkhawatirkan dan ditolak, seluruh elemen masyarakat harus ikut andil dalam upaya memerangi ISIS agar tak berkembang di Indonesia. Setidaknya, sikap waspada dikedepankan agar saudara sendiri tak masuk jeratan ISIS. Jika dilakukan pembiaran, maka ISIS bisa menjadi bahaya yang tak terkendali di Tanah Air.

Apalagi, propaganda penyebaran dilakukan di media sosial yang peluangnya bersentuhan dengan anak muda sangat besar. Hampir seluruh remaja di Indonesia bermain dengan media sosial dan bukan tak mungkin menjadi target pencucian otak untuk bergabung. (Sugiri UA)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (25/3/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved