Sorot
Warning dari Ciamis
SELAIN Persib dan Persebaya, pertandingan segitiga ini diikuti tim tuan rumah PSGC Ciamis.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
WARNING atau peringatan itu datang dari Ciamis. Peringatan itu dialamatkan kepada Persib Bandung yang ditumbangkan Persebaya Surabaya 0-1 pada pertandingan segitiga persahabatan di Stadion Galuh Ciamis, Minggu (22/3/2015). Selain Persib dan Persebaya, pertandingan segitiga ini diikuti tim tuan rumah PSGC Ciamis.
Selain sukses mengalahkan Persib, Persebaya juga memastikan diri menjuarai pertandingan yang digagas PSGC tersebut. Sebagai juara, Persebaya mengumpulkan poin sempurna 6 setelah pada pertandingan pertama menumbangkan tim tuan rumah 3-0.
Akibat rontok oleh Persebaya, apa pun yang diraih Persib pada pertandingan pamungkas melawan PSGC, tidak bisa membendung Persebaya untuk menjadi juara.
Bila menang atas PSGC pada pertandingan yang diagendakan Selasa (24/3), Persib berada di posisi runner up setelah Persebaya. Sedangkan bila kalah, Persib harus menerima kenyataan di posisi buncit.
Apa pun hasilnya pada pertandingan pamungkas Selasa besok, Persib pantas berintrospeksi. Bagaimana pun kekalahan tetap sesuatu yang mengecewakan, apalagi kekalahan ini mengantarkan Persebaya meraih gelar juara. Dan Persib pulang dari Ciamis tanpa gelar juara.
Absennya tujuh pemain Persib yang harus membela timnas, boleh jadi mengikis kekuatan tim Maung Bandung. Namun soal absennya tujuh pemain tak bisa dijadikan kambing atas kekalahan ini, apalagi sebelum pertandingan melawan tim Bajul Ijo asuhan Ibnu Graham itu, Kang Djadjang Nurdjaman sang arsitek Persib mengatakan kekuatan Persib tak akan berkurang walau ditinggalkan 7 pemainnya.
Persib juga teu maci (tidak boleh) beralasan, sengaja menurunkan pemain lapis kedua atau sengaja tidak berburu gelar juara hanya karena pertandingan di Ciamis tersebut hanya berlabel persahabatan. Persib tak elok bila hanya mengejar gelar juara di kompetisi resmi sekelas Liga Super Indonesia (LSI).
Menjadi juara LSI tentu menjadi prestasi besar. Namun mengoleksi banyak prestasi dari berbagai pertandingan dan turnamen, akan makin menambah besar nama tim Maung Bandung. Ingat Manchester United menjadi besar tidak hanya karena tangguh di Liga Inggris tapi tim ini juga menjuarai Liga Champions, Piala FA, dan juga Community Shield. Asal tahu saja, Community Shield yang dulu bernama Charity Shield adalah pertandingan pembuka Liga Inggris yang mempertemukan juara Liga Inggris dan juara Piala FA.
Harus dicatat pula, konon mempertahankan gelar juara tak semudah saat merebut gelar juara. Berangkat dari kata-kata bijak tersebut, saya hanya mencatat bahwa perjuangan Persib di LSI mendatang akan lebih sulit. Pasalnya klub-klub yang akan menjadi lawan Persib telah mempersiapkan diri secara maksimal, buktinya adalah Persebaya yang jadi juara di pertandingan segitiga persahabatan di kandang PSGC. Setelah gagal di Ciamis, Persib wajib mengevaluasi diri.
Jangan anggap sebelah mata pertandingan dan turnamen sekecil apa pun. Karena bila di turnamen kecil saja tidak bisa menjadi juara, bagaimana di turnamen atau kompetisi besar yang dihuni klub-klub raksasa pula.
Pelatih sekelas Arsene Wenger saja hampir kehilangan pekerjaan ketika Arsenal tidak berhasil merebut gelar juara dari Liga Inggris, Piala FA, dan Community Shield. (Deni Ahmad Fajar)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (23/3/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.