Sorot
Cileuncang Datang, Salah Siapa?
KEMARIN, hujan baru menjelma menjadi cileuncang. Manusia belum terlambat untuk menjadi bijak terhadap lingkungannya.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
GENANGAN air hujan yang terperangkap aspal atau beton, deritanya mulai kita rasakan. Derita kian terasa berat ketika hujan deras berjatuhan di pagi hari saat masyarakat Kota Bandung dan daerah lain di Jabar hendak menuju tempat kerja, atau ketika hari mulai redup bertepatan dengan jam pulang dari kantor.
Genangan air di jalanan atau yang kerap kita sebut cileuncang akan memaksa mereka berhenti sejenak, berteduh di tempat yang aman. Karena tidak jarang, hujan datang sembari membawa angin kencang. Bagi mereka yang mengendarai mobil bisa saja terus melaju, tapi tetap dengan kewaspadaan tinggi.
Kemarin, sejumlah daerah di Kota Bandung, Cimahi, dan Garut sudah mulai dilanda Cileuncang. Padahal hujan hanya berlangsung sekitar dua jam. Pantauan wartawan Tribun di Cimahi, cileuncang terjadi di Jalan Babakan, Terusan Djulaeha Karmita, Daeng Muhammad Ardiwinata (Cihanjuang), Amir Machmud, Pesantren, dan lainnya.
Ketinggian air cukup beragam. Paling tinggi terjadi di persimpangan Jalan Daeng Muhammad Ardiwinata (Cihanjuang) - Amir Machmud sekitar selutut orang dewasa. Akibat tingginya banjir itu membuat banyak kendaraan, terutama roda dua yang mendadak mati. Agar tak mematung di genangan air, tak ada jalan lain kecuali harus mendorong kendaraan.
Cileuncang juga mengakibatkan Jalan Babakan terpaksa ditutup dan tak bisa dilintasi kendaraan.
Di Kota Bandung, cileuncang menggenani Jalan Kiaracondong, dan sebagian kecil Jalan Soekarno- Hatta. Cileuncang juga dirasakan warga Garut, terutama mereka yang melintasi daerah-daerah perkotaan Garut.
Meski sering menimbulkan banjir, hujan sebetulnya peristiwa alam yang sangat dinantikan umat manusia. Seperti kita ketahui, beberapa bulan ke belakang banyak tersiar berita tentang kekeringan lahan persawahan di sejumlah daerah di Jawa Barat akibat hari-hari tanpa hujan.
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar mencatat lahan persawahan di Jabar yang mengalami kekeringan dengan tingkat ringan seluas 3.028 hektare, tingkat sedang 588 hektare, dan tingkat berat mencapai 218 hektare. Jika petani tak bisa bercocok tanam, maka kita akan mengalami krisis pangan. Mengkhawatirkan bukan?
Kemarau juga mengganggu kehidupan para peternak karena pakan ternak mengering dan mati. Hewan ternak pun tumbuh dengan tubuh yang kurus dan tidak sehat. Masalah lain akibat kemarau adalah krisis air bersih. Banyak peristiwa di sejumlah daerah di Jabar yang melukiskan masyarakat mengantre air bersih. Sebuah truk tanki air bersih dikelilingi ratusan jerigen masyarakat.
Jadi, air hujan memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Meminjam kalimat khas, air adalah sumber kehidupan. Di banyak ayat di dalam kitab Alquran disebutkan bahwa hujan adalah berkah.
Karena dengan air hujan itu Allah Swt menumbuhkan tanaman-tanaman yang bisa dipanen oleh manusia. Hujan adalah bentuk kasih sayang Allah Swt kepada manusia karena hujan akan menghalau daerah-daerah yang tandus dan kering.
Lalu mengapa hujan yang seharusnya menjadi berkah bagi manusia malah membawa bencana? Bukan karena Tuhan tak sayang dengan manusia. Tapi manusia telah banyak melakukan kerusakan di muka bumi.
Apa? Mereka menjadikan hampir semua muka bumi menjadi bangunan. Bahkan sungai, drainase, yang mestinya berfungsi sebagai penampung aliran air, banyak ditindih bangunan.
Lalu, di manakah tempat berdiam air hujan itu? Air hujan sebagaimana firman Tuhan, seharusnya bertemu dengan tanah untuk menghidupkan banyak tanaman dan menjadi mata air. Air hujan memilih menggenangi jalanan, menggusur tanah hingga terjadi longsor, dan menjelma menjadi bencana banjir bandang.
Kemarin, hujan baru menjelma menjadi cileuncang. Manusia belum terlambat untuk menjadi bijak terhadap lingkungannya. Karena berdamai dengan lingkungan akan menghadirkan hujan yang membawa berkah. (Kisdiantoro)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (14/11/2014). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabar.