Sorot

Lapangan Tegallega

BEBERAPA hari, setelah peresmian pada 31 Desember 2015, alun-alun Bandung fungsinya mulai terlihat.

Penulis: Januar Pribadi Hamel | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

KERJA Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dapat pujian. Setelah dia meresmikan renovasi Alun- alun Kota Bandung, semua orang berdecak kagum. Warga menganggap Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, telah berhasil mengembalikan fungsi alun-alun yang sebenarnya.

Dalam Wikipedia, alun-alun disebutkan sebagai lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam.

Beberapa hari, setelah peresmian pada 31 Desember 2015, alun-alun Bandung fungsinya mulai terlihat. Warga kini secara bebas menikmati taman yang terletak di tengah kota itu.

Rumput sintetis yang terhampar di lahan 4.800 meter per segi itu kini menjadi tujuan favorit warga Kota Bandung. Mereka membawa keluarganya sekadar menikmati rumput buatan tersebut. Mereka tidak peduli meski harus membuka alas kaki jika ingin menginjak rumput sintetis tersebut. Mereka ada yang tidur, berlarian, atau sekadar duduk di sana.

Luas Alun-alun sebetulnya 1,2 hektare, namun hanya 4.800 meter per segi yang berumput sintetis. Lahan lainnya diisi  pot bunga, taman, tempat bermain, tempat berjalan, dan tempat duduk yang dipasang di trotoar yang mengeliling Alun-alun.

Trotoarnya terbuat dari granit alam dilengkapi tong sampah tak jauh dari kursi. Di Alun-alun Jalan Asia Afrika dibangun selter angkutan umum yang diklaim terpanjang di dunia. Di selter itu ada tulisan besar, "Taman Alun-alun Bandung".

Alun-alun sekarang memang berbeda dengan Alun-alun 80-an, 90-an, atau bahkan pada 2014 yang baru lalu. Semoga perubahan ini benar-benar memberikan kenyamanan buat warga Bandung.

Alun-alun sudah indah, lalu bagaimana dengan Lapangan Tegallega. Kondisi Tegallega seperti tak terurus. Paving block yang mengitari Monumen Bandung Lautan Api sudah tidak rata. Di sana sini ada cileuncang. Rumput liar juga tumbuh di beberapa bagian. Belum lagi sampah yang berserakan di mana-mana.

Lapangan sepak bola pun di sana sini terlihat kubangan. Padahal untuk masuk ke area tersebut harus bayar Rp 3.000 pada hari biasa. Sedangkan pada hari libur Rp 5.000. Pada Minggu (4/1/2015) sore itu memang baru turun hujan sehingga kubangan, dan genangan sampat terlihat secara jelas.

Emil sebetulnya pernah mengatakan akan membuat sayembara desain lapangan tersebut secara nasional. Menurut Emil seluruh masyarakat Indonesia bisa ikut menyumbangkan idenya untuk penataan. Pernyataan tersebut diutarakan Emil di detik.com, Selasa (18/2/2014).

Realisasi tersebut masih harus ditunggu karena belum ada kabar lanjutan dari berita tersebut. Mudah-mudahan Kang Emil mempunyai rencana spektakuler yang bisa membikin kaget lagi warganya. Mudah-mudahan secepatnya Tegallega menjadi indah, dan Monumen Bandung Lautan Api akan semakin gagah  berdiri di lahan sekitar 4,5 hektare itu. Semoga. (Januar Pribadi Hamel)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (9/1/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved