SOROT

Menebak Pertemuan Nusa Dua

Pada pertemuan itu juga, sangat mungkin Jokowi "menimba ilmu" pada SBY yang selama dua periode memimpin Indonesia.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Kisdiantoro

Deni Ahmad Fajar
Wartawan Tribun

PERTEMUAN itu digelar Rabu (27/8). Tempatnya di sebuah hotel di Nusa Dua, Bali. Adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) yang jadi tokoh sentral pada pertemuan tersebut. Konon ada banyak hal penting bagi masa depan negara kita dibahas dalam pertemuan tersebut. Sayang SBY dan Jokowi menjadi pelit berkomentar seusai pertemuan itu. Keduanya juga terkesan "menyembunyikan" banyak hal, sehingga tidak banyak yang diketahui publik dari pertemuan SBY dan Jokowi di Pulau Dewata itu. Maka jangan salahkan bila kita, rakyat Indonesia, jadi bertanya-tanya sendiri dan bergosip ria.

Padahal rakyat tidak bertanya kenapa pertemuan tersebut digelar di Bali. Rakyat juga tidak peduli Jokowi harus secara khusus menumpang jet pribadi Ketua Partai Nasdem Surya Paloh untuk melakukan dialog dengan SBY. Rakyat hanya bertanya tentang hasil pertemuan itu yang tentunya ada dampaknya bagi kesejahteraan rakyat.

Baiklah, konon pertemuan tersebut digelar untuk membahas soal bahan bakar minyak (BBM) bersubsisi yang membuat panik beberapa hari terakhir karena menghilang di banyak SPBU.
Silaturahmi dan pertemuan SBY dan Jokowi di Bali tersebut, juga membahas soal transisi pemerintahan. Seperti sudah kita ketahui, sebagai pemenang pemilu presiden, Jokowi akan memimpin Indonesia mulai Oktober mendatang.

Pada pertemuan itu juga, sangat mungkin Jokowi "menimba ilmu" pada SBY yang selama dua periode memimpin Indonesia. Bila itu yang terjadi, tentu bukan hal yang tabu dilakukan. Justru, bila itu yang terjadi, apa yang dilakukan Jokowi dan SBY menjadi upaya membangun tradisi yang sehat dan baru politik Indonesia, (Tajuk Rencana Kompas, Kamis 28/8).

Dalam tajuk yang sama, disebutkan komunikasi SBY-Jokowi diharapkan tidak hanya memutus mata rantai transisi kekuasaan yang tidak mulus pada masa lalu, tapi juga kesempatan bertukar pikiran tentang apa yang harus dilakukan untuk mempercepat pembangunan bangsa dan negara.
Bila benar hal itu yang dibahas, maka pertemuan itu tidak hanya berakhir sebagai pertemuan politik. Tapi pertemuan dua negarawan yang berdialog tentang bagaimana menyejahterakan rakyat Indonesia.

Namun sebagaimana laiknya pertemuan politik, selalu ada nuansa politis yang riaknya sampai kemana-mana. Riak politis dari pertemuan SBY dan Jokowi itu, salah satunya adalah dugaan tentang adanya "transaksi" soal menteri yang akan mengisi kabinet Jokowi mendatang. Walaupun soal ini dengan tegas dibantah SBY dan Jokowi seusai pertemuan di Nusa Dua tersebut.

Ada tidaknya "transaksi" politis tersebut, kita hanya berharap Jokowi bisa benar-benar mencari sosok yang mampu bekerja untuk rakyat dalam kabinetnya. Ibarat seorang pelatih sepak bola, Jokowi harus bisa mengumpulkan pemain-pemain berkualitas untuk membangun tim yang kuat dan bisa merebut banyak prestasi. Seorang pelatih sepak bola, jangan hanya bisa mengumpulkan pemain tenar dan digaji besar tapi tidak bisa bekerja dan tidak bisa memberikan prestasi apa-apa.
Intinya Jokowi jangan salah pilih, apalagi menerima "pemain" titipan dalam membentuk kabinet di pemerintahannya.***

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved