Teras

Potong Rancatan

POTONG rancatan. Maknanya adalah kehilangan orang yang jadi jembatan dalam menyebarkan pentingnya kebudayaan Sunda dan Islam ke khalayak lebih luas.

Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

TIDAK perlu dekat secara fisik untuk merasa kehilangan seseorang. Terlalu banyak contohnya. Kita pernah  merasa kehilangan seseorang, padahal secara fisik sangat langka bertemu. Atau mungkin sama sekali tak pernah bertemu, tapi begitu ia tiada, kita kehilangan.

Seperi itulah kehidupan manusia. Kadang kita merasa didekatkan secara emosional karena intensitas pertemuan secara fisik. Dengan ayah, ibu, istri, suami, anak-anak, cucu dan saudara- saudara. Dengan mereka pasti kita merasa dekat, dan begitu mereka meninggalkan kita, pasti akan merasa sangat kehilangan.

Tampaknya Tuhan memberi kelebihan pada manusia. Tidak jarang dengan seseorang sangat langka bertemu, atau bahkan tidak pernah bertemu, tapi begitu ia tiada, tetap merasa kehilangan.  Mungkin itulah salah satu anugrah dari yang Maha Kuasa. Bahwa manusia itu bisa saling bertemu bukan lantaran secara fisik saja. Tapi secara intelektual. Dan pada akhirnya, ada ikatan emosional Seakan-akan ia jadi seorang ayah, atau ibu, kakak, atau saudara.. Kita akan mengenangnya ketika ia tiada.

Saya bertemu dengan Prof Dr Chaedar Alwasilah MA bisa dihitung dengan jari. Pertama kali bertemu pada saat Konferensi Internasional Budaya Sinda (KIBS) pertama awal tahun 2000. Waktu itu ia sebagai ketua panitia, sedangkan saya sebagai peserta dan peliput. Pertemuan kedua pada KIBS kedua yang diselenggarakan tahun 2011. Lagi-lagi ia sebagai panitia pengarah. sedangkan saya sebagai moderator.

Pada pertemuan kedua inilah ada pengalaman menarik. Menjelang penutupan KIBS kedua itu, Prof Chaedar memanggil saya ke salah satu ruangan. "Yi, bantuan Akang ngadamel rumusan KIBS," katanya. Tentu saja saya kaget dan menolak secara halus, dengan alasan saya bukan anggota tim perumus. "Tos lah, pokona bantuan Akang, Akang percaya ka Ayi, sok maca seratan Ayi," katanya dengan mantap tanpa ragu. Karena kepercayannya, maka saya akhirnya luluh ikut bersamanya membantu membuat rumusan KIBS II. Saya hanya bertanya-tanya, bagaimana ia bisa percaya padahal baru sekali bertemu, itu pun tahun 2000, dan tak pernah terlibat dalam diskusi atau pembicaraan serius.

Rupanya Prof Chaedar memang seorang pembaca yang cepat dan memperhatikan orang-orang yang ia kenalnya yang suka menulis. Pada peluncuran buku "Kepemimppinan Sunda: Pengalaman dan Gagasan," di Gedung BI,2013,  kembali dipertemukan dengan Prof Chaedar Alwasilah. Saya hadir di peluncuran itu karena salah satu tulisan saya yang berjudul "Jalan Kepemimpinan" masuk ke dalam buku terebut. Menjelang acara bubar, Prof Chaedar yang duduk bersama istrinya, Dr Senny Susanna, tiba-tiba menyalami saya dan berkata, "Yi, eta seratan mani sae.." katanya. Tentu saja saya menganggap beliau hanya sekadar  memotivasi. Namun dari Hawe Setiawan saya tahu kalau beliau selalu menyebut-nyebut tulisan itu. Dari situlah saya tahu bagaimana beliau mengapresiasi sebuah tulisan, walau yang menulisnya tak dikenalnya secara fisik, jauh lebih muda, bahkan tak memiliki latar belakang adakemis sebagaimana dirinya.

Mula-mula saya mengenalnya sebagai seorang pendidik di Universitas Pendidikan Indonesia. Kemudian saya kenal lewat tulisan-tulisannya di media dan beberapa bukunya. Pada akhirnya, saya mengenal Chaedar bukan sebagai akademisi, tapi lebih sebagai penulis. Tulisannya yang enka, cair, jauh dari kesan berat sebagaimana ditulis seorang akademisi, menunjukkan ia ingin berkomunikasi dengan masyarakat luas, bukan dengan kalangan akademisi selingkungannya. Karena itu tema-tema yang diangkatnya pun beragam, mulai dari pendidikan, kebudayaan Sunda, dan Islam. Salah satu bukunya yang mencerahkan ia tulis dalam bahasa Inggris, karena memang tulisan itu sebelumnya dimuat di koran The Jakarta Post, berjudul "Islam, Culture dan Education: Essay on Contemporary Indonesia". Tulisan itu setidaknya mengkomunkasikan kepada pembaca berbahasa Inggris - biasanya koran itu dibaca eksptariat - bahwa Islam itu ramah, penuh toleransi, dan budaya lokal itu merupakan fondasi kebudayaan nasional.

Pada Selasa Desember pukul 20.00 mendadak saya ingin menengok Prof Chaedar di RS Al Islam, karena siangnya menerima kabar beliau pindah dari RS Santosa. Pada saat sampai di rumahsakit, saya kaget karena melihat istrinya menangis, keluarganya sibuk menghubungi melalui ponsel bahwa Proif Chaedar baru saja meninggal. Saya tertegun. Maksud untuk menengok, namun sekitar semenit lalu beliau sudah pergi. Padahal saya membayangkan beliau sambil berbaring lalu berbincang tentang sebuah judul buku. Kebiasaannya membaca tak pernah terhenti hanya karena sakit. Sambil berbaring cuci darah pun ia selalu membaca buku.

Bukan hanya keluarganya, kerabatnya, koleganya yang kehilangan. Tapi kebudayaan dan masyarakat Sunda ikut kehilangan. Potong rancatan. Maknanya adalah kehilangan orang yang jadi jembatan dalam menyebarkan pentingnya kebudayaan Sunda dan Islam ke khalayak lebih luas.  Beliaulah seorang akademisi yang mengajarkan kepada siapa pun untuk berpijak pada kebudayaan Sunda, berpijak pada agama,  untuk selalu membaca. Tendy Somantri, mengatakan, Prof Chaedar adalah sosok pakar bahasa Inggris yang mengajarkan pada anak didiknya untuk menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia.Banyak memang  akademisi Sunda, artinya orang Sunda yang jadi akademisi berlimpah ruah. Tapi akademisi yang nyunda, nyaah ka Sunda, sangat langka, dan Prof Dr Chaedar Alwasilah  adalah sosok langka setelah Prof Dr Edi Ekadjati. (Cecep Burdansyah)

Naskah Teras ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (15/12/2014). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved