Sabtu, 2 Mei 2026

Mangga Sedonglor Menyebar Hingga ke Timur Tengah

DELAPAN puluh persen buah mangga dari Kelompok Tani Sukamulya, Desa Sedonglor, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, dikirim ke luar negeri.

Tayang:
Penulis: Tarsisius Sutomonaio | Editor: Darajat Arianto
Oleh Tarsisius Sutomonaio

DELAPAN puluh persen buah mangga dari Kelompok Tani (Poktan) Sukamulya, Desa Sedonglor, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, dikirim ke luar negeri. Sisanya, untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri.

Setidaknya, ada tiga belas negara tujuan ekspor mangga dari Sedonglor. Di Asia, mangga-mangga itu beredar di Hongkong dan Singapura. "Sejauh ini banyak yang beredar di negara-negara di Timur Tengah," ujar Ketua Poktan Sukamulya, Haerudin (52) di rumahnya di Desa Sedonglor, Jumat (24/8) siang.

Selain itu, ucapnya, dalam waktu dekat beberapa impotir Jepang mau mendatangkan mangga-mangga asal desa itu ke negerinya.

Poktan Sukamulya mengelola 25 hektare kebun mangga. Poktan ini mengirimkan hampir semua hasil panen mangga kepada seorang eksportir buah mangga di Cirebon.

Permintaan buah mangga sang eksportir, ucapnya, berkisar 1500 ton per tahun. Poktan yang dipimpin Haerudin hanya mampu menyetor sekitar 100-125 ton buah mangga per tahun. Menurutnya, 80-95 ton mangga hasil kebun poktan Sukamulya menjadi barang ekspor.

Haerudin dan kawan-kawan mematok harga mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Ia mengatakan hasil penjualan mangga ini lebih besar daripada hasil panen padi dari tanah dengan ukuran yang sama. Lelaki ini memisalkan per hektare lahan padi menghasilkan lima ton padi. Dengan asumsi harga tiap ton Rp 4 juta, petani mendapat pemasukan Rp 20 juta kotor sebelum dikurangi biaya pupuk, dan biaya lain.

"Satu hektare kebun mangga ditanami sekitar 100 pohon atau kira-kira menghasilkan setengah ton mangga," katanya.

Menurut Haerudin, setiap pohon mangga biasanya menghasilkan minimal 50 kilogram buah mangga. Itu berarti, dengan asumsi harga per kilogram mangga adalah Rp 10.000, para petani mangga bisa menghasilkan penerimaan sekitar Rp 50 juta. Perbandingan ini, lanjutnya, merupakan akumulasi hasil panen dua komoditi itu per tahun.

Ia mengakui tidak mudah untuk meraih hasil seperti itu karena harus memastikan tahapan-tahapan proses sampai mangga itu berbuah tak ada yang terlewati. Namun, biaya perawatan 25 hektare kebun mangga itu cukup murah yakni sekitar Rp 15 juta setiap tahunnya.

Secara keseluruhan, Kecamatan Sedong memiliki 400 hektare kebun mangga gedong gincu. Kebun- kebun mangga gedong gincu itu tersebar di delapan desa, termasuk Sedonglor, dari total sepuluh desa di Kecamatan Sedong.

Sebenarnya, penghasil mangga sedong gincu itu tak hanya berada di Kabupaten Cirebon, melainkan juga di beberapa tempat di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka. Menurut Haerudin, ada perbedaan buah mangga gincu di tiga daerah yang berbeda itu. Di Indramayu, buahnya kecil tapi manis.

Mangga gedong gincu di Majalengka berukuran besar, tapi merah pada buahnya agak pucat. "Mangga gedong gincu di Cirebon berukuran sedang. Rasanya ada yang manis dan ada yang asam," katanya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved