Sorot

Mudik dan Kata Maaf

BELUM ada cerita pemudik yang menggugat pemerintah atau kepolisian karena dinilai gagal menciptakan perjalanan mudik yang lancar.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

MUSIM mudik telah tiba. Ini adalah ritual tahunan yang memaksa pemerintah dan aparat keamanan bekerja keras. Lihat saja, setiap musim mudik tiba, jalan-jalan serempak diperbaiki.

Yang bergelombang diratakan, yang berlubang ditambal, di beberapa tempat pedagang kali lima ditertibkan agar tidak menyita badan jalan. Penarik becak dan delman-delman "dibersihkan" dari jalan, si abang becak dan si penarik kusir bahkan diberi pesangon dengan janji tidak menarik penumpang selama musim mudik.

Pemerintah juga menambah armada angkutan, mulai dari bus, kereta api, kapal feri, hingga pesawat terbang. Pemerintah juga memastikan kenaikan ongkos angkutan masih dalam batas wajar. Masyarakat diminta untuk melaporkan oknum awak angkutan yang berani menaikkan oskos di luar batas yang dikeluarkan pemerintah.

Sementara ribuan personel polisi diterjunkan di sepanjang jalur mudik. Mereka rela berlebaran di jalan dan menunda berlebaran dengan keluarga sampai musim mudik usai. Kerja keras berbagai pihak demi kelancaran mudik dan kenyamanan para pemudik ini, tentu patut diapresiasi.

Namun ibarat pepatah: tidak ada gading yang tak retak. Kerja keras semua pihak untuk membuat aman dan nyaman perjalanan mudik, kerap tidak bisa direalisasikan di lapangan. Kemacetan parah masih terjadi di beberapa titik dan tingkat kecelakaan masih tinggi. Ironisnya ini berulang setiap tahun.

Di beberapa lokasi, bahkan ada jembatan yang ambles. Di lokasi lainnya ada pengerjaan dan perbaikan jalan yang belum tuntas bahkan ketika musim mudik tiba. Akibatnya ya itu tadi, kemacetan yang menjadi siksaan lahir-batin itu selalu mewarnai (kalau tidak bisa disebut menodai) musim mudik Lebaran.

Untungnya pemudik juga seperti sudah kebal dengan situasi tidak menyenangkan di sepanjang jalur mudik tersebut. Sebagian dari mereka, bahkan seakan menikmati semua kendala yang menghadang di jalur mudik. Sehingga belum ada cerita pemudik yang menggugat pemerintah atau kepolisian karena dinilai gagal menciptakan perjalanan mudik yang lancar, aman, dan menyenangkan misalnya.

Pemerintah pun biasanya tidak sampai harus mengeluarkan pernyataan minta maaf untuk ketidaknyamanan yang terjadi di sepanjang jalur mudik. Padahal kemacetan dan penumpukan kendaraan itu, serta banyaknya jalan yang belum tuntas diperbaiki, tetap sebagai bentuk ketidaksiapan dan kegagalan yang seharusnya tidak terjadi lagi dan lagi.

Soal kata maaf untuk kegagalan ini, saya jadi teringat pelatih timnas Brasil, Felipe Scolari. Pelatih tim Samba ini meminta maaf dan bahkan mengundurkan diri karena merasa malu sekaligus menunjukan bentuk tanggung jawab atas kegagalan timnas Brasil di ajang Piala Dunia 2014.

Ah, saya benar-benar minta maaf karena setiap musim mudik tiba selalu mengkritisi pelaksanaan mudik yang tidak pernah mulus tersebut. Dengan kerendahan hati, saya benar-benar minta maaf. Mohon maaf lahir dan batin. (Deni Ahmad Fajar)

Selengkapnya, bisa dibaca di Harian Pagi Tribun Jabar, Sabtu (26/7/2014).

Sumber: Tribun Jabar
Tags
Sorot
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved