Sorot

Tak Ada Izin, Kok Bisa?

Segera dilaunching April 2015 Kota Summarecon Bandung.

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana

SAMPURASUUUN. Segera dilaunching April 2015 Kota Summarecon Bandung. Begitu bunyi sejumlah papan reklame di beberapa perempatan jalan dan pintu keluar tol di Kota Bandung. Reklame serupa juga ditemukan di daerah Gedebage, lokasi rencana pembangunan kota baru oleh pengembang dari Jakarta itu.

Memang tak ada yang salah dengan isi reklame itu. Yang salah kalau pemasangan reklame itu tidak berizin. Sangat mungkin tidak berizin, karena Bandung tengah menerapkan moratorium izin reklame dan itu pun dibenarkan oleh Kepala BPPT Kota Bandung Ema Sumarna.

Yang kemudian dipersoalkan oleh warga Gedebage, sampai-sampai mereka harus mengadu ke DPRD Kota Bandung, adalah tidak adanya sosialiasasi dan kejelasan soal pembangunan oleh pengembang besar itu. Ujug-ujug ada pengerjaaan lahan, pembangunan rumah contoh, dan sebagainya. Tanpa pernah ada uluk salam kepada warga sekitar.

Yang lebih mengejutkan, ketika anggota DPRD melakukan inspeksi ke lokasi, ternyata pembangunan itu belum ada izin. Nah lho, kok bisa? Tidak salah kalau anggota dewan memerintahkan agar pembangunan itu dihentikan.

Lalu apa hubungannya Summarecon dengan Bandung Teknopolis? Kurang tahu juga. Mungkin Summarecon akan mengembangkan kota atau lebih tepatnya permukiman yang sarat dengan teknologi mutakhir. Tapi kalau menurut Wali Kota Bandung, Summarecon itu hanya bagian kecil dari rencana pembangunan Bandung Teknopolis di Gedebage.

Kalau hanya bagian kecil dari teknopolis, adakah hubungannya launching Summarecon dengan launching Bandung Teknopolis yang kabarnya juga akan digelar pada bulan April?.

Pada akhir Februari lalu, Ridwan Kamil bertemu dengan Presiden Joko Widodo membicarakan berbagai rencana proyek di Kota Bandung, salah satunya tentang rencana ground breaking Bandung Teknopolis bulan April. Pada ground breaking itu Ridwan akan mengundang Presiden (kompas.com 27/2/2015). Ah, mungkin itu kebetulan, hanya waktunya saja yang sama. Bukannya Summarecon itu yang memberikan CSR buat bus Damri gratis khusus pelajar? Oh, enggak tahu juga, mungkin kebetulan saja kemarin menyumbangkan anggaran sosialnya untuk Bandung.

Tentu kita tidak perlu menggugat konsep teknopolis yang ditawarkan Kang Emil. Karena konsep pengembangan kawasan Bandung Timur sudah dirancang jauh sebelumnya, sejak zaman wali kota terdahulu. Tinggal komunikasinya saja dirancang dengan baik, agar warga, khususnya yang berada di Gedebage, merasa dirangkul dan dilibatkan, minimal diberi tahu bahwa akan ada proyek besar di sana. Bayangkan saja, kabarnya 400 ribu tenaga kerja bakal terserap di Bandung Teknopolis yang dicita- citakan mirip Silicon Valley itu.

Sejauh manfaat dan kemaslahatannya sangat besar untuk masyarakat, selama prosesnya benar sesuai aturan, lalu hasilnya pun benar, tentu tidak ada alasan untuk menolak. Apalagi jika Bandung Teknopolis yang transparan dan tersosialisasikan secara gamblang, akan membuat Bandung lebih juara lagi dan membanggakan Indonesia. (Machmud Mubarok)


Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (20/3/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved