Sorot

Perawat Jarang Senyum

SELAMA ini, RSUD milik pemerintah itu memang terkenal dengan para perawatnya yang bermuka masam.

Penulis: Arief Permadi | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

TAK pernah disangka, senyuman para perawat ternyata mampu membuat Bupati Garut, Rudy Gunawan, gundah. Kemarin, saat berpidato pada apel pagi di Lapangan Sekretariat Daerah Garut, kegundahan itu ia ungkapkan terang-terangan. Para perawat di RSUD Garut, keluhnya, sudah sulit sekali tersenyum.

Namun, jika Anda warga Kabupaten Garut, dan lama tinggal di sana, Anda mungkin bisa mengerti kegundahan ini. Selama ini, RSUD milik pemerintah itu memang terkenal dengan para perawatnya yang bermuka masam.

Setidaknya, begitulah rumor yang terdengar di luaran. Namun, tentu saja, jadi tak main-main lagi jika yang menyinggungnya sudah orang nomor satu di Garut. Bupati pasti tak sembarangan bicara.

Bupati mengaku kerap menerima keluhan dari pasien atau keluarganya karena kekurangramahan pelayanan para petugas di RSUD tersebut.

Bupati bahkan mengatakan, sembilan fraksi di DPRD Kabupaten Garut bahkan juga sudah terang-terangan menyatakan kekecewaannya terhadap pelayanan RSUD ini. Para petugas di RSUD Garut, katanya, terkenal judes dan sangat sulit tersenyum.

"Padahal remunerasinya sudah puluhan juta rupiah. Mereka lupa bahwa RSUD merupakan bagian dari Pemerintah Kabupaten Garut. Walaupun mengelola keuangan sendiri, mereka tetap PNS," katanya (Tribun Jabar, Selasa 18/11/2014).

Dengan banyaknya keluhan ini, kata Bupati, tindakan tegas tentu akan ia berlakukan. Bupati mengancam akan secepat-cepatnya merotasi pejabat, dokter, perawat, atau petugas lainya, dari RSUD dr Slamet Garut ke puskesmas terpencil atau pelosok jika masih bersikap mahal senyum kepada pasien atau keluarga pasien.

"Kalau masih susah senyum kepada pasien, akan saya rotasi segera ke pelosok, ke Talegong atau Cimari di ujung sana." Saya kira Bupati sungguh-sungguh.

Kesungguhan Bupati dalam menyikapi masalah ini tentu bukan hal sulit untuk kita pahami. Meski terkesan remeh temeh, soal senyuman adalah hal yang sungguh serius. Bagi para pasien dan keluarganya, senyum adalah semangat, tanda penerimaan, dan itu sungguh teramat berarti. Sampai di sini, tindakan Bupati, selayaknya kita dukung.

Namun, di sisi yang lain, tentu tak akan ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Jika para perawat, dokter, atau petugas RSUD lainnya menjadi jarang sekali senyum pasti juga ada pemicunya. Ini pula yang seharusnya juga diatasi Pemkab Garut, selain menebar ancaman.

Hal termudah yang harus dicermati, adalah beban dan kesejahteraan yang diterima para dokter dan perawat itu saat bertugas di RSUD Garut. Ketidakseimbangan beban dan kesejahteraan sudah tentu akan menimbulkan kekecewaan. Padahal, siapa yang bisa tersenyum lepas dalam keadaan kecewa?

Ketidakseimbangan jumlah SDM dengan masyarakat yang harus dilayani, juga akan membuat kelelahan yang tak putus-putus. Ketika lelah, kita juga akan sulit sekali tersenyum. Siapa tahu, masalahnya juga di sini.

Buruknya komunikasi pegawai dengan managemen rumah sakit, juga bisa menjadi pemicu. Karena itu, ini pun harus ditelusuri tuntas. Sebab, sekali lagi, siapa tahu, masalahnya juga di sini.
Kita sepakat, pelayanan di rumah sakit, di mana pun, memang haruslah baik, dan penuh keramahan. Tapi, berharap saja tentu tak cukup karera ini, ternyata menyangkut banyak sekali hal.

Kita setuju, punishment memang harus diterapkan pada para dokter, para perawat yang sulit sekali tersenyum. Tapi, penyebab mereka sulit tersenyum, tentu juga harus diatasi. (Arief Permadi)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (18/11/2014). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabar.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved