Sorot

Trotoar

Hari-hari terakhir ini sedikit menegangkan.

Penulis: Arief Permadi | Editor: Dedy Herdiana

SEJUMLAH persiapan terus dilakukan menjelang hari H peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika (KAA), 24 April. Hari-hari terakhir ini sedikit menegangkan. Sebab, seiring terus berjalannya waktu, berbagai hal ternyata belum berjalan sesuai rencana.

Salah satu yang membuat agak ketar-ketir adalah proyek pengerjaan trotoar hingga kemarin ternyata baru selesai sekitar 30 persen saja. Padahal, keramaian peringatan KAA ini akan berlangsung sejak seminggu sebelum hari H. Ini berarti waktu tersisa tinggal sekitar satu bulan lagi. Kita semakin degdegan karena trotoar yang dikerjakan tak hanya di satu lokasi, melainkan di beberapa tempat.

Catatan Agus Sjafrudin, Kabid Kebinamargaan Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung, proyek trotoar yang laju penyelesaiannya paling cepat adalah trotoar di kawasan Jalan Braga pendek yang pengerjaannya mencapai 12 persen. Di lokasi lain, di Cikapundung Timur, pengerjaannya baru 3 persen, di kawasan Naripan-Asia Afrika 4 persen, dan di wilayah Dalemkaum, Tamblong, Lembong, dan Wastukencana baru 5 persen.

Menurut Agus, paket-paket pengerjaan trotoar ini memang baru dimulai 9 Maret lalu. Targetnya rampung dalam 45 hari kerja, tuntas pada 18 April nanti.

DBMP tentu punya perhitungan yang matang terkait waktu pengerjaan trotoar yang mepet ini. Sebab, dengan jadwal yang ada, tak ada celah untuk kegagalan. Tak akan ada waktu tersisa untuk memperbaiki jika terjadi kesalahan.

Padahal, seperti diungkap Agus, untuk mengejar tenggat yang sempit ini, pengerjaan terpaksa dikebut 24 jam nonstop setiap hari. Bisa kita bayangkan risiko dan tekanannya.

Dari sisi dana, biaya perbaikan sejumlah trotoar ini juga tidak sedikit. Dari APBD saja Pemkot Bandung merogoh kocek tak kurang dari Rp 15 miliar. Jumlah itu masih ditambah dana hibah perusahaan yang jumlahnya mencapai Rp 5 miliar.

Pertanggungjawaban pemkot terhadap dana tersebut tentu bukan melulu soal trotoar selesai tepat waktu, tapi juga soal kualitas pengerjaannya. Benarkah, 45 hari adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan proyek ini dengan hasil yang bagus? Kalau memang cukup dan "aman", kenapa pengerjaannya 24 jam sehari seolah-olah sedang mengejar ketinggalan? Kenapa pula dibuat mepet sehingga tak ada lagi rentang waktu tersisa untuk melakukan perbaikan.

Dengan kondisi ini, jujur ada kekhawatiran bahwa penyelesaian proyek ini pada akhirnya menjadi sesuatu yang dipaksakan. Yang penting selesai dulu dan enggak malu-maluin pada perhelatan KAA nanti. Padahal, sekali lagi, pertanggungjawaban pemkot bukan melulu pada selesainya trotoar ini tepat pada waktunya, tapi juga pada kualitas pengerjaannya yang tidak boleh asal-asalan. Sebab, yang asal itu terlihat sekalipun dipoles dan disamarkan sedemikian rupa.

Puncak acara peringatan ke-60 KAA, 24 April nanti, akan ada 109 kepala negara datang sebagai undangan. Kita tentu tak ingin malu hanya karena soal trotoar, hanya karena jalan yang berlubang, atau sampah yang berserakan di tepi jalan dan selokan kecil.

Ada 30 acara yang dipersiapkan Pemkot Bandung untuk meramaikan KAA sejak seminggu sebelum hari H hingga seminggu sesudahnya. Jangan sampai semuanya jadi berantakan. (Arief Permadi)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (17/3/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved