Kapan Harga Beras Turun?
BERAS mahal. Demikian obrolan yang sering terdengar di toko-toko beras maupun warung sayur.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
BERAS mahal. Demikian obrolan yang sering terdengar di toko-toko beras maupun warung sayur. Harga beras kualitas sedang nyaris menyaingi kurs rupiah terhadap dollar, Rp 12.000 per kg. Kalau ingin mempertahankan jatah belanja cukup hingga gajian bulan depan, maka kualitas beras harus diturunkan dengan tetap membeli beras harga Rp 8.500 atau Rp 9.000-an per kg.
Para buruh atau pekerja serabutan tak punya pilihan. Jika tak ada jatah beras keluarga miskin (raskin) atau beras murah dari operasi pasar, maka mengonsumsi beras kualitas terendah adalah pilihan paling rasional.
"Itu lebih baik, masih bisa hidup dan tak perlu membegal demi makan beras enak," ujar Kang Adeng, pedagang bubur di Ujungberung, mencoba mengaitkan sulitnya membeli beras dengan maraknya aksi begal di negeri yang kini dikomandani Presiden Joko Widodo.
Beras yang di pasaran mencapai Rp 12.000 ternyata harga gabahnya cuma kisaran Rp 3.700-Rp 4.000 per kg di saat kondisi normal. Disparitas harga gabah dan beras terlalu tinggi. Saking tingginya, sampai-sampai Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkaget-kaget.
"Seharusnya jika harga gabah Rp 4.000 per kg, harga beras Rp 7.000 per kg," kata Amran saat panen raya perdana di Desa Sukamelang, Kacamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, beberapa hari lalu.
Harga gabah sekarang memang terseret naik dengan naiknya harga beras. Tapi tetap dengan disparitas yang tinggi. Kisaran harga gabah kini Rp 4.500-Rp 4.700 per kg.
Di mana letak salahnya sehingga beras menjadi mahal jauh melebihi harga gabah?Tak ada jawaban yang jelas. Menteri pun hanya bisa menduga bahwa selisih harga yang tinggi itu karena ada distribusi gabah yang tidak benar. Alasan lain yang kerap nyaring terdengar adalah faktor cuaca. Curah hujan tinggi mengakibatkan gagal panen atau karena masa penen raya mundur.
Bulan ini memasuki masa panen raya dan sekitar 500 ribu hektare sawah di Jabar akan panen raya. Ditopang sejumlah daerah yang juga memasuki panen raya, mestinya harga beras turun. Tapi nyatanya di pasaran harga beras masih ajeg. Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pun mengatakan, tidak ada istilah harga beras naik karena panen raya sudah tiba.
Jika padi di semua daerah telah terpanen, apakah harga beras akan benar-benar turun? Kenyataan terkadang tak sama dengan harapan.
Buktinya, saat gaduh dengan kenaikan sejumlah kebutuhan pokok karena biaya angkut naik setelah harga BBM naik, lalu BBM turun, harga kebutuhan pokok tetap tinggi dan tak mau turun. Padahal saat itu alasannya bukan karena tak ada barang.
Mestinya kalau mengikuti teori ekonomi, barang melimpah permintaan sedikit, harga barang turun. Apalagi di saat masa panen.
Pemerintah berbaik hati dengan meluncurkan operasi pasar. Tapi upaya itu tak bisa membuat harga menjadi lebih terjangkau, termasuk beras. Kebijakan pemerintah sudah sangat baik. Hanya saja barangkali perlu keseriusan dalam pelaksanaanya.
Semisal, bergulirnya bantuan alat pertanian, anggaran pembangunan irigasi, dan subsidi pupuk, haruslah tepat sasaran untuk menjawab alasan gagal panen. Pemerintah juga mestinya sering ke lapangan untuk memantau distibusi gabah dan beras hingga merata ke semua wilayah.
Dan penenggelaman waduk Jatigede, Sumedang, tak boleh ditunda-tunda lagi. Irigasi yang baik akan membantu petani bisa memanen tiga kali setahun. Surplus beras akan membendung upaya spekulan bermain harga dengan disparitas tinggi dengan harga gabah petani. (Kisdiantoro)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (13/3/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kisdiantoro-baru-lagi.jpg)