Teras

Cicing Dina Congo Bedil

DALAM bahasa Sunda, cicing dina congo bedil. Cicing artinya diam, dina artinya dalam, congo artinya ujung atau mulut, bedil artinya senjata.

Cicing Dina Congo Bedil
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah

KAMIS malam (17/7/2017) kita semua tersentak begitu mendengar kabar pesawat Malaysia Airlines MH17 jatuh di Ukraina. Beberapa menit kemudian kita terperanjat lagi karena pesawat komersial yang membawa 283 penumpang sipil serta 15 awak itu ternyata jatuh ditembak. Astagfirullah!

Sesak napas kita mengetahui realitas yang sulit diselami akal sehat ini. Kita tahu di Ukraina memang sudah hampir setahun terjadi pergolakan politik buntut kericuhan perebutan kekuasanan para elite politisi di sana. Namun mengapa harus menelan para pemumpang yang tak terlibat konflik apa pun di wilayah Ukraina? Para penumpang yang berangkat dari Amsterdam menuju Kualalumpur itu hendak menemui keluarga, kerabat, dan kolega untuk tujuan yang jauh dari kepentingan politik di Ukraina.

Mengapa mereka yang terlibat konflik di Ukraina tak mampu melihat dengan jernih dan saksama dalam setiap tindakan? Mengapa nafsu politik harus menjadi kabut yang menyelimuti hati mereka dari rasa kemanusiaan? Terlebih pesawat MH17 sedang terbang di wilayah udara internasional.

Para pelaku konflik di Ukraina pun seakan tak mau bertanggung jawab. Pemerintah Ukraina dan milisi pro-Rusia saling lempar tanggung jawab. Padahal, dilihat dari fakta-fakta di lapangan, pesawat MH17 itu jelas jatuh ditembak, bukan karena human error atau gangguan pesawat. Apalagi ditemukan rekaman percakapan antara anggota milisi dan intelijen Rusia.

Putin sebagai Presiden Rusia, yang ikut terlibat dalam kancah kemelut di Ukraina, mestinya ikut membantu melacak pelaku penembakan tanpa melindungi yang bersalah.

Kita betul-betul berempati pada pemerintah dan masyarakat Malaysia serta keluarga korban. Terlebih kejadian kelam ini makin menambah kelam karena baru saja Malaysia Airlines tertimpa musibah. Pesawat MH370 yang membawa 239 penumpang hilang di wilayah udara Vietnam dan sampai sekarang jadi misterius. Musibah MH370 belum terungkap, kini pemerintah dan masyarakat Malaysia harus menanggung derita lagi.

Namun sesungguhnya apa yang terjadi dengan musibah MH17 bukan hanya musibah bagi Malaysia, tapi merupakan musibah bagi umat manusia di dunia. MH17 hanyalah menunjukkan nama maskapai, tapi transportasi penerbangan merupakan milik seluruh umat manusia tanpa label apa pun.

Maka tragedi penembakan MH17 merupakan ancaman bagi umat manusia yang hidup di muka bumi ini. Di dalam pesawat yang ada adalah saudara kita sebagai manusia, tanpa membedakan asal-usul kewarganegaraan, agama, aliran politik, suku atau pun profesi. Semua yang ada di pesawat wajib mendapat perlindungan.

Peristiwa penembakan pesawat MH17 menegaskan kepada dunia bahwa sekarang kita hidup di dalam bahaya. Dalam bahasa Sunda, cicing dina congo bedil. Cicing artinya diam, dina artinya dalam, congo artinya ujung atau mulut, bedil artinya senjata.

Memang tepat gambaran peribahasa tersebut. Kita tahu di beberapa wilayah sedang terjadi konflik politik dan sudah mengarah ke pemberontakan. Selain di Ukraina, di wilayah Afrika terjadi pemberontakan dan penculikan warga sipil bahkan anak-anak oleh kelompok Boko Haram.

Di Mesir masih belum reda konflik politik, kemudian di Irak dan Suriah terjadi deklarasi kelompok radikal ISIS yang secara brutal menyerang warga tak berdosa dan fasilitas publik. Tak terhitung berapa anak-anak dan warga sipil meninggal akibat perang saudara di Suriah. Kemudian kebrutalan Israel yang berkonflik dengan Hamas harus menelan korban warga Gaza yang tak berdosa; di antaranya anak- anak.

Geopolitik dunia memang sedang dalam ancaman. Jepang dan Tiongkok pun belum mencapai kata sepakat dalam sengketa perebutan beberapa pulau di perbatasan kedua negara itu. Begitu pula Korea Utara yang suka memprovokasi Korea Selatan seakan tak pernah memaknai hidup damai. Kondisi inilah dimana kita hidup sekarang: cicing dina congo bedil.

Kondisi ini menuntut peran ketegasan Perserikatan Bangsa-Bangsa menerapkan beberapa poin peraturan. PBB mempunyai kesepakatan Protokol 1977, yang poinnya jelas menjaga masyarakat sipil yang tak terlibat konflik dari keganasan para pelaku yang sedang berkonflik di wilayah satu negara.

Namun sayang, PBB sepertinya tak mempunyai taring sehingga kita hidup benar-benar dalam ancaman bahaya. (Cecep Burdansyah)

Selengkapnya, bisa dibaca di Harian Pagi Tribun Jabar, Minggu (20/7/2014).

Penulis: cep
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved