SOROT
Kampanye Hitam dan Doa-doa Kita
Namanya juga "pesta", selalu saja ada yang gembiranya kelewatan. Pemerintahlah yang harusnya mengingatkannya...
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
PILPRES sudah semakin dekat. Peta politik juga kian jelas, hanya dua pasangan yang akan bertarung pada perhelatan 9 Juli nanti.
Joko Widodo yang sejak awal digadang-gadang menjadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, akhirnya tampil bersama pasangan yang juga mantan cawapres pada era pertama Susilo Bambang Yudhoyono memimpin negeri, Muhammad Yusuf Kalla. Selain oleh PDIP, pasangan ini juga diusung tiga parpol lainnya, yakni Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Nasional Demokrat.
Pasangan lainnya adalah Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan mantan Menteri Perekonomian RI, Hatta Rajasa. Pasangan ini diusung oleh enam partai, yakni Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bulan Bintang dan Partai Golkar.
Partai Demokrat hingga kemarin masih belum jelas arahnya, masih memilih netral, sekalipun tak menutup kemungkinan akan mengarahkan dukungan pada saat-saat terakhir nanti.
Seperti lazimnya pesta demokrasi, geliat pilpres tahun ini juga kian terasa dengan semakin dekatnya hari H. Dukung mendukung makin santer terdengar. Kampanye hitam bermunculan, dan semakin panas terutama di media-media sosial.
I
su-isu lama, pelanggaran HAM, kembali menggelinding untuk memojokkan capres Prabowo yang diusung Koalisi Merah Putih. Tapi, Jokowi juga tak luput dari serangan. Janji-janjinya akan memimpin Jakarta hingga tuntas saat terpilih dalam Pilgub DKI beberapa waktu lalu juga kembali kerap diingatkan untuk memojokkannya, bahwa Joko bukan orang yang memegang janji.
Dan, kampanye hitam, tentu lebih hitam lagi dari dua contoh tadi. Isu yang kemudian muncul menjadi beraneka ragam, aneka kemasan. Mulai yang halus, setengah kasar, bahkan teramat kasar dan tidak kreatif.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam akun facebook-nya, Sabtu (24/5), bahkan menyebut bahwa dukung-mendukung para calon presiden dan pasangannya ini sudah menjurus pada sesuatu yang kian kasar dan tidak patut. "Jika semangatnya saling menghancurkan dan merusak, maka respek dan kepercayaan rakyat akan terganggu kepada siapa pun yang terpilih nanti," ingat Presiden.
Namun, seperti halnya kampanye putih, kampanye kreatif, atau apalah kita mau menyebutnya, kampanye yang hitam, kasar, dan legam, adalah juga bagian dari proses pembelajaran dalam berdemokrasi. Toh, namanya juga "pesta", selalu saja ada yang gembiranya kelewatan. Pemerintahlah yang harusnya mengingatkannya agar yang kelewatan itu bisa juga belajar bahwa yang ia lakukan bisa memiliki konsekuensi hukum.
Kita, sesama pendukung, tentu juga harus saling mengingatkan agar pesta ini menjadi lebih ada artinya, bukan sekadar dukung mendukung lalu usai dan hilang silaturahmi.
Dengan hanya dua pasangan yang maju, pilihan kita memang terbatas. Namun, apa mau dikata, tak ada yang sempurna sehingga menuntutnya ada hanyalah hanyalah kesia-siaan yang tak berguna.
Dengan ketidaksempurnaan ini yang bisa kita lakukan mungkin hanyalah berdoa agar siapa pun yang terpilih nanti adalah pemimpin yang terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita. Namun, pertama-tama, kita tentu harus memilih agar doa menjadi sesuatu yang hak, yang bisa kita minta kepada Tuhan untuk mengabulkannya.
Sampai di sini saya ingat ucapan seorang teman. "Mendapat pemimpin yang zalim adalah balasan karena banyak dari kita tak mau mengambil risiko untuk mau memilih..."
· ARIEF PERMADI, WARTAWAN TRIBUN JABAR