Sorot

Bayangkan Jika

KENAPA berbagai kekurangan itu baru kelihatan setelah kejadian? Toh, selama ini kelihatannya aman-aman saja.

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

TULISAN ini tak bermaksud apa-apa. Meskipun pada akhirnya, ada apa-apanya ya tidak apa-apa. Toh, yang tahu apa apaapanya selama ini juga pura-pura tidak tahu apa-apa. Penulis hanya mengajak sidang pembaca untuk membayangkan jika menjadi bagian dari keluarga korban
Pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata, Minggu 28 Desember 2014.

Seminggu lebih kecelakaan yang menimpa AirAsia QZ8501 dan selama itu pula bukan hanya rasa simpatik dan duka saja yang mengemuka. Di luar evakuasi terhadap korban dan pesawat itu sendiri, belakangan perbincangan hangat tentang administrasi keberangkatan AirAsia jadi sorotan.

Tepatnya, pasca-sidaknya Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di kantor AirAsia yang berujung pada pembekuan rute Surabaya - Singapura. Disusul kemudian muncul surat terbuka dari petinggi AirAsia terhadap pernyataan Menhub.

Ya, sejak itu, muncul saling klaim kebenaran antara Kementerian Perhubungan dengan AirAsia. Mulai dari tak ada briefing terhadap pilot sebelum keberangkatan, lalu menyalahi jadwal keberangkatan, ya segala tetek bengeknya menjadi tema yang hangat silih berganti.

Hebatnya lagi, bahasan itu tayang langsung di sela-sela tayangan evakuasi korban di televisi. Pertanyaannya. Kenapa berbagai kekurangan itu baru kelihatan setelah kejadian? Toh, selama ini kelihatannya aman-aman saja.

Selama masih aman toh terus saja. Sebagai pembanding, meskipun tak ada korelasinya sama sekali. Ibaratnya, sama seperti kasus perampokan atau pencurian di gerai minimarket, misalnya. Selama tidak ada kejadian ya biasa-biasa saja, orang bisa belanja di gerai tersebut, malah beberapa gerai ada yang buka 24 jam.

Tapi, setelah terjadi pencurian atau perampokan baru ngeuh kemudian pasang CCTV, dijaga satpam, tidak boleh buka 24 jam, dan lain-lain. Kembali ke masalah peristiwa AirAsia QZ8501. Seyogianya, saat ini menjadi momen yang tepat untuk memperbaiki sistem penerbangan kita, dari standar pesawat, jadwal penerbangan, aturan-aturan yang harus ditepati oleh maskapai penerbangan, semuanya harus jelas.

Jangan ambigu, seperti laporan cuaca sebelum terbang yang diributkan, harus mengambil dari BMKG atau cukup unduh di internet saja. Nah, sama halnya dengan transportasi di laut. Jangan setelah kapal tenggelam baru ribut bahwa sekoci penyelamat tidak berfungsi, pelampung kurang, kapal kelebihan beban, dan lain sebagainya. Begitu pun dengan kereta api, bus, dan transportasi massal atau umum lainnya.

Tentu, hal ini diharapkan sudah menjadi catatan khusus bagi Kementerian Perhubungan. Terutama di awal tahun, sudah mengagendakan untuk membenahi semua moda transportasi di negeri ini. Sudah saatnya rakyat Indonesia menikmati layanan transportasi yang memadai.

Ya, sekarang bayangkan jika sidang pembaca adalah keluarga korban AirAsia QZ8501, lantas di tengah harap-harap cemas, gelisah tak menentu, perasaan sedih yang mendalam, lalu malah disuguhi berbagai hal yang sebenarnya kurang patut dibicarakan di tengah suasana duka.

Tak ada jeda-kah untuk sekadar menunggu evakuasi para korban terlebih dulu, lalu baru membahas atau mengungkap hal lain yang melingkupinya? (*)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (7/1/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved