Sorot

Kabayan Pun Ingin Tes Urine

BELAKANGAN, tes urine juga digunakan untuk mendeteksi kehamilan serta zat-zat narkoba.

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

TES urine biasanya digunakan perusahaan bagi para karyawan baru untuk menjalani prosedur penerimaan karyawan baru. Pada umumnya, tes urine meliputi deteksi keberadaan zat-zat yang seharusnya tidak terdapat dalam urine. Misalnya, protein, zat gula, bakteri, kristal-kristal tertentu dalam jumlah yang besar.

Belakangan, tes urine juga digunakan untuk mendeteksi kehamilan serta zat-zat narkoba. Lebih dari itu, tes urine juga mulai diberlakukan di instansi pemerintahan maupun dewan, bahkan pesohor negeri ini. Tak lain, pengujian urine dilakukan untuk memastikan yang bersangkutan itu terbebas dari penyalahgunaan narkoba.

Senin (22/12/2014), tercatat 70 anggota Dinas Penanggulangan dan Pencegahaan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung menjalani tes urine. Petugas DPPK yang diperiksa mulai pejabat struktural sampai anggota biasa satu per satu menyerahkan air seni.

Kepala DPPK Ferdi Ligaswara mengungkapkan, tes urine tersebut dilakukan untuk menjadikan petugas DPPK menjadi teladan bagi masyarakat. Mereka tidak mengonsumsi penyalahgunaan narkoba dan berharap menjadi petugas DPPK Juara.

Di lain tempat, di Cianjur, Selasa (25/11/2014), dari 51 anggota dewan ada enam yang mangkir tes urine yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Cianjur. Mereka terdiri atas dua wanita dan empat laki-laki. Mangkirnya keenam wakil rakyat tersebut hingga kini masih menuai banyak pertanyaan sejumlah pihak.

Di tengah euforia tentang tes urine di instansi pemerintah, sebelumnya pada Agustus 2013 Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Prabumulih, Sumatera Selatan menggulirkan rencana tes keperawanan untuk siswi SMA sederajat. Bukan tes urine. Bahkan, dana tes tersebut akan diajukan pada APBD 2014. Rencana itu pun langsung mendapat reaksi dan kecaman dari berbagai pihak di seluruh Indonesia.

Salah satunya dari Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Tenggara, Dr Abdullah Alhadza yang lebih dukung dilaksanakan tes urine bagi kalangan pelajar ketimbang tes keperawanan karena peredaran narkoba meningkat dan pengguna juga kalangan siswa. Kasus narkoba menjadi keprihatinan bangsa Indonesia.

Balik ke masalah tes urine, penulis jadi ingat cerita Kabayan yang justru malah ingin sekali melakukan tes urine. Ini hanya rekaan, entah dari mana asal muasalnya. Begini. Diceritakan, si Kabayan mampir ke klinik buat ngetes darah. Siapa tahu Kabayan kolesterolnya tinggi, karena di kantor sudah beberapa orang temannya dideteksi punya kolesterol tinggi.

Tidak disangka dan tidak diduga yang menerima itu susternya cantik dan seksi. Kabayan jadi lupa Iteung, isterinya di rumah. Setelah duduk di meja, tangan Kabayan dipegang sama suster tersebut. Dan sempat kaget saat menatap dalam-dalam suster itu karena jari tengah Kabayan setahu bagaimana dicocok pake jarum. Terus beberapa tetes darah ditaruh di tester.

Setelah itu suster ingin membersihkan sisa darah yang ada di jari, dicarinya tisu, eh nggak ada. Kapas ngga ada juga, tanpa pikir panjang suster memasukkan jari Kabayan di mulutnya terus diisap. Melihat itu Kabayan bengong terus tanpa pikir panjang dia nyeletuk, "Boleh tes urine sekalian nggak sus?" (Dicky Fadiar Djuhud)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (23/12/2014). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline. 


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved