SOROT

Banjir

Banjir kembali menyergap dan makin parah. Bandung dan Jakarta dikepung banjir. Ini menjadi bukti pemerintah tak bisa menangani banjir

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Kisdiantoro

Deni Ahmad Fajar
Wartawan Tribun

PADA pagi yang cerah, kawanku datang mengetuk pintu. Wajahnya muram seperti digayuti mendung. Saya menutup koran yang memuat berita bencana di banyak tempat, termasuk banjir yang mengepung Bandung dan Jakarta.

Bila datang dengan muka ditekuk kayak dompet di akhir bulan, seperti biasa saya bersiap-siap membuka diri untuk nampung keluh-kesah kawanku. Sambil mempersilakan dia duduk, otakku menebak-nebak apa yang akan dikeluhkan kawanku yang mengaku paling setia mendukung Persib ini. Mungkin saja dia akan berkeluh kesah tentang Persib yang gagal menjuarai Inter Island Cup akibat rontok oleh Arema Cronus. Mungkin juga dia akan mengomentari soal pencalonan Budi Gunawan sebagai kepala kepolisian Republik Indonesia yang berbuntut perseteruan Polri dan KPK.

"Banjir kembali menyergap dan makin parah. Bandung dan Jakarta dikepung banjir. Ini menjadi bukti pemerintah tak bisa menangani banjir," kata kawan saya menatap meminta tanggapan.
"Pemerintah kan kerjaannya banyak, tidak hanya mengurus banjir," ujar saya.
"Itulah masalahnya, banjir yang makin getol menemui kita seperti tidak ditangani sampai tuntas," katanya.

"Mungkin karena sering itulah banjir jadi dianggap biasa. Bukankah ada guyonan yang menyebut banjir mah akan hilang dengan sendirinya bila musim kemarau datang menggeser musim hujan," kata saya mencoba mendinginkan dia yang sedang marah karena rumahnya termasuk yang dilanda banjir.

"Banjir adalah masalah serius. Banjir yang merendam sebagian Kota Bandung, Kabupaten Bandung, beberapa daerah lain luar Pulau Jawa, adalah sesuatu yang serius dan tidak bisa ditangani sambil main-main," katanya dengan nada tinggi.

Saya tidak menjawab untuk memberi peluang kepada kawan saya untuk mendedahkan perasaannya yang sedang gundah itu.

Bagaimana tidak serius, kata kawan saya itu. Banjir yang melanda ibu kota bahkan sampai menbuat Istana Negara terkepung air. Saking seriusnya, kata dia, Gubernur Jakarta Basuki Cahaya Purnama yang beken dipanggil Ahok itu sampai menduga banjir yang melanda beberapa wilayah di ibu kota akibat sabotase.

"Nah bagaimana tidak serius bila banjir sudah dikait-kaitkan dengan upaya sabotase," ujarnya sambil menatap saya yang berusaha sekuat tenaga mengusir kantuk di pagi yang cerah itu.
"Untung Presiden kita sedang melawat ke beberapa negara tetangga, sehingga tidak perlu diungsikan dari Istana Negara," kata saya mencoba mengalihkan alur pembicaraan.
Kawan saya menyambutnya dan mulai mengomentari kunjungan Presiden Jokowi ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Celakanya emosi kawan saya tetap tinggi seperti ketika sedang mengomentari banjir yang memang membuat pusing itu. Menurut kawan saya, upaya Jokowi menggandeng Proton untuk merealisasikan mimpi punya mobil nasional menjadi blunder kesekian yang justru makin membuat Jokowi makin kehilangan daya humornya.

Menurut kawan saya, ketika mendekati pabrik Proton di Malaysia sana, Jokowi telah melupakan mobil Esemka yang dulu sukses melambungkan namanya dari Solo ke panggung ibu kota bahkan Indonesia.
"Sekarang langkah Jokowi sepertinya serba salah ya. Kalau sudah begini baiknya gimana," tanya saya.

"Baiknya selesaikan masalah satu per satu. Jangan dibiarkan berlarut-larut, seperti pencalonan
Kapolri itu," kata kawan saya dengan nada tinggi sambil beranjak dari kursi dan pamit pulang.
Sambil mengantar dia hingga ke pintu pagar, saya tersadar sepanjang obrolan tadi lupa tidak menyuguhi kawan saya.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved