Sorot
Tangkal ISIS
Kekerasan dan kekejaman menjadi berita yang sering muncul berkaitan dengan aktivitas mereka.
Penulis: Darajat Arianto | Editor: Dedy Herdiana
AKSI kelompok Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) makin menjadi-jadi. Kekerasan dan kekejaman menjadi berita yang sering muncul berkaitan dengan aktivitas mereka. Kelompok ini dirasa makin meresahkan, bukan hanya oleh warga sekitar Timur Tengah yang menjadi basis mereka. Namun hampir semua warga dunia merasa gerah dengan kelompok ini. Hal itu lantaran warga dari sejumlah negara diduga terlibat dalam ISIS.
Demikian juga dengan warga negara Indonesia (WNI). Sejumlah WNI diduga ada yang terlibat dengan aksi mereka. Hilangnya 16 WNI dan ditahannya belasan WNI lain di Turki menjadi indikasi terhadap dugaan tersebut. Bahkan mereka yang tertangkap enggan dipulangkan ke Indonesia lantaran ingin tetap di Turki. Namun belum diketahui apa motifnya pergi ke Turki. Padahal Turki disebut sebagai pintu gerbang menuju kelompok ISIS.
Di antara WNI yang ditahan, beberapa orang tercatat warga Jabar dan sebagian adalah anak-anak. Di tengah simpang siurnya berita itu, seorang warga yang anaknya tertangkap di Turki merasa terbebani dengan berita tersebut. Saking malunya, bapak itu nekad meminum racun serangga. Untung nyawanya sempat tertolong oleh lurah setempat yang kebetulan hendak bertamu dan membawanya ke klinik.
Bagi masyarakat umum, ISIS dikenal dari berita-berita di media. ISIS dinilai sebagai kelompok aliran keras, bahkan terkesan kejam terhadap mereka yang tak sepaham. Sudah sering ditampakan bagaimana korban-korban berjatuhan oleh kelompok ini dengan cara-cara yang mengerikan.
Lalu bagaimana sebaiknya masyarakat awam bersikap. Disinilah pentingnya kebersamaan dan saling memerkuat persaudaraan. Kebersamaan sebagai umat, sebagai kelompok dan sebagai bangsa Indonesia. Di antara kelompok-kelompok di negeri ini tentu ada baiknya untuk terus mengingatkan anggotanya untuk selalu mengedepankan moral dan jangan sampai melanggar aturan.
Seperti diketahui Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak keberadaan ISIS di Indonesia lantaran kelompok ini dikenal radikal dan berpotensi memecah belah umat Islam di Indonesia. MUI juga mengimbau umat untuk tidak terhasut ajakan kelompok ini baik di Indonesia dan di dunia. Seluruh elemen yang berkaitan dengan Islam diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ISIS.
Untuk itulah, masing-masing rumah tangga sebaiknya sudah punya daya tangkal sendiri. Misalnya dengan saling tahu aktivitas anggota keluarganya terutama bagi mereka yang memiliki anak remaja dan yang mulai dewasa karena kelompok umur ini yang sering dibidik. Orang tua harus tahu aktivitas anaknya baik di kampus, di tempat kerja atau di organisasi lainnya.
Bagi umat Muslim, ada baiknya menggalakkan kembali magrib mengaji seperti ajakan Gubernur Jabar. Dengan magrib mengaji ini diharapkan warga bisa mengkaji ilmu-ilmu Alquran dan Assunah sehingga bisa menjalankan aktivitas sesuai aturan agama. Ini penting sebagai langkah awal dari keluarga untuk menangkal gerakan radikal. Karena pada dasarnya ajaran Islam adalah agama damai yang Rahmatan Lil Alamin (memberi rahmat bagi semesta alam). (Darajat Arianto)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Sabtu (21/3/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.