Sorot

Selter Untuk Siapa?

GAYA hidup di kota-kota besar dunia tentu sudah tak asing dengan yang namanya selter.

Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

GAYA hidup di kota-kota besar dunia tentu sudah tak asing dengan yang namanya selter. Kesibukan dan aktivitas yang super sibuk bisa terlihat dari pagi hingga malam hari.

Kita bisa tengok di Ibu Kota Jakarta. Jam kerja merupakan waktu dimana selter-selter akan penuh dengan orang-orang.

Bagaimana mereka berjalan kaki dengan cepat melewati jembatan penyeberangan menuju selter dan menunggu bus yang akan menghantar mereka ke tempat kerja atau ke tempat tujuan masing-masing.

Mengutamakan keselamatan dan kenyamanan penumpang, selter di Ibu Kota itu memang didesain sedemikian rupa hingga kita merasakan nyaman dan aman berada di trek jembatan atau di selter. Jalurnya pun khusus dan terkenal dengan sebutan jalur busway.

Seakan mendapat tempat istimewa karena jalur sendiri dan kendaraan lain dilarang memasuki jalur khusus ini. Ibarat jalur kereta, bus akan melaju dan hanya akan tersendat jika ada bus yang sama di depannya.

Kelebihannya memang sangat terasa, selain nyaman bagi pejalan kaki, memiliki jalur khusus di jalan untuk menghindari macet, juga biaya yang dikeluarkan pun relatif murah jika dibandingkan dengan naik angkutan umum lainnya.

Tentu orang akan rela menunggu di selter untuk menikmati pelayanan yang ditawarkan busway demi mendapat keuntungan-keuntungan itu. Ibu Kota yang akrab dengan suasana macet membuat warganya perlahan mempertimbangkan untuk memakai busway ini. Sehingga tak heran jika semakin hari semakin meningkat mereka yang beralih dan memilih memakai busway untuk menuju tempat beraktivitas.

Di Yogyakarta lain lagi. Meski tak sedetil dan senyaman Ibu Kota, pembangunan selter sudah berjalan cukup lama dan dinikmati masyarakat di sana. Selternya tidak terhubung dengan jembatan-jembatan penyeberangan.

Di sana selter hanya diperuntukan bagi mereka yang akan menumpang mobil bus khusus trans. Kendati demikian para penumpang tetap memakai selter untuk menunggu bus dengan alasan alternatif mobil angkutan yang murah dan nyaman untuk warganya.

Di kota yang terkenal dengan gudegnya ini mobil khusus bus memang tidak dibuatkan jalur khusus, namun warga sudah terbiasa dan pengguna kendaraan lain sudah mengetahui jalur dan trek yang dilalui oleh bus khusus ini.

Warga semakin punya pilihan di tengah meningkatnya arus volume kendaraan yang tentu saja kemacetan mengintai kota-kota besar seperti Yogyakarta ini.

Lalu bagaimana dengan Bandung. Kota besar penyangga Ibu Kota ini juga memiliki selter-selter untuk bus khusus yang siap menampung penumpang. Seiring gaung pembangunan busway, Kota Bandung juga dengan sigap ikut menyiapkan konsep baru ini untuk warganya.

Namun, setelah beberapa tahun pembangunan yang menghabiskan dana puluhan miliar rupiah itu, tak banyak warga yang bisa menikmati. Hanya segelintir orang saja yang sempat merasakan naik bus khusus trans tersebut di awal-awal peresmian.

Pengelolaannya terhenti hingga kini menyisakan banyak pertanyaan-pertanyaan dari warganya yang menyayangkan pembangunannya tak sesuai yang diharapkan. Telantar, terbengkalai, rusak, tak terawat, kumuh, itulah beberapa patah kata yang dikeluarkan warga yang ikut menyimak maju mundurnya pengelolaan selter dan busnya ini. Hingga pertanyaan pun keluar, selter untuk siapa? (Ferri Amiril)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (24/3/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved