Rabu, 8 April 2026

Inspirasi Bisnis

Modal Rp 4 Juta, Kini Omset Batagor Hanimun Rp 300 Juta per Bulan

Kegagalan adalah guru terbaik. Mungkin itulah yang menjadi motivasi dan pelajaran hidup paling berharga bagi Angga

Penulis: M Zezen Zainal Muttaqin | Editor: Kisdiantoro

Kegagalan adalah guru terbaik. Mungkin itulah yang menjadi motivasi dan pelajaran hidup paling berharga bagi Angga Januar Kusumadinata, warga Kompleks Pharmindo, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Ia mengaku dapat mendapat memetik berbagai pelajaran dari berbagai kegagalan yang dialami oleh dirinya secara langsung maupun keluarganya.

Pria berkacamata ini bertekad dalam hati, tidak ingin mengulangi kegagalan yang pernah dirasakannya. Meski telah mencoba mengevaluasi penyebab kegagalannya, nyatanya ia kembali merasakan pahitnya kegagalan untuk kesekian kalinya.

Bahkan, kali ini, selain usahanya yang digelutinya bangkrut akibat tertipu ratusan juta rupiah, ia dan keluarganya harus sampai kehilangan rumah dan menyisakan utang besar. Yang tersisa saat itu, sekitar tahun 2006, hanya sebuah motor vespa butut dan motor bebek. Karena tidak memiliki rumah, Angga dan keluarganya saat itu, kemudian "mengontrak" sebuah ruko milik uwaknya.

Meski telah berkali-kali gagal dalam menjalankan usaha, rupanya hal itu sama sekali tak membuatnya kapok. Di ruko tersebut lah, Angga kembali memulai kehidupan barunya. Lagi-lagi ia memilih untuk berdagang.

Namun jika sebelumnya, ia memilih bisnis MLM dan konveksi, ketika itu ia putar haluan dengan mencoba peruntungan dengan berbisnis kuliner. Namun keinginannya untuk memulai usaha baru terbentur oleh persoalan modal usaha. Maklum, saat itu ia sudah tidak memiliki lagi tabungan, yang ada hanyalah utang.

Setelah mengkalkulasi kebutuhan modal untuk memulai usahanya, ia sempat menyebut membutuhkan modal sekitar Rp 10 juta. Namun setelah berkonsultasi dengan sang ayah, ia ternyata dapat memangkas semua rencana pengeluaran modal itu hanya menjadi Rp 4 juta saja.

"Ketika itu yang awalnya butuh sepuluh juta. Setelah dimarahi habis-habisan sama ayah saya, ternyata hanya butuh empat juta. Dari ayah saya, saya belajar bagaimana perencanaan dan efisiensi. Dengan empat juta ternyata cukup," kata Angga saat ditemui Tribun di rumahnya, Kamis (20/6).

Untuk merealisasikan rencana usahanya ia nekad mengajukan kredit ke Banj Jabar Banten (BJB). Padahal saat itu, ia tidak memiliki agunan apa pun kecuali motor bututnya.

"Lucunya waktu itu, motornya sedang dipakai adik saya kuliah. Saya sama orang bank sampai datang ke kampus untuk foto motor itu sebagai jaminan," kenang suami Sari Nurlina ini.

Selain menjaminkan motor bututnya, untuk meyakinkan pihak Bank agar mengucurkan kreditnya, Angga mengaku hanya "menjual" ide serta visi usahanya. Usahanya pun berhasil. Saat itu, ia menerima kredit sebesar Rp 5 juta. Lelaki yang tidak sempat menyelesaikan kuliahnya ini pun kemudian pada 7 Maret 2007, untuk pertama kalinya memulai usaha berjualan batagor dengan nama Hanimun akronim dari hangat, nikmat dan murah niaaaan.

Lambat laun usaha batagornya pun mulai dikenal warga di sekitar Kelurahan Melong dan Cijerah. Ia pun memiliki gagasan untuk memiliki sebuah mobile store atau gerai berjalan yang dapat berpindah-pindah tempat. Ia pun dengan sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk membeli sebuiah mobil bak bekas, namun masih laik pakai.

"Setelah punya mobil bak bekas, saya mulai berjualan ke daerah Kota Bandung. Saya pertama kali jualan di pasar kaget minggu pagi di daerah Batununggal. Lumayan sambutannya cukup bagus. Dari situ, saya sering jualan di sana tiap minggu," beber anak pertama dari dua bersaudara ini.

Dari berbagai interaksinya dengan banyak konsumen yang memberikan masukan maupun kritik terhadap batagor buatannya, Angga pun seolah "tersadarkan" bahwa ia harus mulai mengembangkan usahanya, tidak hanya berjualan di mobil. Ia lalu kembali mengajukan kredit ke BJB. Namun kali ini, pengajuan kreditnya tidak sesulit pertama kali ketika dia mengajukan kredit karena waktu itu usahanya sudah cukup berkembang.

"Waktu itu, saya berpikir, kalau saya punya pabrik sendiri, saya bisa meningkatkan kapasitas produksi batagor saya. Makanya saya kembali mengajukan kredit ke BJB," kata dia.

Berkat berbagai kegagalan dan kepahitan yang pernah dialaminya, di usianya yang baru menginjak 28 tahun, pria berkacamata ini kini telah menjelma sebagai seorang pengusaha muda yang sukses berkat batagor hanimun yang dibuatnya. Kehidupannya saat ini, seolah berbanding 180 derajat jika dibandingkan dengan 2006 silam di mana dia saat itu harus kehilangan berbagai harta bendanya termasuk rumah orangtuanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved