Sorot
Sampan Nasional
NEGERI yang menjadi langganan banjir, mungkin tidak perlu mobil nasional alias mobnas.
Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
NEGERI yang menjadi langganan banjir, mungkin tidak perlu mobil nasional alias mobnas. Apalagi Ibu Kota Negeri ini baru saja menduduki prestasi sebagai kota termacet di dunia. Dengan adanya banjir yang selalu datang ke pusat pemerintahan, meski telah beberapa kali pergantian pemimpin, maka mobil nasional bukanlah solusi.
Justru saat ini sampan nasional lah yang diperlukan. Sampan nasional penting dan sangat bermanfaat untuk negeri yang akrab dengan air kotor dari selokan mampet, air laut yang pasang (rob), air bah, dan air-air lain yang menggenangi perkampungan, sawah-sawah, dan jalanan di kota-kota negeri ini.
Menurut Wikipedia, kata "sampan" secara harfiah berarti tiga lembar papan dalam bahasa Kanton. Ini berasal dari kata sam (tiga) dan pan (papan). Kata ini memang digunakan untuk merujuk pada rancangan perahu yang terdiri dari sebuah dasar yang datar (dibuat dari selembar papan); dua lembar papan lainnya dipasang di kedua belah sisinya.
Masih menurut ensiklopedia digital tersebut, sampan dapat mengangkut 2-8 orang, tergantung ukuran. Sampan ada kalanya memiliki atap kecil dan dapat dipakai sebagai tempat tinggal permanen di perairan dekat darat.
Sampan biasanya tidak digunakan untuk berlayar jauh dari daratan karena jenis perahu ini tidak memiliki perlengkapan untuk menghadapi cuaca buruk.
Energi bangsa ini seringkali dihabiskan dalam perdebatan bagaimana mengatasi banjir, macet, atau membangun infrastruktur untuk atasi banjir dan macet. Tapi gerakan nasional secara masif dalam bentuk pelatihan dan informasi akurat untuk mengantisipasi bencana banjir sering diabaikan. Bahkan banjir akhirnya sudah dianggap biasa.
Bangsa ini juga menghabiskan energi untuk berdebat soal mobil nasional yang harus 100 persen buatan anak negeri, namun menunda-nunda membangun transportasi massal yang dapat dinikmati warga.
Akibatnya transportasi massal yang ada hanya sedikit dimodernisasi, dan hasilnya masih juga terhambat operasionalnya karena diterjang banjir. Sementara negeri-negeri tetangga telah memiliki transportasi massal yang mampu meminimalisasi kemacetan akibat banjir.
Kembali ke soal sampan nasional. Kenapa pemimpin negeri ini tidak mendukung, meningkatkan kualitas, dan memproduksi massal Kalamari. Anda tahu apa itu Kalamari?
Kalamari adalah kapal lemari hasil inovasi Hadi Wibowo pada 2007. Inovasi ini karena Hadi melihat banyak warga Jakarta panik menyelamatkan diri dan barang-barang mereka saat banjir besar. Sementara perahu penolong dari Tim SAR sangat terbatas.
Dari kejadian itu Hadi berpikir mengapa tidak ada perabot rumah tangga yang berfungsi ganda?
Maka lahirlah Kalamari -kapal lemari- yakni lemari yang bisa berubah menjadi kapal ketika banjir melanda.
Sehari-hari Kalamari berfungsi sebagai lemari pakaian dan penyimpan barang-barang rumah tangga. Tapi begitu banjir, lemari yang terbuat dari gabus dilapisi plastik kedap air itu bisa disulap jadi kapal kecil yang bisa ditumpangi manusia dan barang-barang, hingga 80 kilogram.
Bukan itu saja, Kalamari dilengkapi pelampung dan meja kursi yang bisa dilipat. Tak heran jika penemuan Hadi ini menyabet Black Innovation Award untuk kategori perabot rumahtangga pada akhir 2007. Kalamari ini memang mirip sampan. Benda ini yang harusnya jadi proyek sampan nasional. (Adityas Annas Azhari)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (11/2/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.