Teras
Laér Létah
DALAM bahasa Sunda, ini namanya laér létah. Artinya, mudah mengucapkan sesuatu yang sebetulnya sulit untuk dikerjakan.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
PERHATIAN kita sekarang tertuju pada Istana Kepresidenan. Setelah pelantikan pada 20 Oktober, tugas Presiden Jokowi adalah memilih nama-nama untuk mengisi kursi menteri. Postur kabinet sudah disusun oleh Tim Transisi. Artinya, pekerjaan Jokowi tinggal memilih siapa yang layak untuk jadi menteri sehingga impiannya menjadikan Indonesia Hebat bisa terwujud.
Sebelum dilantik, Jokowi sempat berjanji akan mengumumkan para pembantunya itu sehari setelah pelantikan. Kenyataannya, pada Selasa 21 Oktober hingga melewati pergantian hari, Jokowi tidak mengumumkan para menterinya.
Gagalnya pengumuman nama-nama menteri itu jelas menunjukkan ada kekuatan-kekuatan yang tidak mudah dihadapi oleh Jokowi terkait nama-nama menteri.
Keesokan harinya, Rabu malam, 22 Oktober, di Dermaga Tanjung Priok ada persiapan yang melibatkan Pasukan Pengamanan Presiden. Maka berembus kabar Jokowi akan mengumumkan nama-nama kabinetnya di atas kapal di Tanjung Priok.
Lampu sorot pun sudah siap menyala. Apalagi Biro Pers Istana Kepresidenan sudah meminta wartawan untuk menuju Tanjung Priok. Namun lagi-lagi persiapan di Tanjung Priok itu hanya jadi misteri sampai sekarang. Apalagi keesokan harinya ketika dikonfirmasi wartawan, Jokowi tidak mengakui kalau ia telah membatalkan pengumuman kabinet di Tanjung Priok. Ia malah balik bertanya ke wartawan, siapa yang telah meminta wartawan untuk bergerak ke Tanjung Priok.
Misteri Tanjung Priok pada 22 Oktober kembali menunjukkan adanya kekuatan yang mengintervensi hak prerogatif Presiden dalam menentukan nama-nama pembantunya. Apalagi diwarnai kedatangan anggota Tim Transisi menemui ketua partai pengusung Jokowi. Mudah untuk menebak apa yang dihadapi oleh Jokowi.
Publik maklum bahwa penentuan nama-nama kabinet tidak mudah. Karena itulah, sejak awal Jokowi seharusnya tidak mudah mengumbar janji ke publik bahwa sehari setelah dilantik ia akan mengumumkan kabinetnya.
Dalam bahasa Sunda, ini namanya laér létah. Artinya, mudah mengucapkan sesuatu yang sebetulnya sulit untuk dikerjakan. Atau mengganggap gampang persoalan, akibatnya mudah juga mengobral janji.
Sebelumnya juga Jokowi telah laér létah. Ketika Tim Transisi, yang bertugas merumuskan postur kabinet, bekerja, ia bicara ke publik bahwa menterinya berjumlah 34 orang. Namun beberapa hari kemudian ia mengubah dan menyebutkan jumlah menterinya lebih ramping, yaitu 33 menteri.
Dan beberapa hari kemudian berubah lagi kembali ke semula, yaitu 34 menteri. Publik pasti heran, bukankah Jokowi sudah membentuk Tim Transisi yang bekerja all out merumuskan konsep kementerian dan postur kabinet?
Betul bahwa Jokowi pasti memegang asas kehati-hatian dalam menentukan pembantunya. Itu memang suatu keharusan. Buat apa tergesa-tergesa mengumumkan nama-nama menteri kalau hasilnya kelak mengecewakan.
Aturan pun memberikan peluang sampai 14 hari. Yang jadi persoalan bukan soal cepat- lambatnya dalam mengumumkan nama-nama menteri, tapi soal laér létah-nya. Publik khawatir kelemahan ini dijadikan senjata oleh lawan-lawan politiknya untuk menyerang segala kebijakannya.
Apalagi parlemen dikuasai oleh Koalisi Merah Putih.
Hati-hati itu suatu keharusan, sedangkan laér létah mencelakakan. (Cecep Burdansyah)