Sorot

100 Hari Mencari Jati Diri

AWALNYA, Joko Widodo dianggap sebagai tokoh yang pas memimpin Indonesia di tengah segala masalah yang melingkupinya.

Penulis: Giri | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

AWALNYA, Joko Widodo dianggap sebagai tokoh yang pas memimpin Indonesia di tengah segala masalah yang melingkupinya. Kini, setelah melewati masa 100 hari, dia divonis gagal memenuhi harapan para pemilihnya.

Pria kerempeng dengan tampang "ndeso" itu sebelumnya menjadi Wali Kota Solo. Setelah memimpin pada periode pertama, dia terpilih lagi dalam masa kepemimpinan kedua. Sebelum selesai, dia maju memperebutan takhta orang nomor satu di DKI Jakarta.

Berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, harapannya terwujud. Namun, lagi-lagi tidak menyelesaikan tugasnya. Dia meletakkan jabatan pada 16 Oktober 2014, karena menjadi pemenang dalam Pilpres.

Menggandeng Jusuf Kalla, Jokowi mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Pelantikan dilakukan 20 Oktober 2014, sehingga resmi menjadi presiden ketujuh Indonesia.
Sepak terjangnya selama menjadi Wali Kota dan Gubernur coba dilanjutkan ketika berstatus Presiden.

Banyak kritik datang kepadanya atas kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan keberpihakan pada rakyat. Selain dari pihak lawan, kritik juga sering keluar dari pendukungnya.
Terakhir, tentu saja berkenaan dengan pengajuan calon tunggal Budi Gunawan sebagai Kapolri.

Meski tahu dengan kontroversi mantan Kapolda Jambi dan Bali itu, Jokowi seolah tutup mata. Dia juga tak mau mendengarkan warning Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang kemudian menjegalnya dengan menetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

Setelah itu, hiruk-pikuk terus berlanjut antara KPK dengan Polri, yang mau tak mau turut menyeret Jokowi di dalamnya. Banyak yang menganggap, ihwal kisruh karena Jokowi mengeluarkan nama Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri dan hanya Jokowi yang bisa meredam semua suasana panas.

Nyatanya, Jokowi tak bisa tegas karena pernyataannya dianggap tak lebih baik dibanding ketua RT.

Banyak masyarakat yang kemudian benar-benar merasa kecewa dan menyesal karena memberikan satu suara kepada Jokowi yang mengantarkannya manjadi Presiden. Mereka berdalih, sikap merakyat yang selama ini ditunjukkan pria kelahiran 21 Juni 1961 itu, tidak sesuai yang diimpikan.

Jokowi dianggap lebih berpihak kepada elite politik yang mengusungnya, sehingga kesan bagi- bagi kue kekuasaan begitu kentara. Hal itu diawali penunjukan menteri yang didominasi wajah- wajah orang partai ketimbang orang yang mengerti di bidangnya.

Kini, Jokowi-JK sudah 100 hari memimpin Indonesia. Meski tidak fair, tetap ada rapor yang datang dari orang-orang yang mengaku peduli dengan nasib Indonesia ke depannya. Mudah ditebak, mayoritas memberi nilai merah dengan alasan-alasannya.

Semoga saja, waktu 100 hari yang jatuh pada Rabu (28/1), menjadi batu pijakan sang Presiden untuk berlari kencang memperbaiki segala sektor yang tak pernah tersentuh pada era sebelumnya. Kritik juga harus menjadi kekuatan.

Dan kita doakan bersama, Jokowi secepatnya menemukan jati diri, sehingga ke depannya benar- benar berpihak kepada wong cilik, bukan "wong cilik". (Sugiri UA)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (30/1/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

//

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved