Sorot

Pileuleuyan Bu Een

Kini, guru kalbu itu telah tiada. Namun, semangat, ketulusan, dan kegigihannya dalam dunia pendidikan akan terus membekas, dan menjadi inspirasi.

Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi

DI tengah hiruk pikuknya pro kontra penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 yang belakangan mulai memicu masalah baru, kabar duka berembus dari Sumedang. Een Sukaesih, guru pejuang yang sejak Rabu (10/12) terbaring koma di RSUD Sumedang, meninggal dunia, kemarin, sekitar pukul 15.20 dalam usia 51 tahun. Tuhan yang Mahapenyayang menyudahi perjuangannya melawan radang sendi ganas (rheumatoid arthristis) yang membuatnya lumpuh selama puluhan tahun ini.

Nama Een pertama kalinya saya kenal, Desember tujuh tahun lalu. Saya ingat, itu tanggal 11. Sahabat wartawan dari Sumedang mengirimkan kisahnya yang membuat seisi yang hadir di ruang rapat redaksi ketika itu tercekat.

Dalam kisahnya yang kemudian dimuat di harian ini keesokan harinya, ia bercerita tentang perjuangan Een yang berpuluh tahun, dalam keadaan lumpuh, tetap mengajar sambil terbaring di tempat tidur di rumahnya yang kecil di Batukarut, Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Sumedang. Ia tak pernah meminta imbalan, karena baginya, bisa setiap hari berada di antara murid-muridnya yang banyak adalah sesuatu yang tiada harganya, yang tak akan dilepasnya untuk apa pun sampai maut menjemputnya.

Perjuangan tanpa pamrih inilah yang kemudian menarik perhatian banyak orang,  tak terkecuali Presiden RI ketika itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tahun lalu, saat masih menjabat sebagai presiden, SBY mengundang Een ke Istana Negara. Beberapa bulan setelahnya, SBY dan Ibu Negara bahkan menyempatkan diri menjenguk Een di Batukarut di sela kunjungan kerjanya di Sumedang.

Karena kegigihan dan ketulusannya ini pula beragam penghargaan kemudian diterima Een dari sejumlah pihak. Antara lain, beasiswa dari Yayasan Supersemar, penghargaan Special Award dari SCTV, dan penghargaan khusus dari almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Juni tahun lalu.

Saat menerima penghargaan di UPI, Een menangis tersedu-sedu karena bertemu dengan dosen favoritnya saat kuliah dulu, Rektor UPI Prof Sunaryo Kartadinata dan Prof M Surya. Prof Surya lah yang kemudian menjulukinya sebagai guru kalbu.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pendidik, Een yang sempat lulus CPNS ini juga pernah tercatat mengajar di SMA Sindanglaut Cirebon. Namun, setelah sebulan mengajar, lulusan  D III Fakultas Psikologi IKIP Bandung (kini Bimbingan dan Konseling/BK) itu lumpuh. Kelumpuhan ini pula yang membuat perempuan kelahiran 10 Agustus 1963 itu gagal ikut prajabatan untuk menjadi PNS.

Sejak mengalami kelumpuhpuhan tubuhnya semakin mengecil, tapi tidak semangatnya seperti yang sempat dikatakannya ketika menerima penghargaan di UPI tahun lalu.
"Yang terpenting dalam hidup harus tetap semangat, harus kuat untuk bangkit," ujarnya saat itu. "Apa yang saya lakukan hanya karena bentuk kecintaan saya pada pendidikan. Saya hanya ingin anak-anak maju dan pintar."

Kecintaan Een terhadap anak-anak didiknya ini kemudian memang terbukti selalu membuatnya kuat. Dalam keadaan sesakit apa pun, selama masih dalam keadaan sadar, yang diingatnya hanya anak-anak. Bahkan ketika terbaring koma, Rabu (10/12), kelopak matanya sempat terbuka saat dibisiki bahwa anak-anak didiknya datang menjenguknya.

Kini, guru kalbu itu telah tiada. Namun, semangat, ketulusan, dan kegigihannya dalam dunia pendidikan akan terus membekas, dan menjadi inspirasi.

"Hidup harus tetap semangat, harus kuat untuk bangkit dari keterpurukan. Alat pendidikan, selain kewibawaan dan ilmu pengetahuan itu sendiri, adalah cinta kasih atau kasih sayang..."

Pileuleuyan, Bu Een. Semoga Allah Yang Mahapengasih selalu memberikan ridha- Nya.

(Arief Permadi, Wartawan Tribun)

Sumber: Tribun Jabar
Tags
guru
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved