SOROT
Hari Kasih Sayang
Selalu terdengar ekses negatif setelah 14 Februari itu berlalu. Apa? Laporan-laporan adanya kekerasan seksual dan sejumlah remaja perempuan hamil
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
Sorot
Kisdiantoro
Wartawan Tribun
HARI ini, 14 Februari 2015. Sebagian orang, terutama kaum muda, merayakannya sebagai hari kasih sayang atau menamainya sebagai Hari Valentine (Valentine's Day).
Lingkungan pun tampaknya mendukung. Di sejumlah mal atau swalayan mendekornya dengan nuansa Valentine. Ada pita-pita berwarna pink, balon pink, dan yang tak pernah tertinggal adalah beragam pajangan bentuk cokelat. Sejumlah agenda bertema hari kasih sayang pun ada di mana- mana, mulai siang hingga tengah malam. Tak ketinggalan, hotel-hotel memberikan diskon menginap bagi pasangan.
Hari kasih sayang itu merujuk pada budaya barat sebagai penghormatan terhadap pendeta (santo) Valentinus. Dalam sebuah versi, diceritakan bahwa sore hari sebelum santo Valentinus gugur sebagai martir karena memperjuangkan cinta, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu". Dan peristiwa itu terjadi pada 14 Februari.
Meski budaya itu datang dari luar, rasa-rasanya sudah mahfum di kalangan orang Indonesia merayakan Valentine. Mereka merayakannya bersama keluarga, saudara, sahabat, dan kekasih. Bahkan PT Liga Indonesia, sebagai operator kompetisi Liga Super Indonesua (LSI) pun me- launching LSI 2015 di hari kasih sayang. Selain ada momentum, bisa jadi karena operator LSI ingin memaknai bahwa sepak bola adalah event yang mestinya dinikmati dengan rasa kasih sayang, bukan sebaliknya, kebencian.
Hanya saja, selalu terdengar ekses negatif setelah 14 Februari itu berlalu. Apa? Laporan-laporan adanya kekerasan seksual dan sejumlah remaja perempuan hamil karena melakukan hubungan badan.
Ekses negatif itu pun berpotensi terjadi setelah hari Sabtu ini. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah mencium aromanya. Di antaranya, penemuan beredarnya penjualan cokelat berbonus kondom. Dan kita sangat paham bahwa konsumen cokelat sebagian besar adalah anak-anak remaja. Jika remaja berpikir cerdas, maka akan memakan cokelatnya dan membuang kondomnya. Jika tidak, maka yang terjadi bisa sebaliknya, memakan colekatnya dan memakai kondomnya.
Pemakaian kondom oleh remaja ini pantas diwaspadai karena umumnya tradisi Valentine yang dilakukan remaja adalah menikmati hari berdua saja. Untuk apa? Mengekspresikan cinta. Bahkan ada yang mengatakan, banyak remaja rela menyerahkan keperawanan dan keperjakaan di hari itu. Bukan isapan jempol. Di Kota Bandung sebuah hasil survei menyebutkan 54 persen remaja di Kota Bandung, pada Februari tahun lalu, mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Angka tertinggi dibandingkan dengan data di kota lain yang disurvei, Jakarta, Surabaya, dan Medan. Remaja yang menjadi responden mengaku pada mulanya mereka jalan-jalan dengan pasangan, makan-makan, berciuman, lalu melakukan hubungan seks.
Untuk menutup dampak negatif hari kasih sayang ini, PBB pernah kampanye antikekerasan seksual bertema 'Love Doesn't Hurt'. Sayang sebagian remaja belum mampu memaknainya secara benar.
KPAI juga mengingatkan kepada para orangtua untuk mengingatkan anak-anak melakukan aktivitas di hari Valentine dengan cara yang wajar. Dan jika mendapati adanya kasus kekerasan seksual pasca-valentine, KPAI meminta masyarakat segera melapor.
Perayaan hari kasih sayang tidak perlu ada dan dirayakan jika kita memiliki hubungan yang baik dengan orang tua, anak-anak, saudara, sahabat, dan siapa pun mereka yang kita jumpai, karena setiap hari berbagi kasih sayang. Hubungan baik itu jauh lebih berarti dari sekadar perayaan sehari di hari Valentine yang nilai kebaikannya belum tentu didapatkan. (*)