Sorot
Mem-Bully Wali Kota
TAPI semua baik-baik saja. Dalam artinya, mereka memaknainya secara positif. Pem-bully-an itu dianggap sebagai kritikan dan masukan yang berharga.
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
BULLYING adalah kosa kata dari Bahasa Inggris yang secara sederhana berarti mengganggu, mengancam, menggertak, atau mengintimidasi orang lain.
Biasanya menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya, berupa stres fisik atau psikis, semisal susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, atau cemas. Kebanyakan lagi, kasus bullying lebih banyak dialami anak-anak atau remaja.
Sebenarnya ada padanan kata yang semakna dalam Bahasa Indonesia, yaitu risak. Tapi begitulah, orang Indonesia, termasuk media massa, kebanyakan memakai kata bully atau bullying. Tak heran, jika beberapa hari terakhir ini, muncul berita dengan judul "Wali Kota Di-bully".
Berita itu adalah soal Wali Kota Cimahi, Atty Suharti, yang "dikeroyok" dengan komentar- komentar pedas, kritikan, bahkan hujatan, warga Cimahi di media sosial. Itu karena warga tidak merasakan kehadiran dan kinerja Atty selama menjabat sebagai pemimpin Kota Cimahi.
Fenomena merisak atau bully mem-bully pejabat, bukanlah hal baru. Saat menjabat presiden,
Susilo Bambang Yudhoyono pun tak lepas dari pem-bullly-an oleh para aktivis dunia maya (cyber bullying).
Begitu pula, Ani Yudhoyono, saat itu ibu negara, sering di-bully di media sosial Instagram. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, yang lekat dengan dunia media sosial pun pernah mengalami hal serupa.
Tapi semua baik-baik saja. Dalam artinya, mereka memaknainya secara positif. Pem-bully-an itu dianggap sebagai kritikan dan masukan yang berharga.
Jika hari-hari ini masyarakat Kota Cimahi lebih suka menumpahkan unek-unek dan kritikannya soal kinerja Wali Kota mereka, lewat media sosial, tentu bisa dimaklumi.
Bukankah Kota Cimahi itu Kota Siber (Cyber City)? Tentu para pejabat dan warganya sangat familiar menggunakan internet (sebagai basis siber). Tentu pula mereka piawai dan tak gagap dalam memainkan Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain sebagai platform komunikasi di dunia siber.
Bagaimana pula dengan pesan pendek (SMS)? Sepertinya itu berada di kasta terbawah komunikasi dunia siber.
Melalui media sosial, warga bisa berinteraksi sedemikian rupa, seakan-akan berada di ruang yang sama, padahal terpisah jarak dan waktu. Kemacetan di daerah Cimindi dan Leuwigajah langsung cepat diketahui warga Cimahi begitu melihat unggahan status warga lain yang kebetulan terjebak di daerah itu.
Atau ketika banjir setinggi lutut di perempatan Prapatan Cihanjuang-Jalan Amir
Machmud, warga pun rajin mengunggah foto-foto banjir dan pengendara motor yang terjebak di genangan air, sehingga mencari jalan alternatif menghindari kawasan banjir tersebut.
Begitu juga dengan bullying, begitu mudah tercetus dan tertulis sekaligus terpampang dan dibaca publik.
Ketika curahan hati soal ketidakbecusan atau ketidakhadiran pemimpin di tengah masyarakat terungkap, sangat mungkin itulah sesungguhnya suara warga. Mereka merasa ada saluran komunikasi yang tersumbat, suara mereka tak bisa didengar pemimpin, sehingga hanya bisa disuarakan di dunia maya.
Mereka menginginkan pemimpin yang dekat bersama mereka, berada di tengah-tengah mereka. Pemimpin yang begitu mudah menyapa rakyatnya, walau hanya sebuah cuit ringan "Selamat pagi, wilujeng enjing, warga Cimahi" di Twitter dan Facebook, seperti wali kota tetangga yang akrab dengan warganya.
Jika seorang pemimpin sudah berada di hati rakyatnya, ada atau pun tidak ada kehadirannya secara fisik, masyarakat akan tetap merasakan kehadirannya. (Machmud Mubarok)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (3/12/2014). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabar.