Sorot

Merdeka

MEREKA yang di kampung-kampung terpencil itu adalah warga yang belum bisa menikmati berkah kemerdekaan.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

SELAIN di Istana Negara, peringatan hari kemerdekaan dilakukan rakyat Indonesia di seluruh wilayah negeri ini. Kemeriahan dan kegembiraan "pesta" memperingati hari kemerdekaan pun merata hingga ke pelosok wilayah Indonesia. Selain upacara, berbagai lomba dan acara hiburan digelar setiap memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa diperintah apalagi dipaksa, warga yang tidak pernah diundang ke upacara di istana bersama presiden, warga yang tidak pernah diundang mengikuti upacara bersama gubernur atau wali kota, otomatis akan menggelar upacara plus berbagai lomba dan hiburan.

Berbekal dana seadanya, biasanya hasil dari menjaring sumbangan di jalan atau sumbangan dari warga, peringatan hari kemerdekaan di tingkat RW dan RT berjalan secara meriah. Warga yang jauh dari pusat kekuasaan, setiap tanggal 17 Agustus, terlibat dan larut dalam "pesta" tahunan memperingati kemerdekaan Indonesia.

Untuk memperingati hari kemerdekaan, banyak warga yang sengaja mudik ke kampung halaman mereka. Mereka mengaku sengaja pulang kampung untuk terlibat dan mencecap kemeriahan "pesta" peringatan hari kemerdekaan.

Beberapa kawan yang biasa mudik untuk memperingati hari kemerdekaan di kampung, mengatakan "pesta" kemerdekaan di pelosok jauh lebih meriah dibanding acara yang sama yang digelar di istana, di halaman kantor gubernur atau kantor wali kota.

Seorang kawan bahkan mengatakan warga di pelosok-pelosok, mengikuti peringatan hari kemerdekaan jauh lebih tulus.

Tulus karena warga di kampung-kampung datang ke tanah lapang benar-benar untuk memperingati hari kemerdekaan, bukan karena ingin setor muka kepada siapa saja yang pegang kekuasaan.

Yang menarik, warga di kampung-kampung terpencil biasa datang ke tanah lapang untuk memperingati hari kemerdekaan tidak dengan tangan hampa. Biasanya mereka datang ke tanah lapang dengan membawa berbagai hasil bumi, makanan khas, hingga nasi tumpeng.

Semua itu mereka bawa ke lokasi perngatan hari kemerdekaan menggunakan jampana, semacam tandu kecil yang masih bisa ditemukan di beberapa wilayah di Jawa Barat.

Kemeriahan pesta kemerdakaan di kampung-kampung terpencil yang ditandai ketulusan warganya, menjadi daya tarik tersendiri sekaligus meninggalkan kegetiran. Pasalnya, mereka yang di kampung-kampung terpencil ini, umumnya termasuk warga negara yang belum sepenuhnya menikmati arti kemerdekaan. Mereka misalnya belum benar-benar bebas dari kemiskinan.

Mereka yang di kampung-kampung terpencil itu adalah warga yang belum bisa menikmati berkah kemerdekaan. Mereka misalnya masih ada yang menikmati pasokan listrik, jalan di kampung mereka adalah jalan tanah berbatu, mereka juga belum bisa menikmati pendidikan yang memadai.

Bahkan di beberapa daerah pelosok, seperti banyak diberitakan media, anak-anak harus berani menyeberangi sungai atau meniti jempatan runtuh untuk bisa sampai di sekolah. Sekolah di daerah pelosok itu, kondisinya sangat memprihatinkan di samping kekurangan tenaga pengajar.

Potret muram dari daerah-daerah pelosok tersebut makin membuat prihatin karena ternyata banyak dari mereka yang seharusnya mensejahteran rakyat, justru anteng dalam laku korup. Pada titik ini, nyata benar bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. (Deni Ahmad Fajar)

Selengkapnya, bisa dibaca di koran Harian Pagi Tribun Jabar, Senin (18/8/2014).

Sumber: Tribun Jabar
Tags
Sorot
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved