Pendidikan
Mimpi Kita, Kang Emil
Andai saja sejumlah media tak lantas kembali mem-blow up-nya saat Kang Oded berkunjung, kisah muram ini sangat mungkin akan terus terlupa.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
MERUAKNYA kembali kondisi sendu di SD Negeri Sukarela 1 dan 2 di Jalan Mekarmulya No 40, Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, beberapa waktu lalu memang menyesakkan. Sesak bukan saja karena -- tak habis pikir -- fakta memilukan yang itu terjadi di ibu kota provinsi yang tak jauh dari pusat pemerintahan. Tapi juga karena nasib getir murid-murid SD yang terpaksa harus belajar di halaman terbuka, tanpa kursi, meja, bahkan papan tulis itu sebenarnya sudah diketahui sejak 2012 silam, ketika Wakil Wali Kota Bandung saat itu, Ayi Vivananda beserta rombongan, berkunjung ke lokasi SD di wilayah timur Kota Bandung tersebut.
Saat Ayi berkunjung, kondisi SD bahkan lebih memprihatinkan. Halaman sempit tempat anak-anak belajar secara lesehan itu benar-benar terbuka. Kanopi, sumbangan seorang dermawan ketika itu masih belum terpasang. Jika hujan tiba, kelas akan segera bubar karena semua harus berteduh.
Saat Wakil Wali Kota Bandung yang baru, Oded M Danial kembali meninjaunya, beberapa hari lalu, kondisinya memang sudah sedikit lebih baik, dalam artian, setidak-tidaknya murid- murid sudah tak terlalu lagi kepanasan jika belajar siang karena sudah ada kanopi. Tapi, kondisi koridor masih seperti dulu. Jumlah ruangan kelas masih sama, empat buah, ruang WC-nya satu, sementara jumlah murid mencapai sekitar 500 orang.
Andai saja sejumlah media tak lantas kembali mem-blow up-nya saat Kang Oded berkunjung, kisah muram ini sangat mungkin akan terus terlupa. Orang tak akan ingat bahwa di tengah beragam kemewahan dan limpahan bantuan dari berbagai sumber yang diterima segelintir SD-SD favorit di pusat kota, ada SD yang nyaris terpuruk, dan kita hampir-hampir saja tak tahu.
Di Kecamatan Payileukan sendiri, permasalahan serupa, yakni jumlah murid yang jauh melebihi daya tampung sekolah, sebenarnya juga menimpa SD negeri lainnya. Namun, karena jumlah kelasnya sedikit lebih banyak, "solusi" yang dipakai bukan belajar lesehan di halaman terbuka seperti yang terjadi di SDN Sukarela, melainkan dengan membagi jadwal sekolah menjadi empat sif, pagi hingga sore secara bergilir seminggu sekali, termasuk bagi murid-murid kelas satu.
Dampak psikologis pembagian sif ini jelas tak saja dirasakan anak-anak karena jadwal main, tidur siang, les, dan jadwal mengajinya menjadi kacau balau. Jadwal para ibu mengurus keluarganya juga menjadi terganggu. Belum lagi risiko sakit karena jadwal sekolah sore pada musim hujan seperti ini otomatis membuat kemungkinan anak-anak akan pulang dan pergi kehujanan akan lebih besar.
Selain masalah infrastruktur, soal sumber daya pendidik juga menjadi PR yang harus diselesaikan dengan segera, terutama karena mulai akan diberlakukannya kurikulum yang baru di semua sekolah secara merata mulai tahun depan.
Ini menjadi masalah, karena bagi para pendidik senior, pemberlakuan kurikulum baru ini mungkin akan terasa sulit. Bukan saja karena pola mengajarnya harus berubah, paradigma berpikirnya pun harus "menyesuaikan". Seperti kita tahu, aspek kompetensi lulusan pada kurikulum baru terdapat pada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Adapun kurikulum lama, cenderung lebih menekankan kompetensi lulusannya hanya pada aspek pengetahuan.
Dengan kurikulum baru, para guru juga harus bersiap karena mata pelajaran menjadi lebih sedikit ketimbang pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Belum lagi pola tematik terpadu yang juga mengalami perubahan, atau hal-hal non teknis, seperti soal ketersediaan buku pegangan, alat-alat peraga, dan lain-lain.
Di luar itu semua, di garis depan, para pengawas dan para kepala sekolah juga harus bekerja lebih keras untuk memastikan bahwa segala sesuatunya telah berjalan pada rel yang seharusnya. Para pengawas, para kepala sekolah, termasuk juga para orang tua, tak boleh lagi terlalu toleran pada perkeliruan di dunia pendidikan ini, sekecil apapun itu. Apalagi jika sudah bersifat prinsip seperti merokok sambil mengajar di depan kelas, atau jual beli fotokopian bocoran soal ulangan, seperti yang belum lama ini juga terjadi di salah sebuah SD negeri di Kecamatan Panyileukan. (Syukurlah, sekarang bisnis oknum guru itu kabarnya sudah berhenti. Kepala SD tersebut akhirnya bertindak tegas setelah sejumlah teguran yang ia berikan sebelumnya, ternyata tak digubris. Kali ini ia menyita semua fotokopian bocoran soal yang sedianya akan dijual Rp 5 ribu per lembarnya itu).
Kita berharap, pelanggaran-pelanggaran seperti ini tak lagi terjadi di masa depan. Bandung Juara itu mimpi kita juga, Kang Emil, Kang Oded. Jadi jangan pernah ragu, kita tak boleh menyerah. Demi anak-anak kita.(*)