Rabu, 27 Mei 2026

Teras

Akur jeung Batur Salembur

BAGAIMANAPUN, pertemuan kedua tokoh tersebut ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia.

Tayang:
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

SEBAGAI warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai tinggi demokrasi dan perdamaian, kita wajib bersyukur atas peristiwa bertemunya dua tokoh bangsa, Joko Widodo dan Prabowo Soebianto, di rumah Prabowo di Jakarta, Jumat (17/10/2014).

Bagaimanapun, pertemuan kedua tokoh tersebut ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia. Sebagai dua tokoh yang bersaing memperebutkan kursi kekuasaan nomor satu di republik berpenduduk 250 juta jiwa ini, sejak pencoblosan praktis terjadi polarisasi dua kubu yang sengit dan kadang diwarnai kasar, bahkan hal itu terjadi sejak kampanye. Karena kedua tokoh ini pengikutnya banyak, tak heran persaingan keduanya merembet membawa ketegangan ke para pengikut dan pendukungnya.

Persaingan itu lebih sengit dan tegang lagi setelah kubu Prabowo tak mau mengakui kekalahannya dan membawa sengketa pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Dengan keluarnya putusan MK, kita mengira ketegangan akan cair, ternyata tidak, bahkan diikuti dengan drama pemilihan ketua DPR dan MPR yang sempat membuat limbung mata uang rupiah dan harga saham di bursa efek.

Akibatnya, masyarakat dihantui kekhawatiran bahwa ketegangan akan terus berlanjut dengan disabotasenya pemerintahan Jokowi. Para pelaku usaha dan tokoh masyarakat pun memberikan warning, baik kepada Jokowi dan Prabowo maupun kepada politisi para pendukungnya, terutama mereka yang berada di parlemen.

Alhamdulillah, ternyata Prabowo menunjukkan jiwa besarnya. Pada saat Jokowi datang ke rumahnya, tanpa disangka-sangka Prabowo memberi hormat kepada Jokowi, bahkan memberikan ucapan selamat bertugas kepada bapak presiden. Lalu diikuti saling berpelukan dan salam komando.

prabowo jowowi salam komando

FOTO: TRIBUNNEWS / DANNY PERMANA

Setidaknya, dari gestur Prabowo kita melihat bahwa kekalahan bagi Prabowo memang sesuatu yang mengecewakan, tapi hal itu tidak membuat dirinya jatuh ke perasaan sentimentil untuk larut menjauhi nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.

Sikap ksatria Prabowo layak diacungi jempol bahwa ia adalah seorang petarung habis-habisan sampai titik terakhir, setelah semua fase dilalui ia kembali menjadi warga negara yang mengesampingkan egoisme.

Seandainya sebelumnya ia kelihatan keras kepala, hal itu jangan dilihat faktor Prabowonya saja, tapi juga orang-orang sekelilingnya yang memengaruhinya.

Seperti diakuinya dalam tulisannya di Facebook, Prabowo meminta agar pendukungnya tidak mendorong dirinya menjadi individu yang mementingkan kepentingan individu dan kelompok. Pertemuannya dengan Jokowi sebagai sikap kesatria Prabowo yang ingin menunjukkan bahwa keutuhan bangsa, perdamaian, demokrasi dan pembangunan adalah prioritas. Ia sendiri akan bersikap kritis terhadap pemerintahan Jokowi.

Prabowo beri hormat kepada jokowi

FOTO: TRIBUNNEWS / DANNY PERMANA

Dalam falsafah orang Sunda, ada yang disebut akur jeung batur sakasur, akur jeung batur sasumur, akur jeung batur salembur. Akur jeung batur sakasur maknanya adalah kita harus menjaga keharmonisan di dalam rumah, dengan istri dan seluruh keluarga. Akur jeung batur sasumur maknanya kita harus rukun dan harmonis dengan tetangga selingkungan. Akur jeung batur salembur maknanya kita harus rukun dan harmonis dengan sesama warga senegara.

Prabowo dan Jokowi telah memberikan contoh yang baik kepada bangsa Indonesia agar akur jeung batur salembur. Keduanya akan dicatat dalam sejarah dan hal ini akan menjadi investasi politik yang baik bagi Prabowo dan partainya. (Cecep Burdansyah)

Selengkapnya bisa dibaca di edisi cetak koran Harian Pagi Tribun jabar, Minggu (19/10/2014). Ikuti pula berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan facebook: baladtribun.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved