Noda Luis Suarez

Terkuak fakta yang menunjukkan tim-tim dari Asia gagal mencatat pretasi di Piala Dunia 2014

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Deni Ahmad Fajar

Sorot
Deni Ahmad Fajar

Noda Luis Suarez
PIALA Dunia 2014 sudah merampungkan babak penyisihan grup. Tim-tim yang lolos ke babak 16 besar sudah diketahui. Tumbangnya tim juara bertahan Spanyol, tersingkirnya Inggris, Italia, dan Portugal menjadi sederet kejutan yang terjadi sepanjang babak penyisihan. Kejutan lainnya adalah lolosnya Kosta Rika dan Aljazair dari hadangan tim-tim besar yang sebelumnya diramalkan bakal berjaya di Brasil.
Keperkasaan Kosta Rika yang tergabung di Grup D, membuat Inggris dan Italia harus mengepak koper dan pulang kampung lebih awal. Aljazair lolos ke babak 16 besar mendampingi Belgia dari Grup H, setelah merontokkan Rusia yang datang ke Brasil di bawah komando Fabio Capelo.
Sedangkan Spanyol di Grup B, juga harus meninggalkan Brasil lebih awal setelah kehilangan daya sihirnya setelah dipermalukan Belanda dan Cile.
Enam belas tim yang akan mengarungi babak 16 besar adalah tuan rumah Brasil dan Meksiko (Grup A), Belanda dan Cile (Grup B), Kolombia dan Yunani (Grup C), Kosta Rika dan Uruguay (Grup D), Prancis dan Swiss (Grup E), Argentina dan Nigeria (Grup F), Jerman dan Amerika Serikat (Grup G), serta Belgia dan Aljazair (Grup H).
Dari komposisi 16 tim yang lolos dari babak penyisihan grup, terkuak fakta yang menunjukkan tim-tim dari Asia gagal mencatat prestasi di Piala Dunia 2014. Empat tim yang mewakili Asia yaitu Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Australia, semuanya rontok di babak penyisihan grup. Keempat negara dari zona Asia tersebut gagal mewujudkan mimpinya untuk bisa menembus babak 16 besar.
Selain tersingkirnya negera-negara yang kompetisi sepak bolanya diakui sebagai yang terbaik seperti Spanyol, Inggris, dan Italia, ada "kejutan" lain yang lahir di babak penyisihan grup Piala Dunia 2014. Kejutan tersebut lahir dari aksi bodoh Luis Suarez yang menggigit defender Italia, Girgio Chielinni. Akibat perbuatan tercelanya itu, Suarez dipulangkan FIFA ke negaranya. Uruguay pun akan menjalani pertandingan dengan sistem knock out di babak 16 besar tanpa striker Liverpool yang menyingkirkan Inggris dengan dua gol briliannya.
Diusirnya Suarez, membuat Uruguay harus mengandalkan Edinson Cavani dalam urusan menjebol gawang lawan. Pelatih Uruguay Oscar Tabarez juga kemungkinan akan menurunkan Diego Forlan, bomber veteran yang menghuni bangku cadangan timnas Uruguay selama babak kualifikasi grup.
Keputusan tegas FIFA yang memulangkan pemain bernama lengkap Luis Alberto Suárez Díaz itu, boleh jadi jadi kerugian bagi Uruguay. Namun kita pun pantas mengapresiasi dan mendukung FIFA yang bersikap tegas untuk tidak membiarkan tindakan barbar mencederai semangat fair play dan sportivitas yang dikandung sepak bola.
Sikap yang merusak fair play dan sportivitas juga dilakukan Pepe terhadap Thomas Mueller dari Jerman. Akibat aksi kasar dan provokatifnya terhadap Mueller, Pepe diganjar kartu merah dan Portugal digasak Jerman 0-4. Dalam pertandingan-pertandingan selanjutnya di Grup G, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan gagal menunjukkan keperkasaannya sampai akhirnya harus bernasib tragis seperti Spanyol, Inggris, dan Italia.
Suarez dan Pepe menjadi noda yang membuat pesta sepak bola paling akbar tercoreng. Ironisnya Suarez justru disambut bak pahlawan oleh warga Uruguay yang menyambut kedatangannya di Bandara Montivideo. Kenyataan ini menjadi bukti bahwa menegakkan semangat fair play dan sportivitas masih butuh perjuangan dan kerja keras. ***

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved