Sorot
Kegigihan Bocah Penjual Gorengan
BOCAH-bocah luar biasa ini tidak menyerah kepada keadaan, tidak mengambil jalan pintas dengan turun ke jalan dan mengemis.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TIGA tahun sudah, bocah duduk di kelas lima bangku sekolah dasar tersebut merawat ayah dan kedua kakaknya yang lumpuh.
Tidak hanya sampai merawat, sejak kelas tiga SD ia pun harus ikut memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara menjual gorengan berkeliling kampung karena sang ibu juga harus membanting tulang di luar kota.
Bisa dibayangkan bagaimana sibuk dan letihnya ia, saat teman seumurnya bermain mobil- mobilan atau asyik santai nonton televisi di rumah, ia malah harus berkeringat menenteng gorengan sepulang sekolah. Lokasi rumahnya di kawasan bukit, membuat ia harus turun dan naik saat menjajakan gorengan.
Empati bocah yang kini menjadi perhatian serius pemerintah Kabupaten Sumedang ini mungkin lebih besar untuk merawat dan memperhatikan keluarganya daripada menghabiskan waktu untuk bermain bersama dengan teman-temannya.
Bocah 11 tahun ini masih membuang jauh-jauh keinginan menghabiskan masa kanak-kanak dengan penuh perhatian dari orangtuanya itu. Sepulang sekolah ia mendapat upah Rp 5 ribu - Rp 8 ribu dari menjual jajanan yang ternyata milik tetangganya yang membuka warung.
Sebuah kisah yang menyentuh hati yang ia lakoni selama ini. Di usianya yang sangat belia, ia harus memiliki kekuatan sebagai tulang punggung keluarga. Sebuah tanggung jawab yang layaknya diemban seorang ayah.
Kegigihan bocah yang bernama lengkap Ridwan Gunawan ini sudah dikenal tetangga bahkan orang sekampung. Mereka salut dengan mental Ridwan yang bertahan dan ulet merawat ayah dan kakak-kakaknya yang lumpuh.
Tenggang rasa melihat keluarga Ridwan sering dilakukan para tetangga. Jika kebetulan ada rezeki berlebih para tetangga selalu berkunjung ke rumah Ridwan.
Tak hanya para tetangga, kisah perjuangan Ridwan juga sampai ke tokoh masyarakat, pejabat pemerintah Sumedang, dan pejabat kepolisian di sana. Semuanya salut dan setuju jika mental Ridwan untuk bertahan patut diacungi jempol.
Bocah yang luar biasa, demikian komentar yang terangkum saat berkunjung dan melihat keseharian Ridwan secara langsung. Tak sedikit mereka yang membaca kisahnya banyak yang mendoakan keluarga Ridwan ini.
Wajah Ridwan Gunawan kini terlihat sedikit berseri saat difoto. Berbeda ketika pertama kali diambil gambar saat mendamping ayah dan kedua kakaknya yang terduduk kaku. Perhatian dari pemerintah dan pihak-pihak yang menolongnya seakan meringankan bebannya. Cita-cita untuk tetap belajar dan menjadi guru semakin mungkin untuk ia capai.
Hari ke hari, keluarganya selalu mendapat kabar baik. Ayah dan kakaknya sudah mendapat perawatan dan keluarganya juga masuk ke dalam penerima bantuan dari pemerintah pusat setiap bulan.
Kisah luar biasa Ridwan dari Bojongloa, Desa Girimukti, Kecamatan Sumedang Selatan, mengingatkan juga tentang bagaimana kisah bocah lainnya. Tasripin asal Banyumas, yang juga harus merawat, mengasuh, dan memberi makan adik-adiknya.
Kisah Tasripin yang menyentuh juga telah membuat warga dan pemerintah di sana membuatkan rumah untuk Tasripin.
Bocah-bocah luar biasa ini tidak menyerah kepada keadaan, tidak mengambil jalan pintas dengan turun ke jalan dan mengemis. Tiga tahun mungkin tidak sebentar bagi Ridwan untuk bertahan menjadi tulang punggung, namun usahanya tak sia-sia, semoga senyuman terus terlihat di wajahnya.(Ferry Amiril Mukminin)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Kamis (29/1/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
//