Teras
Nu Burung Manggih Panggung
ORANG yang kurang waras mendapat panggung kehormatan, namun karena kurang waras sikapnya tetap saja mereka mempertontonkan hilangnya kehormatan.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
DRAMA Drama anggota DPR membanting meja pada saat sidang paripurna menentukan pimpinan alat kelengkapan DPR disaksikan jutaan rakyat Indonesia. Tak mustahil aksi gila itu juga disaksikan masyarakat dari negara lain.
Itulah hasrat kuasa. Akal sehat dan hati nurani yang seharusnya dijadikan tumpuan dalam membangun bangsa dan negara diinjak demi kepentingan kelompoknya sendiri. Masing- masing tak ada yang mau mengalah.
Baik dari kelompok yang menamakan diri Koalisi Merah Putih maupun kelompok yang menamakan diri Koalisi Indonesia Hebat, ngotot atas nama demokrasi dan celakanyanya juga sering mengatasnamakan rakyat, masing-masing ngotot berebut kursi pimpinan.
Mereka sudah sudah kehilangan kesadaran bahwa musyawarah dalam berdemokrasi tetap harus dijunjung, karena negara kita berasaskan pada Pancasila, dimana musyawarah harus jadi solusi ketika menemui kebuntuan.
Konflik hebat yang membuat DPR terbelah sudah keterlaluan. Emosi para anggota DPR bagaimanapun dibaca oleh rakyat masih memendam api dendam pascapemilihan presiden.
Sungguh aneh, ketika Prabowo dan Hatta Radjasa serta Jokowi dan Jusuf Kalla sudah kembali ke fitrahnya sebagai warga yang telah menyelesaikan kompetisi, anggota DPR malah masih melanjutkan konflik di gedung parlemen.
Ketika pemerintah beserta kabinetnya sudah mulai bekerja dengan program-programnya yang prorakyat, DPR malah sibuk bertengkar memperebutkan kursi kekuasaan. Ketika rakyat sudah menunggu aksi nyata pemerintah, DPR malah sibuk membuat DPR tandingan yang tentunya akan menghambat pemerintah.
Inilah wajah para politisi kita yang sarat berahi kekuasaan. Aksi mereka, dalam idiom Sunda, layak disebut "nu burung manggih panggung", artinya adalah orang yang kurang waras mendapat panggung kehormatan, namun karena kurang waras sikapnya tetap saja mereka mempertontonkan hilangnya kehormatan.
Panggung kekuasaan yang mereka raih bukannya digunakan untuk menunjukkan rasa hormatnya dengan cara mengabdi kepada rakyat, malah dibuat jadi ajang perkelahian politik. (Cecep Burdansyah)
Selengkapnya, naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Minggu (2/11/2014). Ikuti pula berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan facebook: baladtribun,