Nasib Samir Nasri
Aneh, ketika ngomong Deschamps, tiba-tiba saya jadi teringat Persib.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Deni Ahmad Fajar
Sorot
Deni Ahmad Fajar
Nasib Samir
KEJUTAN datang dari timnas Prancis yang akan berlaga di Piala Dunia 2014. Kejutaan itu adalah pernyataan pelatih Prancis Didier Deschamps yang tidak memasukkan Samir Nasri ke dalam tim asuhannya yang akan berlaga di Brasil nanti. Keputusan Deschamps "mencampakkan" Nasri, kontak memicu pro-kontra. Banyak yang menuding pelatih bernama lengkap Didier Claude Deschamps ini tidak objektif karena menutup mata atas kemampuan Nasri. Yang geram pada Deschamps punya alasan aktual, yaitu catatan Nasri yang ikut berjasa membawa Manchester City menjuarai Liga Primer Inggris tahun ini.
Tentu tidak sedikit yang mendukung keputusan Deschamps. Mereka yang mendukung Deschamps menilai pelatih timnas Prancis yang mantan bintang Juventus ini telah bersikap profesional sekaligus realistis. Dengan meninggalkan Nasri, Descahmps disebut-sebut sebagai pelatih berkarakter dan pinya sikap. Bagaimana pun tidak semua pelatih berani mencoret pemain bintang dari timnya. Untuk melakukan hal itu diperlukan keberanian dan kerelaan untuk tidak populer.
Deschamps telah memilih jalannya sendiri. Ketika pelatih kelahiran 15 Oktober 1968 meninggalkan Nasri, dia harus membuktikan di Piala Dunia 2014 di Brasil nanti. Deschamps dituntut membawa tim Ayam Jantan Prancis ke puncak prestasi tertinggi. Dan Deschamps tentu tahu tuntutan tersebut bukan pekerjaan yang mudah diwujudkan.
Namun dengan mengucapkan "no" pada Nasri, Descamps sudah mengawali kerjanya dengan bagus. Paling tidak dia sudah menunjukkan kepada dunia, termasuk kepada pecinta Nasri, bahwa dia bukan pelatih yang silau oleh nama besar yang melekat pada pemain. Deschamps bukan tipe pelatih yang gemar mengumpulkan pemain bintang untuk membentuk sebuah tim yang berkualitas dan berprestasi.
Dalam catatan Deschamps, Nasri dipastikan masuk daftar pemain yang punya kempauan di atas pemain-pemain lain yang antre untuk masuk ke timnas Prancis. Sayangnya Nasri juga masuk daftar pemain yang mental dan sikapnya buruk. Nasri misalnya tercatat bersikap tidak hormat kepada Thierry Henry di Piala Eropa 2008 dan dinilai pemain yang memimpin perseteruan kepada pelatih timnas Prancis Lauren Blanc di Piala Eropa 2012 (Kompas, Jumat 16/5).
Dengan catatan seperti itu, rasanya Nasri memang harus rela menjadi penonton ketika rekan-rekannya membela Prancis di Piala Dunia. Entah menyadari kesalahannya, Nasri langsung mempertimbangkan untuk mundur dari timnas Prancis begitu dia tidak dibawa Deschamps ke Brasil.
Pada titik ini nasib Nasri berbeda dengan Gareth Bale dan Zlatan Ibrahimovic. Bintang Wales dan Swedia ini gagal tampil di panggung Piala Dunia 2014 karena negara mereka memang terhenti di babak kualifikasi. Apa pun alasannya, banyak banyak yang menangisi nasib sial yang dialami Nasri sambil diam-diam menghujat Descahmps.
Sementara dari negeri besar seperti Indonesia yang masih bekerja keras membangun kejayaan di arena sepak bola, banyak yang merindukan sosok pelatih seperti Descamps yang berkarakter, punya sikap, dan berani memilih jalan tidak populer dengan tidak mau sekadar mengumpulkan pemain bintang di timnya. Aneh, ketika ngomong Deschamps, tiba-tiba saya jadi teringat Persib. ***