Senin, 8 Juni 2026

Nilai Sportivitas

KALAU tidak kalah, ya seri atau menang. Begitu hukum dalam pertandingan. Semuanya bisa terjadi. barat kehidupan yang ujungnya tidak pernah

Tayang:
Penulis: Januar Pribadi Hamel | Editor: Darajat Arianto
* Januar P Hamel, Wartawan Tribun

KALAU tidak kalah, ya seri atau menang. Begitu hukum dalam pertandingan. Semuanya bisa terjadi. Ibarat kehidupan yang ujungnya tidak pernah kita tahu seperti apa.

Pertandingan adalah panggung kecil dari hiruk pikuknya dunia. Semua peristiwa yang berakhir suka, atau duka tergambar di sana. Begitu juga tangis, dan tawa bakal mewarnai perputaran dunia yang tak pernah berhenti sekejap pun.

Dua-duanya, dalam pertandingan, maupun di dunia nyata, sama-sama indah. Kemenangan bakal berbuah tawa, dan kekalahan bakal berbuah tangis. Dan, tawa dan tangis sama indahnya kalau di dalamnya terkandung nilai-nilai spotivitas.

Nilai-nilai sportivitas lah yang menjadi pembeda kala orang menikmati akhir pertandingan. Takkan ada protes ketika mereka kalah, dan takkan jumawa ketika berhasil meraih kemenangan. Keduanya bakal beriringan, bersalaman, saling memberi selamat.  Yang kalah mengucapkan selamat kemenangan bagi pemenang, dan yang menang memberikan semangat pada yanga kalah.

Setelah itu, ketika ada kesempatan lagi untuk bertanding keduanya fight kembali. Di lapangan keduanya bak musuh bebuyutan yang haus kemenangan. Hebatnya, pertandingan meski berjalan panas, nilai-nilai sportivitas tetap ditegakkan. Tak ada kecurangan, tak ada trik, dan tak ada uang mewarnai pertandingan itu. Semuanya berjalan sesuai aturan.

Ketika petandingan itu berakhir, tak ada lagi dendam. Mereka lalu mengevaluasi diri, mengapa menang, atu mengapa kalah. Pertandingan itu benar-benar berakhir, tanpa ada protes, apa lagi anarkis, merusak membabi buta tanpa mempedulikan kepentingan bagi orang lain. Itulah nilai sportivitas yang seharusnya berlaku juga dalam kehidupan nyata.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), sportivitas itu berarti sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri.

Sportivitas harusnya tak hanya berlaku dalam dunia olahraga. Sportivitas harusnya menjadi dasar juga dalam kehidupan sehari-hari. Semua profesi, bukan hanya untuk seorang atlet, tapi juga untuk guru, pedagang, pegawai, polisi, tentara, politikus, dan para pejabat.

Dalam olahraga, jika tim atau atlet yang tak sportif jelas hukumannya. Juventus misalnya, salah satu klub sepak bola besar di Italia, harus merelakan gelarnya dicopot, kemudian harus turun kelas dari Serie A ke Serie B, karena diduga melakukan pengaturan skor.

Contoh lainnya ketika bintang atletik AS, Marion Jones mengaku telah menggunakan doping saat berlaga di Olimpiade Sydney pada 2000. Di sana Jones meraih medali emas untuk nomor 100 meter putri, 200 m putri, serta perunggu di nomor lompat jauh. Dia harus melepaskan gelarnya itu. Jones menangis dalam pengakuannya. Kini dia menyadari betapa salah apa yang telah dilakukannya.

Masih banyak contoh lain dalam dunia olahraga betapa yang tidak sportif pada akhirnya harus menyingkir. Rela menerima  hukuman karena konsekuensi perbuatannya.

Bagaimana dalam kehidupan nyata? Jika nilai-nilai sportivitas benar-benar tertanam dalam diri siapa pun, mereka yang tidak sportif bakal tersingkir dengan sendirinya karena merasa bersalah telah berbuat curang. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved