Sorot

Kepolisian Bukanlah Ayam

BUKAN tanpa alasan, penulis memberikan judul di atas.

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

BUKAN tanpa alasan, penulis memberikan judul di atas. Mengingat, menimbang, dan memutuskan berbagai perkembangan yang mengemuka di Tanah Air terutama yang menjadi perhatian serta pembicaraan publik. Serta secara tidak langsung melibatkan khalayak. Jadi, rasanya penting bagi penulis untuk sekadar menuliskannya.

Berbicara isyarat, meskipun menurut zodiak Cina pada 2015 adalah tahun kambing kayu yang dimulai pada 19 Februari mendatang. Tapi, kenapa yang mengemuka dan disebut-sebut justru malah hewan bernama ayam bukannya kambing ataupun kayu.

Mulai dari harga daging ayam yang naik di sejumlah wilayah, sebut saja di Cianjur semula harganya Rp 28 ribu menjadi Rp 32 ribu. Di Semarang pun demikian, semula Rp 28 ribu, jelang Imlek 2566 yang jatuh pada 19 Februari itu naik menjadi Rp 30 ribu. Belum di daerah lainnya juga demikian.

Pasti sidang pembaca bertanya-tanya, lalu apa hubungannya Kepolisian sama ayam? Soalnya, memang awalnya tidak ada hubungannya. Begini. Pascapencopotan Kepala Kepolirian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Sutarman, Rabu (21/1/2015) sampai saat ini belum ada pengganti atau orang yang menduduki jabatan sebagai Kapolri. Komisaris Jenderal Badrodin Haiti kan hanya sebagai Pelaksana Tugas Kapolri. Jadi, bukan Kapolri.

Terus, ramailah dibicarakan kalau Kepolisian saat ini kehilangan 'induk'-nya karena tak ada kepalanya, ya itu tadi tak ada Kapolri. Hebat ya! Hampir satu bulan loh institusi Polri tak ada pemimpinnya.

Nah, lalu dimana ayamnya? Begini. Orang-orang pintar eh para pakar yang suka banyak bicara berbusa-busa lewat statement maupun teori-teorinya di televisi mengatakan, bila diibaratkan Polri itu sekarang seperti anak ayam kehilangan induknya. Itu peribahasa. Tapi, disitu pula makhluk bernama ayam muncul.

Tadinya, penulis tidak setuju. Tapi, setelah coba mencari tahu ada tidaknya keterkaitan Kepolisan dan ayam, penulis cari tahu dulu tentang ayam sebelum mencari tahu tentang Kepolisian. Hasilnya, ya setuju-setuju saja dengan peribahasa yang entah siapa yang pertamakali menciptakannya, hingga pepatah tentang anak ayam kehilangan induknya ini kerap jadi pengibaratan.

Penulis survei kecil-kecilan, saking kecilnya ya cukup sidang pembaca saja yang tahu. Tepatnya, berdasarkan pengalaman pribadi dalam hal memelihara ayam. Itu pun ala kadarnya, karena memang bukan seorang peternak ayam. Dalam ilmu "perayaman", anak ayam kalau ditinggal induknya itu tidak pernah berhenti bersuara, menciap-ciap. Sambil terus berusaha mencari-cari induknya. Oleh karena itu, penulis setuju ketika para pakar bicara di layar kaca dan mengibaratkan Polri seperti anak ayam kehilangan induknya.

Yang jadi masalah, apakah Kepolisian mau disamakan dengan ayam? Kalau ayam sih setahu penulis pasti senang-senang saja disama-samakan dengan Kepolisian. Kalau bukan ayam, Kepolisian semestinya tidak perlu ribut menciap-ciap sampai seantero Nusantara ikut galau dan resah. Kan bukan ayam. Tapi, ya gimana tidak dibilang ayam. Tayangan di televisi pascasidang praperadilan Komjen Budi Gunawan, Senin (16/2/2015) keriuhannya seperti anak ayam yang baru menemukan induknya. Bahkan, sejumlah anggota Kepolisian ramai-ramai seusai putusan sidang, langsung bersujud. Serempak. Iya. Padahal, kan belum tentu yang diciap-ciapi-nya itu adalah induknya. (Dicky Fadiar Djuhud)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (17/2/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.


//
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved